Oleh: Israr Itah, jurnalis Republika.co.id.
REPUBLIKA.CO.ID, Piala Dunia Qatar 2022 mungkin akan selalu dikenang sebagai salah satu turnamen paling kontroversial dalam sejarah sepak bola modern. Sejak memenangkan hak tuan rumah pada 2010, Qatar menghadapi tuduhan suap dalam proses pemilihan, kritik terhadap perlakuan pekerja migran, pembatasan terhadap komunitas LGBTQ+, hingga larangan mendadak penjualan alkohol menjelang laga pembuka.
- Grup I Piala Dunia 2026: Arena Pembuktian Prancis dan Generasi Emas Norwegia
- Grup H Piala Dunia 2026: Spanyol dan Uruguay Favorit Lolos
- BMO Field, Stadion yang Jadi Panggung Laga Perdana Kanada di Piala Dunia 2026
Kritik tersebut begitu masif sehingga banyak pihak memperkirakan Qatar akan gagal menyelenggarakan turnamen yang nyaman bagi peserta, suporter, maupun media. Namun ketika kompetisi benar-benar berlangsung, pengalaman banyak pengunjung justru berbeda. Infrastruktur modern, jarak antarlokasi yang dekat, transportasi yang terintegrasi, dan pelayanan yang relatif efisien membuat banyak wartawan maupun suporter mengakui bahwa pelaksanaan turnamen berjalan jauh lebih baik dibandingkan prediksi sebelumnya.
Salah satu warisan yang paling diingat dari Qatar 2022 adalah kemudahan mobilitas lintas negara. Pemegang Hayya Card tidak hanya memperoleh akses masuk ke Qatar, tetapi juga mendapatkan kemudahan memasuki Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Bagi umat Muslim, fasilitas tersebut membuka kesempatan untuk melaksanakan ibadah umrah di tengah pelaksanaan Piala Dunia. Banyak fans memilih menginap di Dubai lalu terbang pulang-pergi ke Doha, sementara suporter memanfaatkan kesempatan menjelajahi kawasan Teluk tanpa hambatan birokrasi yang berarti.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Empat tahun kemudian, ketika Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko bersiap menggelar Piala Dunia 2026, sorotan justru mulai beralih ke persoalan yang berbeda. Jika Qatar dikritik karena berbagai isu sosial dan politik domestik, maka penyelenggaraan 2026 menghadapi pertanyaan mengenai kebijakan imigrasi dan keamanan yang diterapkan terutama oleh Amerika Serikat.
Bahkan sebelum bola pertama ditendang, sejumlah laporan mengenai pemeriksaan ketat terhadap pemain, ofisial, dan delegasi dari negara-negara tertentu mulai memunculkan kekhawatiran. Alih-alih menciptakan suasana keterbukaan yang identik dengan pesta sepak bola dunia, berbagai prosedur keamanan menimbulkan kesan bahwa geopolitik sedang memasuki ruang yang seharusnya netral bagi olahraga.
Iran menjadi contoh paling mencolok. Ketegangan politik yang berlangsung lama antara Washington dan Teheran membuat delegasi Iran menghadapi situasi yang tidak dialami sebagian besar peserta lain. Berbagai laporan menyebutkan sejumlah pejabat federasi kesulitan memperoleh izin masuk, sementara pergerakan rombongan tim berada di bawah pengawasan yang jauh lebih ketat dibandingkan peserta lainnya.
Situasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Iran memilih menjadikan Meksiko sebagai basis utama selama turnamen. Dari sisi geografis, pilihan itu memang masuk akal. Namun yang lebih penting, kebijakan keimigrasian Meksiko dinilai jauh lebih ramah dan fleksibel dibandingkan Amerika Serikat.
Meksiko selama ini dikenal menerapkan aturan masuk yang relatif longgar bagi pemegang visa Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jepang, maupun negara-negara Schengen. Banyak pelancong tidak perlu lagi mengurus visa tambahan jika sudah memiliki dokumen perjalanan dari negara-negara tersebut. Pendekatan ini menciptakan kesan keterbukaan yang sangat dibutuhkan dalam sebuah ajang global.
Lumrahnya, satu negara memang memberikan banyak kelonggaran jika menjadi tuan rumah Piala Dunia. Ini agar tim peserta, ofisial, para suporter, serta jurnalis ramai-ramai datang untuk memeriahkan acara. Namun untuk AS yang arogan, hal ini tak berlaku.




