Ahli biologi Amerika, Paul Ehrlich pada tahun pada 1968 memperingatkan bahwa bumi akan tenggelam oleh "kanker kelebihan penduduk" yang memicu kelaparan, konflik, dan kehancuran sosial. Namun, lebih dari setengah abad kemudian, kecemasan global justru berbalik arah. Yang kini mengkhawatirkan banyak negara bukan lagi terlalu banyak manusia, melainkan terlalu sedikit bayi yang lahir.
Angka kelahiran kini turun hampir di seluruh dunia. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam State of World Population 2025: The Real Fertility Crisis, tingkat kesuburan global telah merosot dari sekitar lima anak per perempuan pada awal 1950-an menjadi sekitar 2,2 anak saat ini. Di sebagian besar negara maju, angka itu sudah jauh di bawah tingkat penggantian penduduk (replacement rate) sebesar 2,1 anak per perempuan.
Rata-rata tingkat kesuburan negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) kini hanya sekitar 1,46 anak per perempuan. Akibatnya, banyak negara mulai mengalami penuaan penduduk dan bahkan penyusutan populasi.
Angka kelahiran kini turun hampir di seluruh dunia.
China, yang memiliki populasi terbesar di dunia kini memasuki tahun keempat penurunan jumlah penduduk. Sedangkan Korea Selatan memiliki tingkat kesuburan terendah di dunia. Sementara Jepang, Itali, Jerman, Yunani, dan Thailand telah lama menghadapi persoalan serupa.
Banyak ekonom melihat fenomena ini sebagai ancaman serius. Sistem ekonomi modern dibangun atas asumsi bahwa selalu ada generasi pekerja baru yang menggantikan generasi yang pensiun. Ketika jumlah bayi yang lahir terus menurun, jumlah tenaga kerja menyusut, penerimaan pajak berkurang, sementara kebutuhan pembiayaan kesehatan dan pensiun meningkat.
Namun, melihat rendahnya angka kelahiran semata-mata sebagai masalah ekonomi juga terlalu sederhana. Ada banyak variabel lain yang mesti diperhitungkan.
Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa sebagian besar orang sebenarnya masih ingin memiliki anak. Yang berubah adalah kemampuan mereka untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Sekitar satu dari lima responden dalam survei global PBB tahun 2025 mengaku memiliki lebih sedikit anak daripada yang mereka inginkan karena ketidakpastian masa depan. Harga rumah yang semakin mahal, biaya pengasuhan anak yang tinggi, pekerjaan yang tidak stabil, ketimpangan gender, hingga kecemasan terhadap perubahan iklim menjadi faktor yang membuat banyak pasangan menunda atau bahkan membatalkan rencana berkeluarga.
"Kurangnya pilihan untuk memiliki anak di wilayah dengan tingkat penggantian penduduk di bawah normal merupakan bencana kemanusiaan," tulis Liz Allen, di The Conversation pada Senin (1/6/2026).
"Bagaimana mungkin kita membiarkan masyarakat menjadi begitu bermusuhan sehingga anak-anak menjadi tidak mungkin bagi begitu banyak orang yang menginginkannya?" ujarnya.
Pandangan tersebut menggeser perdebatan dari sekadar angka statistik menuju persoalan kesejahteraan sosial. Rendahnya angka kelahiran bukan hanya soal kurangnya bayi, tetapi juga tentang hilangnya rasa aman dan harapan di kalangan generasi muda.
Para peneliti menilai bonus bayi atau insentif tunai jangka pendek sering kali tidak efektif. Kebijakan seperti itu hanya mengubah waktu kelahiran, bukan meningkatkan jumlah anak yang akhirnya dimiliki keluarga.
Sebaliknya, peningkatan angka kelahiran memerlukan reformasi yang lebih mendasar: perumahan yang terjangkau, pekerjaan yang stabil, layanan pengasuhan anak yang mudah diakses, kesetaraan gender yang lebih baik, serta kebijakan iklim yang mampu memberi keyakinan bahwa masa depan masih layak dihuni.
Di tengah berbagai penjelasan tersebut, muncul hipotesis baru yang cukup mengejutkan, yaitu telepon pintar mungkin ikut mendorong penurunan angka kelahiran global.
Pertanyaan provokatif itu muncul dalam sebuah studi yang diterbitkan oleh National Bureau of Economic Research, Amerika Serikat dengan judul "Is the iPhone a Contraceptive?".
Akses terhadap iPhone berkorelasi dengan penurunan angka kelahiran sebesar 4,5–8 persen pada kelompok usia 15–19 tahun dan 3,2–6,6 persen pada kelompok usia 20–24 tahun.
Ekonom Middlebury College, Caitlin Myers dan mahasiswanya, Ezekiel Hooper, mencoba menjelaskan mengapa tingkat kesuburan di Amerika Serikat turun sekitar 22 persen sejak 2007. Awalnya, banyak peneliti menghubungkan penurunan tersebut dengan krisis keuangan global 2008. Namun, ketika ekonomi pulih, angka kelahiran tidak ikut bangkit.
Myers dan Hooper kemudian memanfaatkan fakta bahwa pada masa awal peluncurannya, iPhone hanya tersedia melalui jaringan AT&T (American Telephone and Telegraph Company) di Amerika Serikat. Mereka membandingkan wilayah yang memiliki cakupan AT&T hampir menyeluruh dengan wilayah yang hampir tidak memiliki akses.
Hasilnya menunjukkan, akses terhadap iPhone berkorelasi dengan penurunan angka kelahiran sebesar 4,5–8 persen pada kelompok usia 15–19 tahun dan 3,2–6,6 persen pada kelompok usia 20–24 tahun. Penurunan yang lebih kecil juga terlihat pada kelompok usia yang lebih tua.
Para peneliti menekankan bahwa telepon pintar bukan satu-satunya penyebab. Namun, mereka menyimpulkan bahwa kemunculan telepon pintar "memainkan peran besar dalam penurunan angka kelahiran di Amerika Serikat setelah 2007."
Alasannya, semakin banyak waktu yang dihabiskan di layar, semakin sedikit interaksi tatap muka. "Seiring meluasnya penggunaan telepon pintar, waktu yang dihabiskan bersama pasangan secara langsung dan aktivitas seksual menurun tajam, sementara konsumsi pornografi meningkat," tulis Myers.
Temuan serupa muncul dalam penelitian ekonom Carl H. Lindner College of Business, Nathan Hudson dan Hernan Moscoso Boedo dalam naskah pracetak di Social Science Research Network pada 5 Mei 2026. Mereka menganalisis data dari 128 negara dan menemukan bahwa penurunan angka kelahiran cenderung semakin cepat setelah smartphone digunakan secara luas.
Fenomena tersebut muncul di negara-negara dengan kondisi ekonomi, budaya, dan sistem kesejahteraan yang sangat berbeda. Menurut mereka, hal itu menunjukkan adanya "guncangan teknologi global yang umum."
Meski demikian, sejumlah akademisi tetap skeptis. Angka kelahiran remaja di Amerika Serikat, misalnya, sudah menurun sejak awal 1990-an, jauh sebelum telepon pintar ditemukan. Karena itu, telepon pintar kemungkinan merupakan salah satu faktor di antara banyak faktor lain yang saling berinteraksi. Faktor lain yang kerap disebut adalah meningkatnya pencemaran yang mengganggu kesuburan manusia.
Indonesia hingga saat ini belum menghadapi krisis demografi sedalam Jepang atau Korea Selatan, tetapi tanda-tandanya mulai terlihat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan total fertility rate (TFR) Indonesia turun dari sekitar 5,6 anak per perempuan pada awal 1970-an menjadi sekitar 2,14 anak per perempuan pada Sensus Penduduk 2020. Angka ini hanya sedikit di atas tingkat penggantian penduduk.
Di kota-kota besar, tingkat kesuburan bahkan sudah berada di bawah angka penggantian. Jakarta, Yogyakarta, dan beberapa kota besar lainnya menunjukkan pola yang mirip dengan negara-negara berpendapatan menengah yang sedang memasuki fase penuaan penduduk.
Pada saat yang sama, Indonesia juga mengalami lonjakan penggunaan telepon pintar. Data berbagai lembaga riset menunjukkan tingkat penetrasi smartphone Indonesia kini telah melampaui 70 persen populasi, dengan kelompok usia muda menjadi pengguna paling intensif.
Apabila tingkat kesuburan terus turun tanpa diimbangi produktivitas yang lebih tinggi, Indonesia dapat menghadapi situasi yang kini dialami banyak negara Asia Timur
Fenomena yang ditemukan di Amerika Serikat dan berbagai negara lain karenanya patut dicermati. Bukan karena telepon pintar secara langsung menyebabkan orang enggan memiliki anak, tetapi karena teknologi digital mengubah pola interaksi sosial, relasi romantis, cara bekerja, dan cara generasi muda memandang masa depan.
Selain itu, faktor-faktor yang disebut sebagai penyebab utama rendahnya angka kelahiran juga semakin terasa di Indonesia. Harga rumah di kawasan perkotaan terus melambung. Pekerjaan formal yang stabil semakin sulit diperoleh generasi muda. Biaya pendidikan dan pengasuhan anak meningkat. Sementara itu, krisis iklim dan ketidakpastian ekonomi menambah kecemasan terhadap masa depan.
Dalam konteks Indonesia, persoalan ini memiliki dimensi ganda. Di satu sisi, negara masih menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun di sisi lain, apabila tingkat kesuburan terus turun tanpa diimbangi produktivitas yang lebih tinggi, Indonesia dapat menghadapi situasi yang kini dialami banyak negara Asia Timur, yaitu populasi menua sebelum benar-benar menjadi negara kaya.
Pelajaran dari Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok menunjukkan bahwa mendorong orang untuk memiliki lebih banyak anak tidak semudah memberikan insentif atau kampanye moral. Yang dibutuhkan bukan sekadar seruan pronatalitas, melainkan perbaikan kondisi hidup yang membuat keluarga merasa aman untuk membesarkan anak.
Pada akhirnya, rendahnya angka kelahiran bukan sekadar persoalan reproduksi. Ia merupakan cermin dari kondisi sosial yang lebih luas: keterjangkauan perumahan, kualitas pekerjaan, kesetaraan jender, kesehatan mental, hingga keyakinan bahwa masa depan akan lebih baik daripada hari ini.
Jika semakin banyak orang menunda atau mengurungkan niat memiliki anak karena merasa masa depan terlalu mahal, terlalu tidak pasti, atau terlalu menakutkan, maka krisis yang sesungguhnya bukanlah kurangnya bayi yang lahir. Krisis yang lebih mendasar adalah hilangnya harapan.





