Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini kembali mengalami penguatan.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 10 Juni 2026, rupiah hingga pukul 10.25 WIB berada di level Rp17.997,5 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 60,5 poin atau setara 0,34 persen dari Rp18.058 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.136 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.050 per USD hingga Rp18.100 per USD," jelas Ibrahim.
Baca juga: BI Kerek Lagi Suku Bunga Jadi 5,50%, Perry: Biar Rupiah Kuat dan Stabil!
(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
BI tiba-tiba kerek suku bunga
Ibrahim mengungkapkan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen Bank Indonesia (BI) yang secara tiba-tiba menaikkan suku bunga acuan, BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen.
Bank sentral beralasan, kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus satu persen yang ditetapkan pemerintah
Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.
Di sisi lain, BI juga mencatat adanya penyusutan pada posisi cadangan devisa negara menjadi USD144,9 miliar per akhir periode Mei 2026. Terjadi penurunan sebesar USD1,3 miliar jika dibandingkan dengan April 2026 yang mencatatkan level USD146,2 miliar.
Penurunan ini didominasi oleh kewajiban pelunasan utang luar negeri pemerintah, penerbitan surat utang obligasi global, serta transaksi perpajakan. Posisi cadangan devisa ini adalah yang terendah sejak Juli 2024.
Selain itu, pemerintah memberi sinyal tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru, guna untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Salah satu pertimbangan pemerintah menyiapkan stimulus adalah untuk menjaga daya beli masyarakat yang berpotensi tertekan akibat berbagai gejolak ekonomi. Selain stimulus ekonomi, pemerintah akan membahas perkembangan proyek Indonesia Financial Center (IFC) yang belakangan menjadi perhatian sebagai salah satu instrumen penguatan sektor keuangan nasional.




