Bisnis.com, JAKARTA - Bagi banyak anak muda, impian memiliki rumah kini terasa seperti perlombaan yang sulit dimenangkan. Harga properti terus bergerak naik, sementara kemampuan menabung sering kali tertinggal oleh kebutuhan hidup sehari-hari.
Dalam situasi seperti ini, Skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi pilihan yang nyaris tak terelakkan. Sayangnya, solusi itu juga menimbulkan kekhawatiran baru, mulai dari beban cicilan jangka panjang hingga ketidakpastian kondisi ekonomi yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Pertanyaan itu juga menghantui Iqbal Afrian. Seperti banyak anggota Generasi Z lainnya, ia masih menempatkan rumah sebagai tujuan masa depan yang ingin dicapai. Namun, alih-alih terburu-buru mengejar kredit, ia memilih membangun tabungan dan dana darurat terlebih dahulu.
Bagi Iqbal, tantangan terbesar bukan sekadar harga rumah yang terus naik, melainkan ketidakpastian penghasilan di masa depan. Sebab, ketika pekerjaan berubah atau ekonomi memburuk, cicilan tidak punya kompromi untuk berhenti menunggu.
"Sekarang masih fokus membangun tabungan dan dana darurat dulu. Kondisi ekonomi yang belum terlalu stabil bikin saya lebih hati-hati sebelum mengambil cicilan besar," katanya kepada Bisnis.
Hal serupa juga dirasakan Annisa Nur Jannah. Bagi dirinya, memiliki rumah sendiri masih menjadi salah satu tujuan yang ingin diwujudkan dalam beberapa tahun ke depan. Rumah bukan hanya dipandang sebagai aset, tetapi juga simbol kestabilan hidup dan rasa aman untuk jangka panjang.
Baca Juga
- Toko Buku Estetik Bikin Gen Z Tertarik
- Telekonsultasi Soal Kulit dan Mental Health Naik di Kalangan Gen Z
- Gen Z Diajak Melek Politik, Tangkal Hoaks dan Awasi Kebijakan Pemerintah
"Ada banget. Saat ini saya memang sedang berusaha mencari rumah sambil menabung untuk mempersiapkan uang muka, sekitar 10% dari harga rumah yang saya incar," katanya
Bagi Annisa, KPR menjadi salah satu opsi yang paling realistis untuk memiliki rumah dengan penghasilan setara UMR Jakarta. Namun, keputusan untuk mengambil KPR tidak mudah karena ia masih mempertimbangkan ketidakpastian kondisi pekerjaan yang dapat memengaruhi kemampuan membayar cicilan dalam jangka panjang.
Menurutnya, kekhawatiran tersebut turut menjelaskan mengapa banyak Gen Z lain belum menjadikan rumah sebagai prioritas utama. Dengan penghasilan yang masih terbatas dan biaya hidup yang terus meningkat, sebagian besar anak muda masih fokus memenuhi kebutuhan jangka pendek serta membangun kondisi keuangan yang lebih aman.
Akibatnya, perencanaan untuk memiliki aset jangka panjang seperti rumah sering kali harus ditempatkan di urutan berikutnya, meski keinginan untuk memiliki hunian sendiri tetap ada.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat menilai keraguan Gen Z untuk membeli rumah merupakan hal yang wajar. Sebagai kelompok pembeli rumah pertama, generasi ini umumnya mencari hunian yang sesuai dengan kemampuan finansial dan kebutuhan mereka, sehingga cenderung mengincar rumah berukuran lebih kecil dengan harga yang lebih terjangkau.
Dia lantas menyoroti data Bank Indonesia (SHPR Triwulan I 2026) yang menunjukkan penjualan rumah tapak kecil turun 46 persen secara tahunan, sementara segmen rumah mewah masih mencatatkan kinerja positif.
"Minat Gen Z terhadap rumah, sepertinya tetap ada, tetapi di tengah pola perilaku atau gaya hidup Gen Z dan harga rumah yang terus meningkat, menjadikan serapan rumah pada segmen Gen Z cukup challenging," katanya.
Jika dikaitkan dengan fenomena lipstick effect, konsumen saat ini cenderung tetap membelanjakan uangnya untuk kebutuhan atau kesenangan yang lebih terjangkau. Hal ini terlihat dari pesatnya pertumbuhan sektor makanan dan minuman (F&B), yang menyumbang hampir separuh tenant baru di pusat perbelanjaan Jakarta.
Meski demikian, Gen Z tetap menjadi pasar yang menjanjikan bagi industri hunian. Karena itu, pengembang perlu memahami preferensi, gaya hidup, serta kemampuan finansial generasi ini agar dapat menghadirkan produk rumah yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
Di sisi lain, pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang tepat agar angka backlog perumahan tidak terus bertambah di kalangan Gen Z.
Sementara itu, pengembang dituntut untuk menyesuaikan produk hunian dengan karakter generasi muda, mulai dari desain rumah, lingkungan perumahan, fasilitas pendukung, hingga skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan kemampuan mereka.
Selain produk, pendekatan pemasaran juga perlu mengikuti platform digital yang sehari-hari digunakan Gen Z. Sejalan dengan perubahan preferensi tersebut, hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik semakin diminati.
Data Knight Frank Indonesia menunjukkan bahwa pada 2025, apartemen yang berada di kawasan berbasis transit-oriented development (TOD) dipasarkan dengan harga sekitar 3–7 persen lebih tinggi dibandingkan apartemen pada umumnya.
Sarana mobilitas menjadi pertimbangan utama saat ini, tidak hanya bagi GenZ, hal ini karena harga tanah di tengah kota memiliki signifikansi pertumbuhan yang tinggi, sehingga konsumen melirik hunian di wilayah hinterland, yang relatif terjangkau, dan accessible.
Akses transportasi kini menjadi faktor penting dalam memilih hunian, tidak hanya bagi Gen Z. Tingginya harga tanah di pusat kota mendorong banyak konsumen untuk mencari rumah di kawasan penyangga (hinterland) yang lebih terjangkau, namun tetap memiliki konektivitas dan kemudahan akses yang baik.





