Bisnis.com, CIREBON - Dampak perubahan iklim mulai mengganggu keberlangsungan pendidikan di wilayah pesisir Kabupaten Cirebon lantaran sekolah di pinggir pantai terancam tenggelam.
Banjir rob berulang, cuaca ekstrem, dan tekanan ekonomi yang dialami keluarga nelayan tidak hanya mengancam lingkungan tempat tinggal warga, tetapi juga memengaruhi aktivitas belajar anak-anak di sekolah.
Salah satu contoh terlihat di SDN Ambulu 3, Kecamatan Losari. Sekolah yang berada di kawasan pesisir utara Cirebon itu menghadapi ancaman banjir rob yang makin sering terjadi.
Kondisi tersebut berdampak pada lingkungan sekolah, kehadiran siswa, hingga proses pembelajaran.
Temuan itu mengemuka dari hasil kajian yang dilakukan peneliti pendidikan bersama pemerintah daerah terhadap dampak perubahan iklim di kawasan pesisir.
Kepala SDN Ambulu 3 Syaotun mengatakan kondisi cuaca dan banjir rob menjadi tantangan yang semakin sering dihadapi sekolah dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
- Dana Belum Cair, Dapur MBG di Cirebon Tak Lagi Mengepul
- Izin Praktik Apoteker di Cirebon Dibatasi, Asosiasi Ajukan Keberatan
- Bupati Cirebon Tak Buka Ruang Revisi Nilai Proyek Imbas Nilai Tukar
Saat genangan air pasang memasuki lingkungan sekitar sekolah, aktivitas warga terganggu dan berdampak pada mobilitas siswa. Pada saat cuaca buruk, tingkat kehadiran siswa juga cenderung menurun.
"Anak-anak yang rumahnya berada di wilayah terdampak rob sering mengalami kesulitan untuk berangkat ke sekolah ketika kondisi cuaca memburuk," kata Syaotun, Rabu (10/6/2026).
Selain menghambat akses menuju sekolah, situasi tersebut turut memengaruhi kesiapan belajar siswa.
Sebagian besar orang tua murid bekerja sebagai nelayan atau menggantungkan penghasilan dari sektor kelautan yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Ketika cuaca ekstrem terjadi dan hasil tangkapan menurun, tekanan ekonomi rumah tangga ikut meningkat. Dampaknya tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga berpengaruh terhadap keberlangsungan pendidikan anak.
Peneliti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Irena mengatakan perubahan iklim tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan hidup.
Dampaknya kini mulai mengganggu sektor pendidikan, terutama di daerah pesisir yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.
Menurut dia, gangguan terhadap akses pendidikan dapat muncul melalui berbagai jalur, mulai dari kerusakan lingkungan sekolah, terganggunya akses transportasi, hingga penurunan kondisi ekonomi keluarga.
"Kasus di wilayah pesisir menunjukkan dampak perubahan iklim berpengaruh terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak," ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak lanjutan krisis iklim.
Ketika frekuensi banjir rob meningkat atau cuaca ekstrem semakin sering terjadi, risiko terganggunya proses belajar juga akan semakin besar.
Di sejumlah wilayah pesisir Indonesia, ancaman kenaikan muka air laut telah mendorong relokasi permukiman maupun fasilitas publik. Namun, isu adaptasi sektor pendidikan masih relatif jarang masuk dalam perencanaan pembangunan daerah.
Kepala Bidang Riset dan Inovasi Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Cirebon Eva Musyaerofah mengakui perlunya kebijakan berbasis data untuk melindungi kelompok rentan, termasuk anak-anak di kawasan pesisir.
"Dampak perubahan iklim terhadap pendidikan membutuhkan pendekatan lintas sektor karena persoalan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan sekolah, tetapi juga lingkungan, infrastruktur, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat," ujar Eva.
Meski demikian, hingga kini Kabupaten Cirebon belum memiliki peta adaptasi pendidikan secara khusus memetakan kerentanan sekolah terhadap dampak perubahan iklim maupun langkah mitigasi yang harus dilakukan.
Sejumlah gagasan mulai muncul, antara lain penyesuaian kalender akademik pada wilayah terdampak, pengembangan metode pembelajaran yang lebih fleksibel saat terjadi gangguan cuaca, serta penguatan pendidikan perubahan iklim di sekolah.




