JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak mengatakan, para pelaku begal takut dengan tentara. Sehingga, ketika melihat TNI, begal tidak jadi beraksi.
"Enggak, siapa yang ngurus begal? Enggak ada yang ngurus begal. Begal itu jadi takut karena ada tentara, gitu lho. Bukan ngurus-ngurusin. Ada tentaranya di tempat situ, karena ada begal, lihat tentara, nggak jadi (beraksi). Kayak gitu," ujar Maruli saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Usai Kenalan dengan Wanita, Korban Begal di Jakbar Dijebak ke Kamar Kos
Lalu, terkait TNI yang kini ikut dalam pengelolaan sampah hingga pertanian, Maruli menegaskan mereka mengerjakan hal-hal yang tidak terjangkau oleh kementerian.
Maruli menyebut, prajurit mengerjakan pekerjaan yang ada di wilayah 3T dan pulau terluar, yang pastinya tim kementerian akan memerlukan biaya besar jika pergi ke sana.
Baca juga: Mabes TNI Pastikan Prajurit Bisa Tangkap Begal, tetapi Diserahkan ke Polisi
"Misalnya daerah 3T, di pulau-pulau ya. Karena nilai project-nya enggak besar, tapi pekerjaannya perlu transportasi yang luar biasa. Nah, nanti sebentar lagi ada kegiatan kita di pulau-pulau terluar, nanti kita coba denger ininya ya, apa, beritanya," jelasnya.
"Karena nilai project misalnya Rp 200 juta, pekerjaannya di Pulau Nias gitu. Mungkin sulit mencari apa yang mendapatkan project-nya, ya coba kita bantu. Jadi nggak bukannya project itu diambil duluan baru kita milih, nggak. Yang tidak bisa dilakukan baru kita lakukan," imbuh Maruli.
Baca juga: Modus Begal Berkedok Kenalan dengan Wanita Terbongkar di Kalideres Jakbar
Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen TNI Muhammad Nas menduga pihak yang memprotes keterlibatan TNI dalam menangani aksi begal belum pernah merasakan menjadi korban kejahatan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Nas saat menanggapi kritik terhadap kehadiran prajurit TNI dalam membantu aparat keamanan menangani aksi kriminalitas, termasuk begal.
“Kembali ke masalah begal, apakah mungkin mereka yang protes ini enggak pernah jadi korban ya?” kata Nas, di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (9/6/2026).
“Begitu ada yang protes, lalu besok anaknya jadi korban begal dan kita biarkan, pasti protes lagi, salah lagi. ‘Ada TNI percuma saja, begal dibiarkan’. Karena saya pernah mengalami kalimat seperti itu. Ya mungkin yang bilang-bilang begitu, enggak pernah dibegal," ujar dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




