JAKARTA, KOMPAS – Isu buruknya kualitas beras program Bantuan Pangan dan beras cadangan pangan pemerintah yang dikelola Perum Bulog yang turun mutu, kembali mencuat. Bahkan, Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Siti Hediati Hariyadi yang akrab disapa Titiek Soeharto menyebut usia simpan 1,3 juta ton beras Bulog telah lebih dari setahun.
Hal itu mengemuka dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR dengan Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang digelar secara hibrida di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Rapat tersebut dihadiri Menteri Pertanian yang juga Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.
Dalam rapat itu, isu buruknya kualitas beras program Bantuan Pangan bagi 33,2 juta keluarga berpenghasilan rendah dilontarkan oleh anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo dan Titiek Soeharto. Mereka menyebut salah satu contoh beras bantuan pangan dengan kualitas buruk itu disalurkan di Madura.
Pada 8 Juni 2026, sebanyak 23 desa di Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur di Pulau Madura, menolak beras program Bantuan Pangan. Beras dalam kemasan kapasitas 10 kilogram itu berwarna kuning kecoklatan dan tidak layak konsumsi.
Firman mengatakan, akhir-akhir ini, masyarakat banyak yang mengeluhkan buruknya kualitas beras bantuan pangan. Salah satu contohnya seperti yang terjadi di Madura. Ini mungkin ada problem dalam memanajemen stok beras Bulog.
“Stok beras disimpan terlalu lama. Cara penyelesaiannya tidak cukup dengan mengganti beras bantuan pangan tersebut. Validasi stok juga penting,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, berdasarkan keterangan Bulog, proses keputusan pendistribusan beras program Bantuan Pangan cukup lama, yakni sekitar dua bulan. Prosesnya harus melalui Bapanas, kemudian dibahas dan diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Titiek juga turut menyinggung kejadian penyaluran beras bantuan pangan berkualitas buruk di Madura. Bahkan, ia juga sudah mengantongi data stok beras Bulog yang berusia simpan sekitar setahun hingga satu setengah tahun.
Sebanyak 1,3 juta ton sudah berusia sekitar setahun sampai satu setengah tahun.
Menurut Titiek, sejak awal, Komisi IV DPR telah mengingatkan jangan sampai stok beras di Bulog disimpan lebih dari enam bulan. Namun, saat ini, dari sekitar 5 juta ton stok beras Bulog, sebanyak 1,3 juta ton sudah berusia sekitar setahun sampai satu setengah tahun.
Di Jawa Timur, misalnya. Jumlah stok beras Bulog sebanyak 1,4 juta ton. Dari jumlah itu, sekitar 400.000 ton, usia simpannya sudah lebih dari setahun.
“Ini saya baru saja minta datanya ke staf Bapak. Jadi tidak ngarang-ngarang. Bapak mau pinjam data saya,” kata Titiek kepada Amran.
Oleh karena itu, Titiek meminta agar perputaran beras Bulog dilakukan secara cepat dan menyeleksi beras yang usia simpannya lebih dari setahun sebagai pakan ternak. Tujuannya adalah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Jangan sampai membuka peluang sebagai ‘sasaran tembak’. Ini bisa menjadi sasaran empuk,” kata Titiek.
Menanggapi hal itu, Amran mengaku sudah memanggil Direktur Utama Perum Bulog untuk meminta penjelasan perihal stok beras yang turun mutu. Ia juga sudah meminta Bulog melaporkan data beras yang telah turun mutu.
“Saya sudah panggil direktur utamanya. Saya katakan, jangan bapak yang berbuat, saya yang menanggung masalahnya,” kata Amran.
Menurut Amran, saat ini, total stok beras Bulog mencapai 5,305 juta ton. Dari jumlah itu, beras yang turun mutu dengan kategori rusak sangat sedikit sekali, yakni 3.619 ton.
Serial Artikel
Perkuat Cadangan Pangan dengan Teknologi Iradiasi
Stok pangan nasional masih jauh di bawah target. Untuk itu, teknologi iradiasi mendesak diterapkan.
Adapun beras yang turun mutu tetapi masih bisa diperbaiki kualitasnya sebanyak 93.488 ton atau sekitar 1,76 persen dari total stok beras Bulog. Saat ini, Bulog tengah memproses kembali beras tersebut agar dapat dimanfaatkan kembali.
“Saya perkirakan, sekitar 10 persen atau 9.000 ton dari total beras yang turun mutu, sudah tidak dapat diproses kembali. Kami akan proses dan jual beras itu sebagai tepung. Harganya juga masih bagus,” katanya.
Amran juga menjelaskan, saat ini, pemerintah telah mengalokasikan dana sekitar Rp 5 triliun untuk membangun 100 gudang Bulog di sejumlah daerah. Godang-gudang itu akan dilengkapi dengan teknologi modern penyimpanan pangan, sehingga membuat usia simpan beras minimal mencapai dua tahun.





