HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Super League Indonesia musim 2026/2027 menjanjikan persaingan yang lebih sengit dari sebelumnya. Absennya Bojan Hodak, yang memilih mundur dari Persib Bandung, memunculkan dinamika baru di papan atas kompetisi. Namun, kehadiran pelatih asing lain seperti Darije Kalezic di PSM Makassar, Shin Tae-yong di Persija Jakarta, dan Bernardo Tavares di Persebaya Surabaya, membuat peta persaingan menjadi lebih menarik dan penuh strategi.
Dua kata sederhana itu, “Halo Makassar,” kembali menggema. Bagi ribuan pendukung PSM Makassar, salam tersebut bukan sekadar ucapan perkenalan. Ia menandai kepulangan Darije Kalezic, pelatih asal Bosnia dan Herzegovina, yang sebelumnya pernah membawa Pasukan Ramang menorehkan sejarah penting di pentas sepak bola nasional. Kini, Darije resmi diperkenalkan sebagai pelatih kepala PSM untuk menghadapi musim baru.
Dalam video perkenalan yang diunggah melalui akun resmi klub, Darije tampak penuh antusiasme. “Saya kembali ke Makassar. Saya kembali di rumah sendiri, PSM Makassar,” ujarnya dengan senyum yang mampu membangkitkan memori manis bagi para penggemar setia. Ucapan itu bukan hanya sapaan; ia menjadi simbol dimulainya babak baru bagi klub yang tengah berupaya bangkit setelah musim sebelumnya jauh dari harapan.
Spekulasi mengenai siapa yang akan menakhodai PSM sudah lama beredar. Sejak beberapa pekan terakhir, nama Darije terus dikaitkan dengan kursi pelatih, terutama setelah manajemen memastikan bahwa klub akan kembali diperkuat pelatih asing musim depan. Kini, semua spekulasi itu resmi terjawab. Darije kembali, membawa harapan baru bagi ribuan pendukung yang selalu menanti momen gemilang Pasukan Ramang.
Kepulangan Darije bukan tanpa alasan. Ia bukan sosok asing bagi PSM Makassar. Sebelumnya, ia menorehkan pencapaian emosional dengan membawa klub menjuarai Piala Indonesia 2019, menutup dahaga gelar nasional yang telah bertahan hampir dua dekade. Gelar tersebut menjadi bukti kemampuan Darije dalam menghadapi tekanan dan membangun tim yang solid, serta menunjukkan kemampuannya memahami kultur sepak bola Makassar.
Selain prestasi, Darije dikenal sebagai pelatih yang memahami tekanan dan tuntutan suporter. Ia tahu bagaimana membangun identitas permainan yang sesuai karakter klub. Hal ini menjadi modal penting di tengah situasi PSM yang saat ini sedang berada dalam fase transisi. Beberapa pemain kunci telah meninggalkan klub, termasuk kapten sekaligus komandan pertahanan, Yuran Fernandes. Kepergian Yuran meninggalkan lubang besar yang harus segera diisi, baik di lapangan maupun di ruang ganti.
Tugas Darije kali ini bukan sekadar membangun tim kompetitif. Ia harus membangun kembali fondasi kekuatan PSM, menata strategi yang matang, dan memanfaatkan jaringan luas yang dimilikinya di Eropa dan Balkan untuk menemukan pemain asing baru yang berkualitas dan sesuai filosofi klub. Lebih dari sekadar urusan transfer, kehadiran Darije juga membawa optimisme bagi pengembangan pemain muda, salah satu karakter kepelatihannya yang paling dikenal. Nama-nama seperti Ananda Raehan dan Dimas Adi Prasetyo menjadi sorotan, karena mereka siap menapaki jenjang berikutnya di bawah arahan pelatih yang berpengalaman.
Sambutan hangat atas kepulangan Darije juga datang dari mantan anak asuhnya, Aaron Evans, yang melalui komentar di unggahan resmi klub menulis, “Welcome The Professor.” Julukan itu bukan sembarangan. Ia menggambarkan sosok pelatih yang detail, disiplin, dan memiliki pendekatan taktik kuat dalam membangun permainan tim. Respons ini menjadi bukti bahwa Darije dihormati bukan hanya karena prestasinya, tapi juga kualitas kepemimpinannya.
Namun, persaingan musim depan tidak hanya soal PSM. Persija Jakarta, beberapa hari sebelumnya, resmi memperkenalkan Shin Tae-yong, pelatih yang juga memiliki reputasi fenomenal dan pengalaman luas di level internasional. Kehadiran Shin diyakini akan membawa pendekatan taktik modern dan disiplin tinggi yang dapat menantang dominasi klub-klub besar. Sementara itu, Bernardo Tavares di Persebaya Surabaya datang dengan ambisi besar: membawa Bajul Ijo menjuarai Super League setelah musim-musim sebelumnya tampil konsisten tetapi belum mampu meraih gelar.
Dengan kombinasi ini, Super League 2026/2027 akan menjadi panggung perang taktik yang menarik. Kehadiran Darije, Shin, dan Tavares, ditambah absennya Bojan Hodak, membuat persaingan lebih terbuka dan menantang. Semua mata akan tertuju pada strategi transfer, komposisi pemain, dan bagaimana para pelatih mengembangkan talenta muda serta memanfaatkan pemain kunci mereka.
Kini, era baru bagi Super League Indonesia pun dimulai. Pasukan Ramang dengan Darije Kalezic, Persija dengan Shin Tae-yong, dan Persebaya di bawah Bernardo Tavares, semua bersiap menghadirkan duel taktik yang memikat, menjanjikan musim yang penuh drama, kejutan, dan persaingan sengit di papan atas.





