PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memutuskan menurunkan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio menjadi 70% dari laba bersih tahun buku 2025. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kebijakan dividen pada dua tahun sebelumnya yang mencapai 100% dari laba bersih.
Direktur ANTM Handi Sutanto menjelaskan, penurunan rasio pembayaran dividen dilakukan agar perseroan memiliki ruang pendanaan yang lebih besar untuk mengembangkan berbagai proyek strategis di masa mendatang. Meski rasio pembayaran dividen turun, nilai dividen yang diterima pemegang saham tetap meningkat seiring lonjakan laba bersih perusahaan.
"Sebagiannya kami simpan untuk membiayai proyek-proyek pengembangan usaha yang menjadi masa depan Antam," ujar Handi dalam konferensi pers virtual, Rabu (10/6).
Handi menjelaskan, strategi tersebut sejalan dengan agenda transformasi perusahaan yang mengusung tema strengthening the core, building the future. Perseroan berupaya memperkuat fondasi bisnis melalui peningkatan kinerja operasional, optimalisasi portofolio usaha, disiplin pengelolaan biaya, serta investasi yang lebih selektif.
"Sehingga kita bisa siap untuk melangkah dan berlari lebih jauh lagi mencapai hasil yang lebih maksimal lagi bagi pemegang saham," kata Handi.
Senada dengan itu, Direktur Utama ANTM Untung Budiharto menyampaikan apresiasi atas kepercayaan para pemegang saham kepada perusahaan. Menurut dia, kemampuan Antam membagikan dividen dalam jumlah besar tidak terlepas dari penguatan kinerja operasional, disiplin pengelolaan biaya, serta kontribusi seluruh insan perusahaan.
Antam Bagikan Dividen Rp 5,04 TriliunDalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar hari ini Rabu (10/6), ANTM menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 5,04 triliun atau setara 70% dari laba bersih tahun buku 2025.
Sepanjang 2025, perusahaan membukukan laba bersih Rp 7,2 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 2,16 triliun atau 30% ditetapkan sebagai saldo laba ditahan untuk mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan usaha. Perseroan belum mengumumkan jadwal pembayaran dividen.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, nilai dividen yang akan diterima pemegang saham mencapai Rp 210 per saham. Dengan harga saham ANTM di level Rp 2.750 per lembar, dividend yield yang akan diterima pemegang saham mencapai sekitar 7,64%.
Meski tetap membagikan dividen dalam jumlah besar, kebijakan tahun ini menandai perubahan dari pola pembagian dividen ANTM dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun buku 2024, perseroan membagikan seluruh laba bersihnya sebagai dividen dengan total nilai Rp 3,6 triliun atau setara Rp 151,77 per saham.
Kebijakan serupa juga diterapkan pada tahun buku 2023. Saat itu, ANTM membagikan dividen sebesar Rp 3,07 triliun atau Rp 128 per saham, dengan rasio pembayaran mencapai 100% dari laba bersih.
Dengan laba bersih tahun buku 2025 yang melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, pasar sempat menantikan apakah ANTM akan kembali mempertahankan kebijakan dividend payout ratio 100%. Namun, perseroan memilih menahan sebagian laba untuk memperkuat pendanaan proyek-proyek pengembangan yang dinilai penting bagi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Perkuat Proyek Ekosistem Baterai EVAntam kini semakin memantapkan posisinya sebagai pemain utama dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) nasional. Untuk mendukung ekspansi itulah Antam memutuskan menahan 30% laba bersih tahun buku 2025 guna membiayai berbagai proyek strategis ke depan.
Direktur Antam Hartono mengatakan perseroan terus menjalankan agenda hilirisasi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang. Salah satu fokus utama perusahaan adalah mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
"Perseroan mendapatkan penugasan dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional yang terintegrasi dari hulu ke hilir," ujar Hartono dalam konferensi pers usai RUPST.
Menurut Hartono, Antam mencatatkan kinerja operasional dan keuangan terbaik sepanjang sejarah perusahaan pada 2025. Pencapaian tersebut ditopang oleh berbagai langkah strategis yang dijalankan secara konsisten, mulai dari peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, optimalisasi pengelolaan aset dan sumber daya mineral, hingga penguatan rantai pasok.
Selain itu, perseroan juga memperkuat penerapan teknologi dan digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya, serta pengelolaan risiko operasional. Antam juga terus memperkuat tata kelola perusahaan, manajemen risiko, dan penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam seluruh aktivitas bisnisnya.
"Langkah ini tidak hanya menjaga keberlanjutan operasional perusahaan, tetapi juga memperkuat daya saing jangka panjang di tengah perubahan lanskap industri global," kata Hartono.
Ia menilai pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik akan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia sekaligus membuka sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan. Dengan portofolio komoditas yang beragam dan transformasi operasional yang berkelanjutan, Antam optimis dapat menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan negara.




