Bisnis.com, BANDUNG - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan proses penentuan pengelola baru Bandung Zoo dilakukan secara transparan guna menjamin keberlanjutan aspek konservasi. Saat ini, seleksi telah mengerucut kepada tiga kandidat lembaga konservasi yang akan dievaluasi lebih lanjut bersama Kementerian Kehutanan.
Keputusan strategis ini tidak diambil melalui penunjukan langsung, melainkan melalui skema tender terbuka. Farhan menegaskan bahwa keterlibatan Kementerian Kehutanan menjadi sangat krusial mengingat wewenang terkait izin konservasi dan perlindungan satwa berada di bawah otoritas pemerintah pusat.
"Dari sejumlah peminat yang mendaftar, akhirnya mengerucut menjadi tiga peserta. Dari tiga peserta tersebut harus dipilih satu, dan pemilihannya tidak bisa dilakukan sendirian. Harus bersama kementerian karena izin konservasi dan izin terkait satwa yang dilindungi berada di bawah kewenangan kementerian," ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Farhan menjelaskan bahwa proses evaluasi mencakup berbagai parameter ketat, mulai dari kompetensi pengelolaan, standar pemeliharaan satwa, hingga dampak sosial dan budaya. Salah satu indikator utama dalam seleksi ini adalah kapasitas finansial calon pengelola yang harus teruji.
Pemenang tender nantinya diwajibkan menyetorkan kontribusi tetap sebesar Rp4,3 miliar sesaat setelah penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS). Langkah ini diambil untuk memastikan pengelola memiliki modal yang cukup dalam menjalankan operasional kebun binatang yang kompleks.
"Begitu tanda tangan PKS, mereka harus langsung membayar kontribusi tetap sebesar Rp4,3 miliar. Setelah itu mereka langsung bertanggung jawab terhadap pakan satwa dan seluruh operasional," kata Farhan.
Baca Juga
- Minim Peminat, Dedi Mulyadi Buka Peluang BUMD Jabar Ambil Alih Bandung Zoo
- Soal Pembayaran Gaji Pegawai Bandung Zoo, KDM: Maaf, Saya Tidak Menepati Janji
- Dua Harimau Mati, DPRD Desak Evaluasi Total Tata Kelola Bandung Zoo
Meskipun proses transisi sedang berjalan, Pemerintah Kota Bandung tetap berkomitmen menanggung pembayaran gaji karyawan hingga 25 Juni mendatang. Farhan mengakui bahwa kondisi Bandung Zoo yang sempat tutup selama 6 bulan menjadi tantangan besar bagi calon pengelola dalam melakukan pemulihan operasional.
Oleh karena itu, dibutuhkan lembaga konservasi berbadan hukum dengan fundamental keuangan yang kuat. Farhan memandang masuknya pengelola baru sebagai bagian dari investasi strategis untuk menghidupkan kembali aset wisata dan konservasi kebanggaan warga Bandung tersebut.
"Ini bagian dari investasi yang harus mereka lakukan. Secara bisnis dan finansial, lembaga konservasi yang mengelola harus memiliki kemampuan yang sangat kuat," tambahnya.
Guna menjaga integritas proses seleksi, Farhan menegaskan sikap netralnya dan menolak untuk mengetahui hasil evaluasi sebelum dilakukan pembahasan bersama kementerian.
"Saya tidak boleh condong ke siapa pun. Bahkan ketika ada yang ingin menunjukkan dokumen hasil evaluasi, saya memilih menunggu dan melihatnya bersama kementerian," akunya.
Hasil akhir dari penentuan pengelola baru Bandung Zoo ini diperkirakan akan segera diumumkan dalam waktu dekat, menyusul koordinasi final dan penandatanganan kesepakatan bersama Kementerian Kehutanan di Jakarta.





