Entahlah. Bisa jadi memang sedang menjadi tren. Terdapat sejumlah kreator konten mengkreasikan format video berdurasi pendek yang banyak terbagikan di platform media sosial. Temanya tentang sang mantan. Ada yang berujung manis, karena mereka kemudian sepakat mau baikan lagi.
Oh ya, sebagai statemen sisipan, perlu saya kemukakan, ada di antara para kreator konten itu yang istikamah dengan produktivitasnya. Ada pula yang mengamini larik puisi Chairil Anwar, “sekali berarti, sudah itu mati”.
Kembali ke jalur lagi. Konten video tentang sejoli mantan, tidak semua berujung happy ending. Ada pula yang membiarkan posisi sebagai mantan tetap bertahan. Hanya yang kerap kali mengundang tawa geli, perilaku sang mantan itu begitu penuh terobsesi kenangan bersama, seperti ingatan soal makanan atau minuman kegemaran dahulu saat masih memadu kasih.
Lalu pemakaian judul paradoks. Kata "idaman" semestinya melekat pada seseorang yang menjadi subjek sayang-sayangan. Rasanya beda sekali ketika menyertai kata "mantan". Ada salah satu konten video dengan judul “Mantan Idaman”. Wah, yang ini betul-betul rekaan konten the best.
Ada juga dengan ungkapan padanannya, yaitu “Mantan Terindah”. Lho kok, yang "idaman" dan "tercinta" melekat pada kata "mantan"? Paradoks tapi sungguh merengkuh senyum geli, bukan?
Saya mau cerita kembali soal “Mantan Idaman”. Tersebutlah dalam konten video itu, seorang gadis berjilbab mendatangi rumah mantannya. Seorang pemuda, hanya kedengaran suaranya, tidak tampak sosoknya (kalaupun tampak paling hanya tangannya saja). Rupanya dia menjadi sudut pandang bagi para penontonnya. Sebutannya kreator konten POV (Point of View) atau kamerawan POV.
Dalam tayangan pendek itu, si gadis berjilbab memberikan sejumlah uang kepada mantan pacarnya itu untuk memenuhi keperluan hidupnya sehari-hari. Tanpa diminta, tanpa diutangi. Betul-betul sukarela. Sebab, dia mengetahui bahwa sang mantan sedang dalam posisi tidak memiliki pekerjaan. Dengan sangat berempati, dia membantu sang mantan.
Ya, alih-alih menuntut kesetiaan seperti tampak pada salah satu bait dari lagu Nidji “Sang Mantan” (2009): “Mana janji manismu. Mencintaiku sampai mati. Kini engkau pun pergi. Saat ku terpuruk sendiri”. Gadis berjilbab itu, meski berkata dengan nada suara ketus, masih memberi perhatian terhadap “keterpurukan” sang mantan.
Begitulah ketika batas hubungan dengan sang mantan berada pada wilayah yang abu-abu. Ketika batas, dari sejoli yang semula memiliki relasi istimewa. Dan, kemudian lantaran suatu faktor penyebab, mereka memutuskan untuk berpisah jalan. Kisahnya menjadi menarik ketika terjadi semacam pencampur-bauran penyikapan. Di sinilah, letak lucunya.
Coba saja bayangkan! Bagaimana tidak menimbulkan senyum geli? Ada sang gadis meminta tolong kepada mantan pacar untuk mengantarkannya pergi ke salon. Atau menemani ketika berbelanja sesuatu dan sepulang mengantar, sang mantan mendapat tanda terima kasih berupa sebagian barang hasil belanjaan.
Atau lagi, mengajak datang barengan manakala akan datang ke resepsi pernikahan sahabatnya. Dengan tujuan, agar tidak terlihat sebagai jomblowati akut.
Bagaimana tidak menghadirkan senyum geli, manakala dalam salah satu konten video menarasikan seorang gadis berjilbab, malam-malam datang ke rumah pemuda mantan pacarnya, untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun dan menyerahkan hadiah.
Dan, sewaktu mau pulang, dia minta tolong sang mantan untuk mengantarkannya, karena ada bagian jalan yang menuju ke rumahnya, lampu penerangannya tidak berfungsi. Duh, ini mantan yang sedikit manja.
Dinamika EmosiKonten video yang bersimbah tematik mengenai mantan pacar begitu memperoleh gapaian minat dari khalayak audiens. Hal itu terjadi berkat kemampuannya menjadi tempat pementasan yang representatif bagi adanya ekspresi dinamika emosi.
Ia bisa melekat dengan pengalaman hidup banyak orang. Bisa menemukan wujud kejadiannya di berbagai momen, seperti reuni atau kebetulan bertemu di jalan, di jembatan gantung. Bisa pula mengambil ekspresi komedi untuk membungkus edukasi psikologi soal move on.
Pesona utama yang terpaparkan terutama terletak pada orisinalitas cerita, sentuhan rasa nostalgia, dan hikmah pembelajaran yang dapat sampai kepada khalayak penonton. Adapun daya tarik konten mengenai sang mantan, antara lain bisa berupa penyelesaian masalah yang sempat mengganjal di hati dalam suatu pertemuan reuni umpamanya.
Atau, dramatisasi sikap “mau tapi gengsi”, seperti mendapat ajakan balikan, dengan tegas menolak, tapi ketika sang mantan mengulurkan tangan, dia mendekat dan menyambutnya. Ada, remas gemas yang lembut dan mesra.
Konten video di media sosial biasanya relatif pendek di kisaran 15 - 90 detik. Format rancangan khusus agar pesan sampai dengan cepat dan efektif serta menarik perhatian secara instan.
Dengan wadah format ini untuk menarasikan pertemuan kembali sejoli yang pernah memiliki hubungan khusus dan kini sudah mantan, bisa menjadi sarana komunikasi yang mengambil jarak emosional. Ini untuk konten sang mantan yang agak "serius".
Dengan demikian, pikiran lebih mampu berkompromi dalam konteks ini. Pertemuan yang terjaga jaraknya dari masa lalu itu, dapat menempatkan sejoli mantan dan dapat saling berkata secara jujur untuk menuntaskan persoalan yang masih tersisa.
Hal ini sering kali memberikan kelegaan emosional. Bukan tidak mungkin, menginspirasi khalayak penonton pula guna berdamai dengan keadaan yang ada di depan mata.
Pesona lainnya soal konten video tentang sang mantan, sehingga tidak sedikit kreator memproduksi sketsa atau parodi lucu mengenai cemburu.
Misalnya ada adegan seorang gadis yang marah besar manakala melihat pemuda yang pernah menjadi pacarnya tengah berjalan mesra dengan pasangan barunya. Ini menjadi komedi jenaka yang mempertontonkan sosok mantan yang masih merawat dengan baik sikap posesifnya. Ha ha ha ….
Atau, kalau bukan karena rasa cemburu, bisa juga komedi jenaka itu beranjak dari ketidakberdayaan untuk move on. Nah, pernah saya menemukan konten narasi video pendek seperti ini.
Seorang perempuan berjilbab tiba-tiba mendatangi rumah mantan sang pacar. Ketika sang mantan membukakan pintu rumahnya, dia dengan wajah bengis, mengucapkan kata-kata kira-kira seperti ini, “Setop kaucuri hatiku! Kenapa kau masih saja hadir dalam mimpi-mimpiku?”
Engagement MagnetPada dasarnya, fenomena kemerebakan produksi konten video yang bernarasi tentang mantan pacar di media sosial, seperti FaceBook dan YouTube, tidak lepas dari eksistensi tema ini yang sangat melekat dengan emosi dasar manusia, antara lain nostalgia, drama, dan rasa penasaran.
Konten video tentang mantan pacar menjadi daya tarik interaksi (engagement magnet), seperti views, comment, dan shares yang tinggi. Kemudian kreator konten memanfaatkannya untuk membangun audiens atau meraih monetasi (konversi menjadi sumber penghasilan).
Realitas ini bisa memperoleh pembacaan dari sejumlah sudut pandang. Dapat berawal dari daya tarik emosional (relatability). Cerita asmara dan patah hati merupakan pengalaman universal.
Tidak sedikit orang menonton sebagai bentuk validasi dari perasaan mereka, hiburan dari pengalaman serupa (coping mechanism), atau sekadar turut berempati lewat penelusuran pengalaman dramatis orang lain.
Di kalangan penonton konten video tentang mantan, juga ada kecenderungan menguntit (stalking tendency). Menurut perspektif psikologis, manusia mempunyai keingintahuan besar terhadap kehidupan orang yang pernah singgah di belantara masa lalunya.
Komentar terhadap mantan, mengeksploitasi kebiasaan stalking tendency khalayak audiens yang pernah mencatatkan kisah istimewa di masa silam masing-masing.
Kecenderungan stalking tendency ini tampak muncul dari sajian konten video narasi tentang perjumpaan sejoli mantan yang dahulu pernah menjalin hubungan selama tiga tahun. Persuaan tidak sengaja itu menguak fakta bahwa keduanya masih selalu memutakhirkan informasi tentang status kejombloan masing-masing.
Nah, ketika si gadis mengaku sudah punya pacar baru, si pemuda dengan nada yakin memastikan bahwa perkataan si gadis itu tidak benar. Lho kok tahu? Karena si pemuda senantiasa meng-up date status sang mantan lewat koneksi chat WhatsApp dari teman-teman mereka.
Demikian pula si gadis, dengan tandas menyatakan bahwa dirinya memegang kunci informasi bahwa sang pemuda mantan pacarnya itu masih seorang jomblowan sejati. Dengan ketus si gadis menandaskan, "Dengan tampang seperti kamu, mana ada cewek yang ma?"
Dan, manakala sang pemuda menjawab, "Lho, buktinya dulu kamu mau sama aku. Kamu juga cewek, kan? Kita, bahkan pernah berpacaran selama tiga tahun". Lalu dengan sengit si gadis berdalih, "Itu semua tetjadi, karena aku khilaf".
Selain itu, ada sertaan strategi monetisasi dan algoritma. Di FaceBook, terutama dengan fitur monetisasi seperti FaceBook Pro dan YouTube, para kreator berlomba mengkreasikan konten yang bisa mengundang reaksi cepat.
Judul atau visual yang menyapa dengan cara penuh strategi terbukti mempunyai tingkat keefektifan sebagai clickbait untuk menjadikan para penonton tetap bertahan.
Clickbait merupakan taktik pemasaran atau penulisan yang mengandalkan pemanfaatan judul atau gambar sensasional dengan gaya melebihkan. Faktor kesengajaan agar rasa penasaran khalayak audiens mengeklik tautan tersaji menjadi tujuannya. Praktik ini populer di kalangan kreator konten untuk memperbanyak arus lalu lintas jumlah pengunjung yang masuk.
Adapun sejumlah ciri utama clickbait, yaitu judul menggantung. Sengaja tidak menginformasikan secara utuh agar penonton kian penasaran. Contoh judul “Hal Ini Akan Mengubah Hidup Anda Selamanya …”. Kata-kata yang diaktifkan ada sentuhan hiperbolis, cenderung dramatis dan kontroversial. Idealnya tentu.
Contoh di kategori makanan: “Viral! Jangan Pernah Makan Mi Instan Pakai Cara Ini Lagi Kalau Tidak Mau Nyawa Anda Berwisata ke Alam Baka”. Contoh di kategori karier: “Tinggalkan Cara Lama! Deretan Pekerjaan Ini Akan Punah pafa Tahun 2026, Apakah Karier Anda Salah Satunya?”
Contoh judul di kategori kesehatan dan kecantikan: “Skandal Dunia Medis! Krim Wajah Jutaan Rupiah Ini Terbukti Bikin Kulit Wajah Hancur! Cek Faktanya Sekarang”. Contoh judul di kategori teknologi dan gawai: “Bocoran Mengerikan! Hp yang Sering Anda Bawa Tidur, Diam-diam Merekam Semua Percakapan Anda!”
Adapun untuk judul di kategori narasi mantan pacar, seperti “Mantan Minta Balikan?!”, “Nyesel Banget Putusin Dia …”, “Mantan Nyesel Lihat Ini”, “Masih Sayang tapi Harus Pisah …”, “Dikira Sendirian, Ternyata Sama Pacar Barunya”, “Salah Nge-chat Mantan”.
Yang belakangan ini, gara-gara keliru kirim pesan, sang mantan malah jadi tahu siapa yang mau diajak pergi. Kontan dia marah besar. Kasus salah kirim pesan WhatsApp ini, menunjukkan bahwa nomor kontak sejoli mantan belum terhapus dari handphone masing- masing.
Ada lagi judul “Seperangkat Alat Mancing dari Sang Mantan”. Entahlah mungkin ada kesengajaan agar judul ini mengingatkan kita pada frasa “seperangkat alat salat” yang biasanya terucapkan pada saat berlangsung akad nikah.
Nah, yang ini saja sudah dapat membuat kita tersenyum geli. Belum lagi, materi narasi tentang seorang gadis yang rela menghadiahkan “seperangkat alat mancing” kepada mantan pacarnya karena mendengar si dia belakangan waktu ini sedang hobi memancing.
Di samping kata-kata tersaji yang memenuhi tuntutan hiperbolis, dramatis, dan kontroversial, tidak kalah penting peran serta visual yang memancing daya tarik. Oleh karena itu, sungguh relevan adanya penyertaan gambar (thumbnail) yang familiar, mencengangkan, dan tidak sepi dari langkah manipulatif.
Sebagai sebuah proses upaya, pengedepanan clickbait dapat menghasilkan dua kemungkinan dampak. Bisa ke arah dampak positif, jika informasi judul sesuai dengan konten yang tersaji. Strategi akan efektif untuk meningkatkan daya tarik interaksi.
Akan tetapi, kemungkinan sebaliknya, bergerak ke arah dampak negatif atau yang juga mendapat sebutan sebagai “jebakan klik”, jika konten video berlainan jauh dari ancangan janji judul menggantung yang tersaji.
Budaya BerbagiDewasa ini, semakin samar batas antara privasi dan konsumsi publik. Dewasa ini telah terjadi semacam pergeseran budaya berbagi.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dewasa ini banyak orang cukup memiliki keberanian untuk mengangkat cerita sang mantan dan kehidupan pribadinya pada posisi sebagai komoditas hiburan guna meraih popularitas dengan segera.
Konten video mengenai komedi di media sosial yang menyentuh relasi dengan sang mantan pacar boleh terkatakan sangat berkaitan dengan adanya pergeseran budaya berbagi tersebut.
Hal ini menunjukkan kemunculan fenomena oversharing, yang terjadi manakala batasan antara privasi dan ranah publik menjadi kabur. Pengalaman pribadi yang dahulu sakral, kini bisa mengalami komodifikasi untuk menjadi hiburan masif demi menggapai interaksi dan validasi digital.
Indikator-indikator utama yang memperlihatkan pergeseran tersebut, seperti normalisasi berbagi privasi. Pengakses media sosial dewasa ini lebih terbuka mengisahkan kehidupan asmara pribadinya, termasuk kegagalan hubungan, sebagai wujud ekspresi diri atau mekanisme pertahanan diri guna meredakan rasa sakit (coping mechanism).
Selanjutnya indikator utama perhatian ekonomi (economy attention). Narasi yang membeber kisah patah hati atau kebiasaan yang kurang menyenangkan dari sang mantan bisa menjadi begitu populer karena memicu empati, kedekatan emosional (relatable), dan deraan tawa khalayak audiens. Ini berarti ada jalan lempang menyusuri tuntutan tinggi untuk raihan likes, shares, dan views.
Indikator utama selebihnya adalah komodifikasi pengalaman. Unggahan konten video, termasuk yang menarasikan mengenai perilaku mantan pacar yang aneh-aneh, sudah tentu tidak hanya berhenti pada tujuan sekadar untuk berkomunikasi jarak jauh. Akan tetapi, telah bergeser menjadi “komoditas” guna menggenggam popularitas dan keuntungan yang berupa finansial.
Pembuatan konten video yang mendudah kisah mengenai kebiasaan atau perilaku “aneh” mantan pacar agaknya menunjukkan bukti sebagai salah satu strategi tercepat guna menciptakan daya tarik perhatian di media sosial. Ramuan sensasionalisme dengan dramatisasi merupakan magnet untuk mendulang jumlah penonton yang besar dengan rentang waktu segera.
Terdapat sejumlah faktor penyebab untuk menjawab pertanyaan, mengapa konten video yang menarasikan tentang sang mantan. Entah dalam bentuk storytime, bercerita tentang mantan pacar, kadang sambil berkegiatan lain, seperti merias wajah atau menggambar. Entah dalam bentuk sindiran atau komedi. Dapat segera mencapai kepopuleran?
Faktor penyebab itu, adanya pengedepanan dramatisasi yang memicu kuriositas, perasaan ingin tahu. Penasaran. Sisi ini agaknya berangkat dari realitas tentang pengguna media sosial yang secara natural menyukai intrik dan drama kehidupan orang lain. Kisah yang tidak lazim cenderung menyebabkan khalayak audiens tetap betah menyimaknya hingga akhir.
Faktor penyebab berikutnya adalah keterikatan (relatable). Tidak sedikit orang yang pernah mengunyah pengalaman yang hampir serupa atau setidaknya masih ada persediaan rasa empati di hati mereka tentang kisah patah hati.
Ada dorongan berkat interaksi yang tinggi berupa likes, comments, dan shares. Faktor penyebab selebihnya, yaitu sebagai pelepasan emosi. Terutama bagi kreator konten, dapat menjadi ajang validasi perasaan, mencari dukungan sosial (coping mechanism).
Meskipun demikian, di belakang raihan popularitas instan tersebut, perlu perhatian terhadap sejumlah catatan penting. Bila mantan pacar tidak bisa menerima pemarodian dirinya dalam konten video yang tercipta, maka bukan tidak mungkin bisa finis ddi masalah hukum.
Mengenang mantan pacar dengan tingkat keseringan secara berlebih, apalagi untuk memancing reaksi emosional warganet, terkadang dapat menjebak kreator konten itu sendiri pada perangkap penjara masa lalu. Proses move on dari sang mantan justru menjadi bergerak begitu lamban. Bahkan bisa jadi seperti berjalan di tempat.
Catatan lain yang juga perlu mendapat perhatian saksama, yaitu algoritma, sistem pemrograman untuk menyaring, memprioritaskan, dan merekomendasikan konten video, bisa berubah begitu cepat.
Konten sensasional tidak jarang mempunyai siklus hidup yang pendek. Perhatian khalayak audiens relatif gampang beralih mengikuti aliran dinamika perubahan yang begitu cepat. Pemutakhiran perfoma pada akhirnya menjadi kata kunci.
Hasil RekaanDalam dunia pengkreasian konten (content creation), narasi yang menggulirkan adegan demi adegan tentang sang mantan pacar yang menunjukkan perilaku aneh, ekstrem, atau dramatis acapkali merupakan hasil pengolahan rekaan dengan dukungan penyusunan skenario dan penegasan dramatisasi.
Hal itu terjadi dalam suatu proses penciptaan yang mengarah pada target dedikasi untuk sepenuhnya demi kepentingan hiburan serta pencapaian viralitas.
Konten video yang berjudul “Andai Semua Mantan di Dunia Seperti Ini Semua” mengisahkan tentang seorang gadis berjilbab mendatangi rumah mantan pacarnya. Sambil membawa dua roti kaleng, dia mendapati sang mantan tampak sedang sakit. Sang gadis sangat menyayangkan, kenapa sang mantan tidak mengontak dirinya, memberi tahu kalau sedang sakit.
Puncaknya, si gadis mengangsurkan sejumlah uang agar sang mantan bisa berobat ke dokter. Perilaku “aneh” ini, pada hemat saya merupakan dramatisasi dari suatu hasil rekaan. Agak terlalu sulit untuk menyebutkan based on true story.
Kreator konten untuk keperluan tersebut, terkadang juga menggunakan modus dramatisasi cerita nyata. Peristiwa keseharian yang sebetulnya remeh-temeh mengalami pembesaran (dramatisasi).
Bisa berupa materi narasi yang mendapat penajaman sehingga secara akali terkategori too much. Bisa pula dengan tambahan efek suara, musik. Dan, bisa juga dengan gaya cerita lebih lucu. Lebay, kata anak sekarang.
Selain itu, kreator konten tidak perlu mengalami sendiri pengalaman berinteraksi dengan sang mantan. Mereka bisa mengetengahkan cerita hasil rekaan sendiri. Kalau perlu menggunakan jasa tim kreatif.
Meminta teman (atau diri sendiri) untuk menjadi pemeran dalam cerita. Lalu memeragakan kisah pendek sederhana seolah-olah itu merupakan kejadian sehari-hari yang riil.
Konten video yang lucu tentang mantan pacar dapat menimbulkan efek katarsis guna melepaskan emosi negatif. Dengan memproduksi atau menyaksikan konten video lucu mengenai sang mantan pacar, dapat membantu seseorang memuntahkan segala emosi yang kurang menyamankan isi dada.
Cara ini biasanya memunculkan rasa lega. Menjelmakan beban emosional menjadi senyum atau bahkan tawa. Dan, bisa membantu pikiran seseorang kembali menjadi jernih.
Sisi menarik dari konten video lucu tentang sang mantan, yaitu dapat memodifikasi kenangan pahit menjadi sesuatu yang justru bisa menumbuhkan kekuatan batin seseorang untuk menertawakan masa lalu dan tidak lagi memandang ke belakang dengan rasa ketakutan yang tak bisa teratasi.
Sentuhan komedi, biasanya erat dengan kecanggungan secara berlebihan, seperti pura-pura move on tapi sesungguhnya masih belum sepenuhnya dapat melupakan sang mantan.
Konten video “Sulit Dijelaskan dengan Kata” bisa jadi merupakan bentuk lain dari ungkapan ketidakberdayaan move on. Seorang gadis menyatakan ketidaksukaannya saat melihat mantan pacarnya yang saat pergi dan pulang kerja barengan dengan seorang teman kerja perempuannya.
Setelah mengetahui faktor penyebabnya, ternyata karena motor sang mantan sedang rusak, sehingga terpaksa menebeng motor teman kerja perempuannya itu.
Lalu si gadis pun memberi uang kepada sang mantan untuk ongkos servis motornya. Dengan harapan, sang mantan bisa mengendarai motor sendiri dan tidak perlu berboncengan bersama perempuan lain.
Ah, memang benar judulnya. Ini memang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tapi, memang bisa dibilang ada indikasi move on yang belum dapat diantisipasi dengan baik. Dan, hadirlah kelucuan manakala batas penyikapan antara mantan dan yang masih jadian begitu kabur.
Ah, berbicara tentang sang mantan yang masih suka cemburu. Saya jadi ingat cerita istri, soal seorang ustazah yang pernah guyon dalam suatu pengajian yang dia ikuti. Konon Zulaikha pernah merasa cemburu kepada tanah. Sebab, Nabi Yusuf lebih suka menundukkan wajahnya dan memandang tanah lekat-lekat daripada menatapi perempuan ayu jelita itu.
Pasti tidak nyambung, bukan? Akan tetapi yang pasti, kedua kasus itu, mantan pacar yang masih cemburuan dan wanita cantik yang cemburu kepada tanah lantaran sang lelaki pujaan lebih seting memandangi tanah ketimbang dirinya, sama-sama sulit untuk mempetoleh penjelasan dengan kata-kata.





