Semua orang bisa menulis, tapi semua orang tidak ada niat dalam memahami gaya menulisnya sendiri. Menulis tidak memandang status media sosial, tetapi tulisan bisa menjadi cermin diri seorang penulis. Sejatinya menemukan gaya penulisan berkarakter ditentukan pengalaman membaca karya orang lain serta konsisten menulis.
Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri sebenarnya, gaya penulisan kita seperti apa? Hal ini sering dialami dalam awal mula menulis—berdasarkan pengalaman pribadi memulai menulis dengan sering meniru gaya penulis favorit.
Kadang berusaha terdengar puitis seperti Sapardi Djoko Damono, kadang keras dan lugas seperti Goenawan Mohamad dan membaca artikel media massa orang lain. Hasilnya? Tulisan terasa sumbang hingga terasa ada yang kurang atau tidak selaras dengan pikiran sendiri, seperti memakai baju orang lain.
Baru setelah bertahun-tahun, menyadari gaya penulisan tidak ditemukan dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, seperti akar pohon yang mencari air.
Lalu, bagaimana cara menemukan gaya penulisan kita? Apakah cukup banyak baca buku? Atau ada teknik khusus? Gaya menulis untuk menjadi penulis bukan bakat, melainkan kebiasaan—konsisten membaca karya orang dengan memahami teknik menulisnya saat kita membacanya.
Banyak orang mengira gaya menulis adalah bakat bawaan. Padahal, gaya penulisan berdasarkan pengalaman saya terbentuk dari kebiasaan membaca dan menulis secara konsisten, bukan dari faktor genetik. Artinya, siapa pun bisa menemukan gaya tulisan khasnya asalkan mau berproses.
Saya memperdalam dari gaya penulisan hingga teknik menulis bisa menjadi bentuk jati diri kita sendiri, karena kombinasi dari pilihan kata, panjang kalimat, ritme, dan cara kita menyusun argumen atau cerita. Ia adalah sidik jari intelektual kita.
Tidak ada dua orang yang persis sama, meskipun mereka menulis topik yang sama. Inilah yang disebut keunikan dalam menemukan gaya penulisan sendiri sebagai sebuah perjalanan untuk mengenali diri sendiri melalui kata-kata.
Lalu dari mana sebenarnya gaya tulisan kita berasal? Menurut para ahli psikologi menulis, seperti Dr. James Pennebaker, gaya menulis seseorang sangat dipengaruhi oleh tiga hal: dari pengalaman hidup, bacaan yang membentuk sudut pandang, dan kebiasaan merefleksikan perasaan.
Jadi, jika diri sendiri seperti kita merasa tulisan hambar, jangan salahkan bakat. Mungkin kita belum cukup jujur pada diri sendiri.
Apakah penting membaca karya orang lain? Sangat penting, karena deduksi kita dalam memahami akan membawa pikiran kita dalam membentuk sebuah kata yang akan menjadi sudut pandang di setiap karakter yang dibuat.
Tidak sekadar membaca untuk hiburan, tetapi juga membaca dengan saksama dalam membedah bagaimana penulis menyusun kalimat, bagaimana ia membuka paragraf, dan bagaimana ia menciptakan ketegangan atau persuasi.
Penulis terkenal Stephen King dalam bukunya On Writing pernah berkata, “Jika kita tidak punya waktu untuk membaca, maka kita tidak punya waktu untuk menulis.” Penulis memiliki rata-rata produktif membaca 15-20 buku per tahun, sementara penulis pemula hanya membaca kurang dari lima buku.
Dengan membaca buku, kita tidak meniru, tetapi belajar dari teknik orang lain. Kita menyerap berbagai kemungkinan. Kemudian, secara alami, kita akan memilih mana yang terasa paling cocok dengan kepribadian kita. Inilah mengapa pentingnya membaca karya orang lain untuk menemukan gaya tulisan kita sendiri yang tidak bisa ditawar.
Salah satu kesalahan terbesar penulis pemula adalah berusaha terdengar pintar dengan kalimat berbelit dan rumit. Padahal, kejelasan adalah fondasi gaya penulisan yang baik.
Gaya yang hebat bukanlah gaya yang membuat pembaca mengernyitkan dahi, melainkan gaya yang membuat mereka mengangguk paham.
Penulis seperti Ernest Hemingway terkenal dengan kalimat pendek, tegas, dan apa adanya. Ia membuktikan bahwa sederhana itu kuat. Sebaliknya, penulis seperti Umberto Eco bisa memiliki gaya yang berbeda dengan Ernest, yakni menulis kalimat panjang berlapis-lapis tanpa membuat pembaca tersesat, karena ia paham betul ritme dan logika bahasanya.
Jadi, temukanlah kejelasan supaya bisa menemukan dalam menuliskan gagasan sendiri sesederhana mungkin. Setelah itu, baru memainkan ritme, irama, dan gaya bahasa sesuai kepribadian. Kejelasan membuat tulisan akan dihormati, hingga gaya menulis membuatnya diingat para pembaca.
Setelah paham pentingnya membaca dan kejelasan, sekarang saatnya praktik. Berikut merupakan pengalaman saya sendiri membentuk beberapa pendekatan dan teknik dalam menemukan gaya penulisan yang terbukti efektif.
Teknik Free Writing (Menulis Bebas): Luangkan 10–15 menit setiap hari untuk menulis tanpa henti, tanpa edit, tanpa takut salah. Tulis apa pun yang ada di kepala. Tujuannya supaya kita membebaskan suara asli diri sendiri dari belenggu perfeksionisme.
Teknik Copywork (Meniru dengan Sadar): Pilih satu halaman dari buku yang disukai atau sering dibaca. Tulis ulang dengan tangan persis seperti aslinya. Lalu, coba tulis ulang dengan gaya kita sendiri. Bandingkan. Ini melatih otak untuk membedakan gaya orang lain dan gaya sendiri.
Buat Kotak Alat Gaya Menulis: Catat kata-kata favorit, struktur kalimat yang terasa nyaman, dan cara pembawaan setiap kalimat membuka serta menutup tulisan. Seiring waktu, kita akan melihat pola. Pola itulah gaya yang kita punya sendiri.
Minta Masukan dari Pembaca Tepercaya: Jangan takut dikritik, karena pengalaman pribadi serta setiap penulis yang rutin mendapat umpan balik objektif dapat meningkatkan kejelasan gayanya dalam proses selama enam bulan.
Menurut saya, gaya menulis akan menjadi identitas yang kita bentuk dengan usaha konsisten, karena tidak ada gaya penulisan yang paling benar, yang ada hanya gaya yang paling autentik bagi kita sendiri dan para pembaca karya kita.
Jatuh bangun dalam menulis adalah bagian dari proses. Jangan menyerah hanya karena tulisan pertama kita merasa jelek maupun kurang sentuhan sedikit. Setiap penulis hebat dulunya juga pemula.
Teruslah membaca buku. Teruslah menulis. Dan yang paling penting, beranilah jujur pada tulisan diri sendiri. Karena gaya penulisan sejati bukanlah topeng yang kita kenakan, melainkan wajah yang kita perlihatkan.
Pada akhirnya, bagaimana cara menemukan gaya penulisan kita? Jawabannya sederhana: usaha kita secara konsisten memahami teknik serta membaca karya orang lain. Kemudian tidak pernah berhenti menulis, tidak pernah berhenti belajar, dan tidak pernah berhenti menjadi diri sendiri.





