Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pejabat tinggi Iran meneleponnya setelah AS menyerang Iran. Klaim Trump, pejabat Iran itu memohon untuk menghentikan serangan.
Dilansir kantor berita CNN, Kamis (11/6/2026), hal itu diungkap Fox News saat mewawancarai Trump. Kepada Fox News, Trump mengatakan pemboman AS di Iran akan segera berhenti.
Trump menyebut para pejabat tinggi Iran menelepon untuk memintanya menghentikan serangan terbaru. Namun, menurut Fox News, Trump mengatakan pemboman akan berlanjut besok malam jika kesepakatan tidak tercapai.
Koresponden Fox, Trey Yingst, mengatakan bahwa ia berbicara dengan Trump saat berada di Ruang Situasi bersama Wakil Presiden JD Vance dan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Trump mengatakan kepada Fox bahwa ini adalah "gencatan senjata yang paling sering dilanggar dalam sejarah dunia," kata Yingst dalam sebuah unggahan di X.
Pada satu titik selama panggilan telepon, Yingst mengatakan bahwa ia diaktifkan mode pengeras suara di Ruang Situasi.
AS sebelumnya melancarkan serangan ke Iran. Ledakan terdengar di dekat Selat Hormuz.
Dilansir kantor berita AFP, media Iran melaporkan ledakan di wilayah selatan negara itu dekat Selat Hormuz setelah Washington mengakui telah melakukan serangan defensif. Ledakan terdengar di kota pelabuhan selatan Bandar Abbas, pulau Qeshm, kota Minab dan Sirik.
Sumber-sumber Iran melaporkan adanya serangan proyektil musuh di Qeshm dan kota-kota Kargan dan Sirik.
Serangan AS itu kemudian dibalas Iran. Iran melancarkan serangan ke pangkalan AS di Bahrain.
Dilansir kantor berita AFP, media Iran melaporkan Iran telah menyerang Armada Ke-5 AS di Bahrain. Hal itu menyusul serangan AS di wilayah dekat Selat Hormuz.
"Dalam gelombang serangan pesawat tak berawak militer ini, antena komunikasi dan fasilitas radar sistem Patriot dari Armada ke-5 menjadi sasaran," demikian yang diunggah oleh kantor berita Mehr dan Fars di Telegram.
Peringatan serangan udara dikeluarkan di Bahrain dan warga diimbau untuk "tetap tenang dan menuju ke tempat aman terdekat," kata kementerian dalam negeri negara Teluk itu dilihat di akun X.
(whn/dek)





