Keluarga besar konservasi satwa Sumatra tengah menyambut anggota baru. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan ini, tercatat dua bayi gajah sumatra lahir di lokasi konservasi dan satu bayi orangutan terpantau lahir di habitat asli.
Kabar paling hangat datang dari Taman Nasional Tesso Nilo. Seekor anak gajah berkelamin betina lahir dalam kondisi sehat dari induk bernama Ria. Pawang gajah alias Mahout Erwin Daulay menemukan bayi gajah yang baru lahir lengkap dengan ari-arinya pada Senin (10/6) pagi.
Saat ini, kondisi gajah Ria dan bayinya terus dipantau secara intensif oleh Tim Mahout dan Tim Dokter Hewan. "Untuk memastikan kesehatan keduanya tetap terjaga," ujar Kepala Balai Tesso Nilo Heru Sutmatoro.
Anak gajah ini merupakan anak kelima dari Gajah Ria yang lahir di Camp Elephants Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo, sebagai hasil breeding dengan gajah liar. Sebelumnya, Gajah Ria sukses melahirkan empat ekor anak gajah yang diberi nama Tesso, Tino, Harmoni, dan Domang.
Dengan lahirnya bayi gajah sehat ini, jumlah total gajah yang berada di Camp Elephants Flying Squad bertambah menjadi delapan ekor, yang terdiri dari tiga ekor gajah dewasa, dua ekor gajah remaja, dan tiga ekor anak gajah.
Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 5 Juni, Lembaga konservasi Taman Satwa Lembah Hijau di Lampung menyambut kelahiran anak gajah berjenis kelamin betina bernama Rut.
Anak gajah yang lahir dari induk bernama Aris (29 tahun) dan Mega (27 tahun) ini dilaporkan dalam kondisi sehat. Rut merupakan anak kedua pasangan Aris dan Mega. Keduanya telah memiliki anak gajah jantan bernama Rawana yang lahir pada 7 Agustus 2022.
Nama Rut diambil dari nama Duta Besar Norwegia untuk Indonesia dan Timor Leste Rut Krüger Giverin yang dianggap berkontribusi dalam konservasi hutan dan lingkungan hidup di Indonesia.
Komisaris Utama Taman Satwa Lembah Hijau Irwan Nasution mengatakan, keberhasilan pengembangbiakan ini adalah bagian dari mendukung program konservasi ex-situ (di luar habitat asli) dan peningkatan populasi gajah sumatra.
“Kami akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan, perawatan, dan program pengembangbiakan sebagai kontribusi nyata terhadap upaya konservasi satwa langka Indonesia,” kata Irwan, dikutip dari keterangan resmi pada Rabu (10/6).
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan bahwa program konservasi ex-situ dilaksanakan di berbagai lokasi konservasi yang memenuhi standar pengelolaan satwa liar.
Kelahiran anak gajah ini menunjukkan kontribusi program konservasi ex-situ dalam mendukung pelestarian spesies. “Semoga anak gajah ini tumbuh sehat dan menjadi simbol harapan bagi keberlangsungan populasi gajah sumatra di masa depan,” ucap Raja Juli.
Temuan Bayi Orangutan "Badar" di Cagar Alam AcehMei lalu, dunia konservasi satwa juga menyambut kehadiran orangutan sumatra di Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Orangutan sumatra yang diberi nama Badar ini lahir di habitat aslinya.
Pusat Reintroduksi orangutan jantho di Cagar Alam Jantho mengonfirmasi kelahiran satu individu bayi, dari induk bernama Bulan – orangutan hasil rehabilitasi yang telah hidup bebas di alam liar sejak 2018.
Pada 22 Mei, Bulan terlihat bergerak aktif di tajuk hutan sambil menggendong bayinya. Bayi orangutan berjenis kelamin jantan itu diperkirakan telah berusia satu bulan dan terlihat dalam kondisi sehat.
Menteri Raja Juli kemudian memberinya nama ‘Badar’, yang artinya bulan purnama. “Kelahiran ini sebagai bukti bahwa melalui perlindungan habitat yang konsisten, kita mampu memulihkan satwa endemik yang terancam punah,” ucapnya.
Bulan diselamatkan dari perdagangan satwa liar di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, pada 2014. Saat itu usianya baru sekitar dua tahun.
Setelah menjalani rehabilitasi selama empat tahun di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan YEL-SOCP Sibolangit, Bulan dilepasliarkan ke kawasan Pusat Reintroduksi Orangutan di Cagar Alam Jantho pada 2018.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh, Ujang Wisnu Barata, menilai kelahiran Badar sebagai keberhasilan upaya rehabilitasi dan pelepasliaran satwa untuk pemulihan populasinya.
“Kelahiran ini membuktikan bagaimana orangutan yang pernah menjadi korban perdagangan satwa liar mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup dan berkembang biak di alam,” ucap dia.
“Keberhasilan seperti ini hanya dapat terus berlanjut bila habitatnya tetap terlindungi,” ujar Ujang menambahkan.




