Kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50% diperkirakan membuat tantangan industri perbankan semakin berat. Walaupun demikian, dampaknya dinilai tidak akan dirasakan secara merata oleh seluruh bank, terutama antara bank-bank milik negara (Himbara) dan bank swasta.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, kenaikan suku bunga memang akan meningkatkan biaya dana (cost of fund), membuat bunga deposito sulit turun, serta membatasi ruang penurunan bunga kredit. Namun, langkah tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan tekanan di pasar keuangan.
"Kebijakan ini seperti obat yang perlu diminum. Ada efek samping terhadap pertumbuhan kredit dan margin perbankan, tetapi dibutuhkan untuk menjaga stabilitas rupiah yang pada akhirnya juga penting bagi sektor keuangan," kata Josua kepada Katadata, Kamis (11/6).
Menurutnya, perbedaan kinerja antara bank Himbara dan bank swasta berpotensi semakin terlihat dalam era suku bunga tinggi. Bank Himbara memiliki keunggulan berupa jaringan luas, basis dana murah yang besar, akses terhadap proyek pemerintah, serta hubungan erat dengan ekosistem BUMN.
Namun di sisi lain, bank-bank pelat merah juga menghadapi risiko tambahan dari berbagai penugasan pemerintah, termasuk Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Josua menilai program tersebut dapat menambah tekanan terhadap kualitas aset apabila tidak disertai skema subsidi bunga, penjaminan kredit, pembagian risiko yang jelas, dan tata kelola yang kuat.
"Jika penugasan dilakukan terlalu agresif dengan target penyaluran kredit yang besar tanpa mitigasi risiko yang memadai, pasar akan melihatnya sebagai risiko tambahan bagi kualitas aset bank BUMN," ujarnya.
Sementara itu, bank swasta besar dinilai memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi dalam merespons kenaikan suku bunga. Mereka umumnya lebih cepat melakukan penyesuaian harga kredit, lebih selektif dalam menjaga kualitas debitur, dan lebih fokus pada sektor-sektor dengan profitabilitas yang tinggi.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai bank swasta dengan basis dana murah (CASA) yang kuat akan lebih tahan menghadapi kenaikan suku bunga. Ia mencontohkan bank swasta besar yang memiliki cost of fund rendah sehingga lebih mampu mempertahankan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).
Kendati demikian, Nafan menilai bank Himbara tetap memiliki bantalan yang kuat. Selain berperan sebagai penampung dana pemerintah dan institusi BUMN, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) di bank-bank Himbara juga masih cukup solid, didukung oleh ekspansi ekosistem digital yang semakin luas.
Ia menambahkan, pertumbuhan kredit bank Himbara juga relatif lebih tinggi dibandingkan bank swasta karena didorong pembiayaan proyek strategis nasional (PSN), hilirisasi industri, serta sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di saat yang sama, bank swasta cenderung lebih konservatif dalam menyalurkan kredit demi menjaga kualitas aset.
"Walaupun ada beban penugasan pemerintah seperti Kopdes Merah Putih dan KUR, Himbara memiliki skala ekonomi besar serta sinergi dengan ekosistem pemerintahan yang menjadi cushion yang cukup kuat," kata Nafan.
Dari sisi pasar modal, kedua ekonom sepakat bahwa saham perbankan masih menjadi cerminan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia. Josua menilai koreksi saham perbankan dalam beberapa waktu terakhir dipicu oleh kombinasi tekanan rupiah, kenaikan suku bunga, dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan domestik.
Dalam jangka pendek, menurut Josua, saham perbankan masih berpotensi bergejolak karena investor mengkhawatirkan kenaikan biaya dana, perlambatan kredit, dan peningkatan risiko kredit. Namun, apabila kebijakan suku bunga berhasil menstabilkan rupiah dan mengembalikan aliran modal asing, saham perbankan berpeluang pulih secara bertahap.
Sementara itu, Nafan menilai prospek sektor perbankan tetap positif. Menurutnya, bank-bank nasional memiliki kemampuan melakukan repricing bunga kredit sehingga tekanan terhadap margin bunga masih relatif terkendali. Selain itu, valuasi saham perbankan saat ini dinilai masih menarik karena berada di bawah rata-rata historisnya.
"Untuk investor jangka panjang, kondisi saat ini masih menjadi momentum yang menarik untuk melakukan akumulasi atau buy on weakness, terutama pada saham-saham perbankan yang fundamentalnya kuat," ujar Nafan.




