Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, tercatat enam kali erupsi dengan tinggi letusan hingga 1.000 meter di atas puncak pada Kamis sejak pukul 00.41 hingga 11.13 WIB.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 00.41 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 600 meter di atas puncak dan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah barat daya. Saat laporan itu dibuat, erupsi masih berlangsung.
"Erupsi dengan letusan tertinggi terjadi pada pukul 08.03 WIB dengan tinggi kolom letusan mencapai 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl)," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Sigit Rian Alfian dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Menurutnya, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 94 detik.
Pengamatan kegempaan Gunung Semeru pada Kamis selama enam jam terakhir pukul 06.00 sampai 12.00 WIB tercatat 18 kali gempa letusan/erupsi, 1 kali gempa guguran dengan amplitudo 3 mm, dan 6 kali gempa hembusan dengan amplitudo 5-7 mm.
Baca juga: Aktivitas Gunung Semeru masih didominasi erupsi dan gempa letusan
"Gunung Semeru juga mengalami 1 kali harmonik dengan amplitudo 4 mm, dan 3 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 7-34 mm, S-P 13-67 detik dan lama gempa 36-115 detik," tuturnya.
Sigit menjelaskan saat ini aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, lanjut dia, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
"Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," katanya.
Ia meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.
Baca juga: Aktivitas kegempaan Semeru masih tinggi sehingga status tetap Siaga
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," katanya.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 00.41 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 600 meter di atas puncak dan kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah barat daya. Saat laporan itu dibuat, erupsi masih berlangsung.
"Erupsi dengan letusan tertinggi terjadi pada pukul 08.03 WIB dengan tinggi kolom letusan mencapai 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl)," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Sigit Rian Alfian dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Menurutnya, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 94 detik.
Pengamatan kegempaan Gunung Semeru pada Kamis selama enam jam terakhir pukul 06.00 sampai 12.00 WIB tercatat 18 kali gempa letusan/erupsi, 1 kali gempa guguran dengan amplitudo 3 mm, dan 6 kali gempa hembusan dengan amplitudo 5-7 mm.
Baca juga: Aktivitas Gunung Semeru masih didominasi erupsi dan gempa letusan
"Gunung Semeru juga mengalami 1 kali harmonik dengan amplitudo 4 mm, dan 3 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 7-34 mm, S-P 13-67 detik dan lama gempa 36-115 detik," tuturnya.
Sigit menjelaskan saat ini aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, lanjut dia, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
"Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," katanya.
Ia meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.
Baca juga: Aktivitas kegempaan Semeru masih tinggi sehingga status tetap Siaga
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," katanya.





