TABLOIDBINTANG.COM - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) menyatakan akan menggelar demonstrasi pada Jumat (12/6) di Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Aksi tersebut digelar sebagai respons atas pelemahan nilai tukar rupiah yang dinilai menjadi cerminan berbagai persoalan ekonomi dan kebijakan pemerintah.
Rencana aksi itu disepakati dalam konsolidasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil yang berlangsung di kampus UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (10/6).
Dalam forum tersebut, peserta menyepakati lima tuntutan yang akan disuarakan kepada pemerintah.
1. Hentikan pemborosan APBN.
2. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
3. Hentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa Merah Putih.
4. Hentikan militerisme di ranah sipil.
5. Mendesak Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan kebijakan yang dinilai berdampak pada kondisi ekonomi saat ini.
Koordinator Bidang Sosial Politik, Hafidz Haernanda, mengatakan Bundaran HI dipilih sebagai lokasi aksi karena dianggap memiliki nilai simbolis dan dapat menjadi ruang penyampaian aspirasi yang lebih luas kepada publik maupun pemerintah.
"Mungkin Bundaran HI terkesan mewah, tapi ini merupakan pernyataan bahwa Indonesia sudah capek. Yang kami harapkan adalah suara masyarakat bisa didengar," ujar Hafidz.
Menurutnya, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini bukan sekadar persoalan nilai tukar, melainkan bagian dari masalah yang lebih besar terkait pengelolaan ekonomi nasional.
Sementara itu, Ketua BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Jundi Al Muhandis, menilai pemerintah perlu memperbaiki kredibilitas fiskal dengan menghentikan pemborosan anggaran negara dan mengalokasikan dana pada sektor yang lebih produktif.
"Kita bisa menuntut kredibilitas fiskal dengan menghentikan pemborosan APBN. Dalam jangka panjang, langkah itu dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian," kata Jundi.
Ia juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang dinilai berpotensi membebani fiskal apabila tidak dikelola secara efektif.
Meski terdapat perbedaan pandangan terkait strategi perjuangan, para peserta konsolidasi sepakat bahwa aksi pada 12 Juni mendatang menjadi momentum untuk menyuarakan keresahan masyarakat atas kondisi ekonomi yang semakin berat.
"Pelemahan rupiah hanyalah gejala. Yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah menjawab persoalan yang dirasakan langsung oleh rakyat," tegas salah satu peserta konsolidasi.
Aksi tersebut diperkirakan akan diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi serta sejumlah elemen masyarakat sipil yang menuntut perubahan kebijakan demi memperbaiki kondisi ekonomi nasional.




