Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia bersiap turun ke jalan menyikapi situasi saat ini. Mereka akan berdemonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta pada Jumat (12/6).
Undangan untuk menghadiri demonstrasi tersebut juga disampaikan BEM UI lewat akun Instagram mereka. Seruan aksi itu bertajuk #MenujuIndonesiaBangkrut.
Dalam unggahan undangan aksi, BEM UI menampilkan gambar Presiden Prabowo Subianto memegang buah sawit dan batangan emas. "MARI, KITA TURUN DAN GUNAKAN HAK KITA SEBAGAI RAKYAT!" demikian keterangan akun Instagram BEM UI, Kamis (11/6).
BEM UI beralasan turun ke jalan karena kondisi Indonesia saat ini. Mereka mengatakan kondisi rupiah semakin memburuk, sementara program-program pemerintah yang dianggap tak jelas malah dilanjutkan.
"Rupiah naik diremehkan, HAM tidak dihiraukan, program tidak jelas dilanjutkan," kata BEM UI dalam unggahan mereka.
Mereka juga mengatakan, saat ini independensi Bank Indonesia (BI) direnggut, kebijakan fiskal justru tak berjalan baik, dan komunikasi pemerintah ke masyarakat juga buruk.
BEM UI juga mengatakan, dengan kondisi seperti itu, pemerintah malah menyangkal situasi yang ada dan malah mendegradasi kritik masyarakat.
"Tak hanya itu, aparat negara digunakan sebagai alat untuk membungkam mereka yang bersuara," kata BEM UI.
Sebelumnya, Ekonom senior Chatib Basri menilai pelemahan nilai tukar rupiah bukan semata-mata dipicu oleh konflik geopolitik atau perang di Timur Tengah. Hal ini melainkan lebih banyak disebabkan oleh menurunnya kepercayaan atau confidence pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Menurut mantan Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu, data justru menunjukkan peningkatan risiko fiskal memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pelemahan rupiah dibandingkan dampak perang Iran dengan AS dan Israel.
Chatib menilai tantangan utama pemerintah saat ini bukanlah persoalan fundamental ekonomi yang memburuk, melainkan bagaimana memulihkan kepercayaan investor terhadap keberlanjutan fiskal. Ia menilai kekhawatiran pasar muncul karena prospek defisit anggaran dan keberlanjutan kebijakan fiskal ke depan.
"Bisa nggak defisitnya sustainable? Inilah yang kemudian menimbulkan anxiety dari investor," kata Chatib dalam acara Grab Business Forum 2026, di Jakarta, Selasa (9/6).




