REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Siapa bilang industri makanan penutup (dessert) cuma bisa jualan rasa manis? Sebuah gebrakan baru saja dimulai dari dalam studio animasi.
Merek dessert Butter Baby menyewa studio bioskop CGV fX Sudirman, Jakarta, untuk menggelar Cinema Premiere film animasi pendek orisinal mereka berjudul The Story of Butterlandia. Langkah ini mempertegas posisi Butter Baby sebagai Global Intellectual Property (Global IP) berbasis karakter pertama dari Indonesia yang berani membongkar batas antara dunia kuliner dan industri hiburan. Lewat peluncuran film animasi tersebut, Butter Baby membuka pintu gerbang menuju sebuah universe fiksi yang utuh.
Baca Juga
Rin Culinary Art, Saat Seni Jepang dan Rasa Italia 'Jatuh Cinta' pada Bahan Lokal
Duduk Perkara Seruan Boikot Restoran Pagi Sore oleh Warganet Malaysia di Medsos
Penonton diajak menyelami asal-usul karakter, dunia fantasi, hingga misi mendesak untuk mengumpulkan 500 triliun ton mentega demi menyelamatkan Butterlandia, planet asal mereka yang perlahan-lahan sekarat. Meskipun mengusung konsep fiksi ilmiah luar angkasa yang megah, fondasi utama dari karakter dan cerita ini ternyata tumbuh dan bernyawa di Jakarta. Founder Butter Baby Nick Burch dan Henry Burch mengatakan, kota ini dan komunitasnya yang menjadi bahan bakar utama dalam merajut mimpi fantasi tersebut menjadi nyata.
"Butter Baby berawal dari ide sederhana, bagaimana menciptakan sesuatu yang bisa membuat orang merasa terhubung. Kami sudah mengenal dan mencintai Indonesia selama lebih dari 12 tahun, dari Sumba, hingga akhirnya menetap dan bekerja di Jakarta selama lebih dari empat tahun," ujarnya saat jumpa pers di Jakarta pada Rabu (10/6/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Kami memilih Indonesia bukan karena kesempatan, tapi karena kami percaya ini adalah tempat terbaik untuk membangun sesuatu yang tahan lama," kata mereka menambahkan.
Dari sana, Nick dan Henry mulai membangun karakter, cerita, dan dunia yang perlahan berkembang menjadi Butterlandia. "Bukan cerita yang kami ciptakan dari luar, ini lahir dari sini, dari kota ini, bersama komunitas yang telah tumbuh bersama kami sejak hari pertama. Film animasi ini adalah cara kami mengatakan, inilah fondasinya. Inilah dari mana semuanya dimulai," ujarnya.
Perkembangan Butter Baby menjadi Global IP terbilang kilat. Kurang dari satu tahun berjalan, mereka sudah memadukan tiga pilar bisnisnya secara seimbang, yakni kekuatan hak kekayaan intelektual (IP), lini cinderamata (merchandise), serta model gerai yang mudah dikembangkan (scalable).