JAKARTA, DISWAY.ID - BEM UI akan menggelar aksi demonstrasi di Bundaran HI pada Jumat 12 Juni 2026 dengan mengusung tagar #MenujuIndonesiaBangkrut.
Aksi yang berangkat dari Lapangan FISIP UI itu disebut sebagai wadah untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi ekonomi Indonesia serta respons pemerintah yang dinilai belum mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
"Sudah terlalu lama masyarakat menahan amarah dan penindasan yang terus mencekik, harga bahan pokok yang terus meningkat, serta seluruh permasalahan ekonomi akibat kebijakan-kebijakan yang disusun oleh pemimpin yang tidak berkompeten. Mari terus bersama-sama suarakan keresahan yang sudah lama kita pendam, menuntut kebijakan yang terus membuat kita krisis," tulis BEM UI di akun resminya di Instagram.
BACA JUGA:Tiyo Ardianto Dicekal Unnes karena Birokrasi Kampus, Aliansi Mahasiswa Minta Maaf ke Sang Mantan Ketua BEM UGM
"Halo, UI dan Indonesia! Sudah hampir 2 tahun memporak-porandakan negara. Rupiah naik diremehkan, HAM tidak dihiraukan, program tidak jelas dilanjutkan. MARI, KITA TURUN DAN GUNAKAN HAK KITA SEBAGAI RAKYAT!" tulis BEM UI lagi.
BEM UI juga menyerukan kenaikan harga Dolar terhadap Rupiah, berkaca pada trauma krisis moneter 1997–1998, independensi Bank Indonesia (BI) seharusnya menjadi benteng sakral yang bebas dari intervensi penguasa.
Namun, BEM UI menilai pengesahan revisi UU P2SK justru mengancam otonomi tersebut.
BACA JUGA:Tiyo Ardianto Dilarang Diskusi di Unnes, Eks Ketua BEM UGM Sebut Dicekal Birokrat Kampus karena Paranoia
BI kini dipaksa membagi fokusnya antara menjaga stabilitas nilai rupiah dan menyukseskan agenda pertumbuhan ekonomi pemerintah.
Ironisnya, regulasi ini juga memperluas cengkeraman DPR melalui kewenangan formal untuk mengevaluasi kinerja kelembagaan BI yang wajib ditindaklanjuti.
BACA JUGA:BULOG Sambut BEM Se-Indonesia di Gudang Kelapa Gading, Perkuat Transparansi Ketahanan Pangan Nasional
Ditambah dengan pergeseran logika “burden sharing” menjadi pembiayaan pembangunan, kebijakan ini justru memperlemah kredibilitas kita di pasar global.
"Terbukti, sepanjang 2026 rupiah mengalami depresiasi tajam dan cadangan devisa menyusut ke titik terendah.
Ketika bank sentral disetir oleh syahwat politik, rakyatlah yang akhirnya menanggung akibatnya," jelasnya.



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7186959/original/042884900_1779983531-IMG_0027.jpeg)

