Di kaki Gunung Prau, warga Desa Patakbanteng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, belajar bahwa menjaga alam dan menggerakkan ekonomi tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Berbekal pengalaman panjang memulihkan kawasan yang sempat rusak, masyarakat setempat kini mengembangkan desa wisata yang bertumpu pada pelestarian lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan warga.
Perjalanan itu tidak dibangun dalam semalam. Pada akhir 1990-an, sebagian kawasan Gunung Prau sempat mengalami kerusakan akibat pembukaan lahan pertanian yang masif. Mata air berkurang, sementara tutupan vegetasi semakin menipis. Namun, melalui gerakan reboisasi yang dilakukan masyarakat, Patakbanteng perlahan bangkit hingga kini menjadi salah satu desa wisata yang dikenal sebagai gerbang pendakian Gunung Prau.
Kepala Desa Wisata Patakbanteng Solihin mengatakan pada 1998 kawasan Prau banyak dibajak untuk lahan pertanian sehingga berdampak terhadap keberadaan mata air.
"1998 Prau banyak dibajak petani, mata air berkurang. Kita akhirnya reboisasi dan lucunya anggota Kelompok Pecinta Lingkungan sekarang justru anak-anak dari orang tua yang dulu menjarah gunung," kata Solihin saat ditemui di Patakbanteng, Rabu (10/6).
Berbagai upaya tersebut membuahkan hasil. Desa Wisata Patakbanteng berhasil meraih juara pertama kategori resiliensi. Kehadiran wisatawan yang datang untuk mendaki Gunung Prau juga turut menggerakkan roda perekonomian warga.
"Warung-warung di base camp, buah carica, purwaceng dikembangkan di sini. Sangat menopang desa kami," ujar Solihin.
Ke depan, masyarakat setempat ingin memperkuat sektor pertanian melalui pengembangan agrowisata. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati panorama Gunung Prau, tetapi juga dapat ikut merasakan aktivitas bertani.
"Teman-teman muda kurang ngeh bertani. Jadi kita mau kembangkan agrowisata. Pengunjung bisa menanam di area sini," katanya.
Selain itu, Patakbanteng juga tengah menyiapkan program adopsi bibit untuk mendukung pelestarian Gunung Prau. Bibit tanaman endemik yang dikembangkan nantinya akan dikembalikan ke gunung untuk ditanam.
"Kita mau program adopsi bibit. Bibit endemik ini akan kembali ke gunung dan penanaman," ujar Solihin.
Semangat menjaga alam juga berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Patakbanteng Syafi'i mengisahkan keterbatasan pendidikan pernah menjadi tantangan bagi masyarakat setempat.
"Dulu ada 22 anggota, non kependidikan, enggak punya ijazah SD. Saya pun baru bisa bahasa Indonesia tahun 2012 setelah internet masuk," kata Syafi'i.
Keinginan untuk terus belajar mendorongnya membangun perpustakaan desa pada 2024. Perpustakaan tersebut lahir dari dukungan para pengunjung Patakbanteng dan Gunung Prau yang tergerak melihat aktivitas masyarakat setempat.
"Akhirnya kami bikin perpustakaan 2024. Tujuannya membidik generasi istimewa. Direspons pengunjung Patakbanteng dan Prau, akhirnya kita bisa bikin perpustakaan untuk anak-anak," ujarnya.
Menurut Syafi'i, menjaga hutan dan kawasan pendakian menjadi cara agar para wisatawan dapat terus menikmati keindahan Gunung Prau secara alami.
"Kita peduli hal lain yaitu merawat hutan, pendakian, sehingga mereka bisa menikmati Prau secara alami," katanya.
Kembangkan Agrowisata, Didukung BCAKe depan, warga Patakbanteng ingin mengembangkan konsep agrowisata untuk menarik minat generasi muda yang mulai menjauh dari sektor pertanian.
"Teman-teman muda kurang ngeh bertani. Jadi kami ingin mengembangkan agrowisata. Pengunjung nanti bisa ikut menanam di area sini," kata Solihin.
Dukungan terhadap pengembangan desa juga datang dari Bakti BCA. VP BCA Nona Faletta Aryuni Sumanang mengatakan saat ini program pendampingan masih berada pada tahap perancangan.
Menurut dia, terdapat tiga fase utama yang akan diselesaikan sepanjang tahun ini, yakni penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta memastikan keberlanjutan program agar masyarakat dapat mandiri.
"Masih dirancang, saat ini fase desain. Berikutnya masuk ke enabler, melihat apa yang masih kurang, apakah penguatan lembaga, kemitraan yang belum terjalin, atau penguatan SDM. Kemudian yang ketiga adalah sustain, bagaimana petani di sini bisa berjalan sendiri tanpa kami. Tiga fase ini yang akan kami selesaikan tahun ini," kata Nona.
Sementara itu, VP Corporate Communications BCA Wendiyanto Saputro mengatakan Patakbanteng dan Gunung Prau memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui berbagai program partisipatif seperti Genera-Z Berbakti. Menurut dia, BCA akan melibatkan mahasiswa untuk tinggal selama satu bulan di desa tersebut guna mencari solusi bersama masyarakat.
"Kami akan mengundang mahasiswa untuk mengajukan proposal di desa ini. Pada Juli nanti ada yang live in selama satu bulan. Setelah penjurian, kami kurasi dan dukung pendanaannya. Selama sebulan mereka akan mencari solusi bersama Kang Pi'i dan masyarakat," kata Wendiyanto.
Ia berharap hasil dari program tersebut dapat menjadi bahan pengembangan pemberdayaan masyarakat dan membuka akses pasar yang lebih luas sehingga mampu meningkatkan taraf ekonomi warga Patakbanteng.
"Ini hasilnya nanti menjadi bahan untuk pengembangan pemberdayaan dan akses pasar yang bisa menaikkan kelas warga Patakbanteng," ujarnya.
Selain di Patakbanteng, Genera-Z Berbakti juga akan melibatkan mahasiswa yang proposalnya terpilih di Desa Wisata Kakaskakes Dua di Tomohon, Desa Wisata Kreatif Terong di Bangka Belitung, dan Desa Wisata Gunung Padang di Cianjur.





