Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan pagi ini, Kamis (11/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.963,5 per dolar AS pada pukul 09.16 WIB.
Posisi tersebut melemah 19,50 poin atau sekitar 0,11% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah masih tingginya ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia (BI) telah menempuh sejumlah langkah lanjutan. Salah satunya melalui kebijakan moneter yang lebih ketat dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50%.
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan sebagai bagian dari upaya memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali.
Di sisi lain, pemerintah tetap optimistis terhadap prospek nilai tukar rupiah pada tahun depan. Dalam asumsi dasar ekonomi makro 2027, pemerintah memperkirakan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan target itu sejalan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi memerlukan koordinasi erat fiskal dan moneter tanpa menimbulkan crowding out effect.
Baca Juga: Dolar Melambung, Rupiah Tersungkur! DPR Minta Stop Cari Kambing Hitam
Baca Juga: DSI dan Penempatan DHE SDA di Himbara Jadi Kunci Penguatan Rupiah pada 2027
"Sejalan dengan hal tersebut, maka pada tahun 2027 nilai tukar diperkirakan di kisaran Rp16.800 sampai dengan Rp17.500 per US dolar," kata Purbaya dalam Rapat Paripurna di DPR RI ke-21, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Selain itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diproyeksikan berada di rentang 6,5% hingga 7,3%, seiring terjaganya stabilitas ekonomi dan sektor keuangan nasional.





