Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tidak serta-merta mendorong lonjakan penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) di Indonesia. Sejumlah faktor dinilai masih membuat konsumen menahan keputusan pembelian kendaraan listrik.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, minat masyarakat terhadap kendaraan listrik saat ini masih dipengaruhi berbagai faktor di luar biaya operasional kendaraan, termasuk kepastian kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi keputusan konsumen adalah belum adanya kepastian terkait kelanjutan insentif kendaraan listrik. Pemerintah diketahui masih menyelesaikan sejumlah perhitungan sebelum kembali menjalankan program insentif pembelian mobil dan sepeda motor listrik.
Pelaksanaan insentif tersebut diperkirakan bergeser ke Juli 2026 atau memasuki kuartal III/2026. Kondisi itu membuat sebagian calon pembeli memilih menunggu dibandingkan melakukan transaksi dalam waktu dekat.
Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,5% juga dinilai ikut memengaruhi minat masyarakat untuk membeli kendaraan, terutama melalui skema pembiayaan atau kredit.
"Untuk kendaraan listrik, masyarakat juga masih menunggu kejelasan mengenai berbagai insentif yang beredar informasinya. Ketidakpastian itu membuat konsumen semakin ragu. Jadi tekanannya bisa datang dari dua sisi sekaligus, bunga kredit naik dan insentif belum jelas,” ujar Kukuh kepada Bisnis, dikutip Kamis (11/6/2026).
Baca Juga
- Insentif Kendaraan Listrik Ditunda, OJK Ungkap Dampaknya ke Industri Multifinance
- Prospek Penjualan Mobil Listrik Bekas Kala Harga BBM Naik
- Insentif Ditunda, Cek Harga Mobil Listrik BYD per Juni 2026!
Kukuh menuturkan kendaraan listrik memang menawarkan efisiensi biaya penggunaan yang lebih baik dibandingkan mobil konvensional, khususnya dalam lima tahun pertama kepemilikan.
“Namun, hanya sebagian kecil yang membeli mobil listrik untuk kendaraan utama, baik pribadi maupun operasional seperti taksi online,” jelasnya.
Kukuh pun mengakui di tengah perlambatan kendaraan berbahan bakar fosil, penjualan mobil listrik justru menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri otomotif dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, tekanan terhadap pasar semakin besar setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Pada saat yang sama, harga Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter yang berlaku mulai 10 Juni 2026.
Meski demikian, Kukuh menilai lonjakan harga BBM tidak otomatis membuat masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Hal itu karena kelompok konsumen yang menjadi target utama mobil listrik memiliki karakteristik berbeda dengan mayoritas pengguna kendaraan konvensional.
"Tidak serta-merta begitu. Pembeli mobil listrik umumnya berasal dari kalangan yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik. Sementara itu, kelas menengah saat ini justru sedang menghadapi tekanan," ujarnya.
Menanti Kepastian InsentifDi tengah dinamika pasar tersebut, PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) masih menunggu kepastian mengenai insentif kendaraan listrik yang tengah disiapkan pemerintah.
Chief Operating Officer HMID Fransiscus Soerjopranoto mengatakan perusahaan juga terus memantau berbagai perkembangan yang dapat memengaruhi pasar kendaraan, mulai dari harga BBM, pergerakan nilai tukar rupiah, suku bunga hingga tingkat persaingan di segmen elektrifikasi.
"Namun, kami melihat persaingan yang sehat sebagai hal positif karena memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen. Karena itu, Hyundai akan terus berfokus pada penguatan kualitas produk, perluasan layanan, dukungan Hyundai Capital dan peningkatan pengalaman pelanggan," jelas Frans kepada Bisnis, dikutip Kamis (11/6).
Pemerintah diketahui tengah menyiapkan program insentif kendaraan listrik secara bertahap dengan kuota awal sekitar 100.000 unit. Jumlah tersebut masih berpotensi ditambah apabila permintaan pasar tumbuh lebih cepat dari perkiraan.





