Motor Turun Kelas dari Pertamax ke Pertalite Tidak Selalu Untung

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita


Jakarta, VIVA – Kenaikan harga Pertamax membuat banyak pengguna sepeda motor mulai melirik Pertalite sebagai alternatif yang lebih murah. Dengan selisih harga yang kini mencapai ribuan rupiah per liter, penghematan yang ditawarkan memang terlihat menggiurkan.

Namun sebelum memutuskan pindah BBM, ada satu hal yang perlu diperhitungkan. Penghematan harian belum tentu berujung keuntungan jika bahan bakar yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan mesin.

Baca Juga :
Tekan Dampak Naiknya Harga Pertamax, ESDM: Angkutan Logistik Masih Pakai BBM Subsidi
Dirut Pertamina Akhirnya Buka Suara Soal Kenaikan Harga Pertamax, Simak Pernyataannya

Dari pantauan VIVA Otomotif Kamis 11 Juni 2026, saat ini harga Pertamax berada di level Rp16.250 per liter, sedangkan Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter. Selisih Rp6.250 per liter membuat biaya operasional motor bisa turun cukup signifikan.

Sebagai contoh, pengguna motor yang menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer per hari dengan konsumsi bahan bakar rata-rata 40 km per liter membutuhkan sekitar 30 liter bensin setiap bulan.

Jika menggunakan Pertamax, biaya bahan bakar mencapai Rp487.500 per bulan. Sementara dengan Pertalite, pengeluaran hanya sekitar Rp300 ribu. Artinya terdapat potensi penghematan sekitar Rp187.500 setiap bulan atau lebih dari Rp2 juta dalam setahun.

Angka tersebut tentu cukup besar, terutama bagi pekerja yang menggunakan motor sebagai kendaraan utama untuk beraktivitas setiap hari. Namun keuntungan tersebut hanya berlaku jika motor memang dirancang untuk menggunakan bahan bakar dengan oktan setara Pertalite.

Masalah muncul ketika pemilik motor modern yang direkomendasikan menggunakan Pertamax memaksakan penggunaan Pertalite demi menekan pengeluaran. Motor dengan rasio kompresi tinggi membutuhkan bahan bakar beroktan lebih tinggi agar proses pembakaran berlangsung optimal. Jika menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai, mesin berpotensi mengalami knocking atau ngelitik akibat pembakaran yang terjadi sebelum waktunya.

Dalam jangka pendek, gejalanya bisa berupa performa yang menurun, tarikan terasa lebih berat, hingga konsumsi bahan bakar yang justru menjadi lebih boros.

Sementara dalam jangka panjang, risiko yang muncul bisa lebih mahal dibandingkan penghematan yang didapat di SPBU. Endapan karbon pada ruang bakar dapat lebih cepat terbentuk, busi menjadi lebih kotor, hingga komponen seperti injector dan ruang bakar membutuhkan pembersihan lebih sering.

Baca Juga :
ESDM Bilang Perpindahan Konsumen Pertamax ke Pertalite Belum Masif
ESDM Pastikan Perpindahan Konsumen Pertamax ke Pertalite Belum Masif
Viral Netizen Serukan Peralihan dari Pertamax ke Pertalite, Begini Respons Purbaya

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perkuat Ketahanan Energi, Wadirut Pertamina Tekankan Urgensi Kolaborasi Lintas Bisnis
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
BMKG Peringatkan Kemarau Panjang Lebih Kering pada 2026, Ini Langkah Antisipasinya
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Periksa Lagi Bos PT PSL Heri Black dalam Kasus Korupsi Direktorat Bea Cukai
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Superchallenge Super Prix Jadi Primadona Baru Ajang Balap Motor Nasional
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Momen Dahlan Iskan Sambut Kepala Daerah di DNN Top Regional Leader Awards 2026
• 8 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.