KSP: Kritik adalah Napas Demokrasi, Jangan Disamakan dengan Provokasi

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman mengatakan kritik adalah napas dari negara demokrasi.

"Pemerintah selalu membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat, termasuk kritik. Sebab, kritik adalah napas demokrasi yang harus membangun, bukan meruntuhkan," kata Dudung dalam keterangan persnya, Kamis (11/6/2026).

Baca juga: Demo BEM UI di Bundaran HI Besok, Ini Jalur Alternatif yang Bisa Dilalui

KSP pun mengajak semua pihak untuk lebih bijaksana dalam menyampaikan pendapat dan kritik.

Menurut Dudung, kritik tidak sama dengan provokasi dan adu domba.

"Jangan samakan kritik dengan provokasi, fitnah, dan adu domba yang dapat merusak persaudaraan kita sebagai bangsa," ujarnya.

Baca juga: 7 Pernyataan Sikap BEM FEB Unair ke Pemerintah, Berisi Desakan Darurat Ekonomi

Dia mengatakan bangsa Indonesia tidak lahir dari jalan yang lapang, melainkan lahir dari luka yang dalam, air mata, pengorbanan, dan darah para pendiri bangsa.

Eks KSAD ini menyoroti Indonesia pernah tercabik oleh pemberontakan PKI Madiun, DI/TII, RMS, G30S PKI, dan berbagai gerakan serupa.

"Kita juga pernah terkoyak oleh konflik Ambon, Poso, Sampit, Sambas, Aceh, hingga berbagai peristiwa sosial-politik di Papua dan daerah lainnya. Di sana, hati nurani bangsa pernah diuji," lanjut dia.

Baca juga: Latar Belakang Munculnya Gerakan PRRI

Meski begitu, Indonesia tetap berdiri karena memiliki warisan luhur yakni Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa, berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada kebenaran yang mendua.”.

Dia mengatakan, rangkaian sejarah Indonesia sampai dengan saat ini hendaknya dapat dijadikan tonggak refleksi dan introspeksi untuk mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dudung juga mengaskan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan bekerja membangun Indonesia yang lebih kuat, adil, dan bermartabat.

"Mari kita, sebagai bangsa Indonesia, merapatkan barisan dan merawat persatuan untuk menuju Indonesia Emas 2045," tambah dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Akhir Kasus Teror Air Keras Andrie Yunus: 4 Prajurit TNI Dipenjara, 2 Anggota Dipecat!
• 18 jam laludisway.id
thumb
Situasi AS-Iran Memanas Lagi, Trump Ancam Rebut Pulau Kharg
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Dedi Mulyadi Ajak Masyarakat Belanja di Warung Tetangga dan Pedagang Keliling, sang Gubernur Dorong Ekonomi Lokal
• 17 jam lalugrid.id
thumb
Perjalanan Caca Tengker Menjalani Program IVF Hingga Punya Anak Pertama
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Pemkot Bandung Dukung Penuh Konprov PWI Jabar 2026, 2.000 Wartawan Diprediksi Hadir Agustus
• 5 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.