Liputan6.com, Jakarta - Minggu malam, 7 Juni 2026, seharusnya menjadi waktu bermain bagi MWP (6) bersama teman-temannya. Layaknya anak-anak pada umumnya, ia meminta izin kepada sang ibu untuk bermain di Taman Kramat Pulo.
Malam itu, tak ada firasat buruk di benak Vira Ismayanti (26). Saat sedang menyetrika, ia mengizinkan putranya bermain. Namun suasana berubah ketika satu jam berlalu dan MWP tak kunjung pulang.
Advertisement
"Ada yang informasi temennya, katanya 'Wildan pingsan Bu, pingsan'," kata Vira saat ditemui di kediamannya, Kamis (11/6/2026).
"Terus sama teman-temannya diseret kakinya, diseret lalu disiram katanya. Saya pikir kok anak saya sampai diperlakukan seperti hewan," ungkapnya.
Tanpa berpikir panjang, Vira langsung menghampiri putranya yang sudah tergeletak. Ia meninggalkan pekerjaannya dan membawa MWP ke rumah sakit. Dalam benaknya saat itu, keselamatan sang anak menjadi hal utama.
Hal yang membuat Vira jengkel, teman-teman MWP tidak langsung memberikan pertolongan. Bahkan, menurut dia, beberapa orang dewasa di lokasi hanya menyaksikan kejadian tersebut.
Vira sempat membawa buah hatinya ke rumah sakit terdekat. Namun, korban kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Kepanikannya memuncak ketika MWP sempat berhenti bernapas.
Dalam kondisi kritis, Vira hanya berharap keajaiban datang untuk menyelamatkan anaknya. Menurut dia, dokter kemudian memberikan penanganan intensif sebelum MWP dipindahkan ke ruang ICU.
Saat kondisinya mulai membaik dan sadar, MWP akhirnya menceritakan apa yang dialaminya. Kepada sang ibu, bocah itu mengaku kerap menjadi sasaran kekerasan oleh teman-temannya.
"Besok harinya dia bilang, 'Mama, aku kemarin habis digebuk sama teman-teman'," ujar Vira.
Ketika ditanya penyebabnya, MWP mengaku sering dimintai uang oleh teman-temannya. Jika tidak diberi, ia akan dijauhi dan tidak diajak bermain.
"Katanya kalau main ke lapangan harus minta uang dulu. Kalau aku enggak dikasih uang, aku enggak ditemenin sama mereka," tutur Vira menirukan pengakuan anaknya.
Menurut Vira, praktik meminta uang tersebut tidak hanya dialami putranya, tetapi juga beberapa anak lain yang sering bermain di kawasan tersebut. Uang yang diminta kemudian digunakan para pelaku untuk membeli jajanan.
"Katanya buat jajan-jajan," ujarnya.




