Kondisi Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir cukup mengkhawatirkan. Setelah menghadapi pemadaman listrik total (blackout), pemadaman bergilir masih berlanjut. Di jalanan, truk-truk logistik mengantre berhari-hari untuk mendapatkan solar. Sementara itu, layanan air bersih terputus di Medan dan Deli Serdang.
Krisis ini dinilai sebagai imbas persoalan fiskal yang mulai berdampak pada layanan publik paling dasar. Jika tidak segera diatasi, kondisi di Sumatera Utara berpotensi memengaruhi berbagai sektor dan daerah lainnya.
Di tengah terik matahari yang menyengat, suara klakson sahut-menyahut di perempatan Jalan Cemara, Medan, Kamis (11/6/2026). Perempatan itu macet parah akibat antrean panjang truk dan kendaraan lain yang hendak mengisi BBM solar bersubsidi di SPBU Jalan Cemara.
Tidak ada petugas kepolisian yang mengatur lalu lintas yang nyaris stagnan itu. Hanya ada beberapa ”pak ogah”, yakni warga setempat yang mencoba mengurai kemacetan dengan mengatur kendaraan satu per satu sambil meminta imbalan. Para pengendara saling berteriak dan berebut jalur.
Di antara antrean itu, Gunawan Sihite (50) sesekali melajukan truknya beberapa meter lalu mematikan mesin. Setiap kali kendaraan di depannya bergerak maju, ia kembali menyalakan mesin, lalu mematikannya lagi.
”Solar di tangki saya sudah sekarat. Semoga mesinnya masih bisa hidup sampai giliran saya mengisi,” kata Gunawan.
Gunawan adalah sopir truk yang mengangkut minyak goreng dari pabrik di Medan untuk didistribusikan ke sejumlah daerah di Sumatera Utara. Sejak pagi hingga siang, ia berkeliling Kota Medan berburu solar agar bisa berangkat mengirim barang.
Antrean truk di SPBU kini menjadi pemandangan umum di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Antrean mengular tidak hanya di SPBU yang masih memiliki stok solar, tetapi juga di SPBU yang masih menunggu pasokan datang.
”Kondisi sekarang semakin parah. Untuk dapat tempat antrean saja susah. Kadang sudah tidak ada ruang lagi untuk mengantre karena antreannya terlalu panjang," kata Gunawan.
Arus logistik pun tersendat akibat kelangkaan solar. Sejumlah sopir menyebut perjalanan Medan-Jakarta yang biasanya memakan waktu lima hari kini bisa mencapai 10 hari karena truk harus mengantre untuk mendapatkan solar. Sejumlah ruas jalan juga mengalami kemacetan parah akibat antrean kendaraan.
Kondisi krisis tidak hanya terjadi di SPBU, tetapi juga di rumah-rumah warga. Pemadaman listrik bergilir masih terjadi di Sumatera Utara dengan durasi satu hingga dua jam.
”Kalau listrik padam, kedai kopi kami langsung sepi. Kami enggak punya genset untuk listrik darurat,” kata Fadli Alief, pemilik kedai kopi di Jalan Sisingamangaraja, Medan.
Saat listrik padam, Fadli bolak-balik mengangkut air menggunakan ember dari rumah tetangganya yang masih memiliki cadangan air di tandon. Air bersih sangat penting agar kedainya tetap bisa beroperasi.
Sambungan air minum dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi terputus total di tujuh kecamatan di Medan dan Deli Serdang sejak Selasa malam. Sebagian wilayah kembali mendapat pasokan air pada Kamis pagi. Namun, di beberapa tempat air masih belum mengalir.
PDAM Tirtanadi mengerahkan sejumlah mobil tangki untuk mendistribusikan air ke permukiman warga. Masyarakat mengantre sambil membawa ember dan galon untuk mendapatkan air bersih.
”Masyarakat sangat terpukul dengan kondisi saat ini. Mau cari BBM antreannya panjang dan harganya naik. Di rumah listrik padam dan air mati. Semoga pemerintah dan wakil rakyat bisa melihat kondisi ini," kata Fadli.
Fadli menilai wakil rakyat seharusnya lebih peka terhadap krisis yang sedang dihadapi masyarakat. Namun, saat warga bergulat dengan berbagai persoalan dasar, DPR justru membahas isu yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan mendesak masyarakat.
”Suara yang kita dengar dari Senayan adalah pengesahan Rancangan Undang-Undang Polri. Itu pun untuk memperpanjang masa jabatan dan memperluas kewenangan ke ranah sipil. Rakyat menghadapi krisis, wakil rakyat memikirkan kekuasaan,” kata Fadli.
Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sumatera Utara Herdensi mengingatkan pemerintah agar segera mencari jalan keluar untuk mengatasi krisis layanan publik yang terjadi di daerah tersebut.
"Kami dari Ombudsman melihat kondisi di Sumut sebagai krisis layanan publik. Apalagi ini terjadi secara bersamaan," kata Herdensi.
Menurut Herdensi, warga Sumatera Utara sedang menghadapi gangguan pada tiga layanan publik paling mendasar, yakni bahan bakar minyak, listrik, dan air bersih. ”Tiga hal ini seharusnya menjadi layanan dasar yang wajib dipenuhi negara,” ujarnya.
Herdensi juga mengingatkan bahwa pemerintah tidak boleh terlihat lebih mengutamakan kepentingan pejabat di tengah krisis. Di media sosial beredar informasi mengenai mobil pemadam kebakaran yang memasok air ke rumah-rumah pejabat dan keluarganya. Hal itu dinilai melukai rasa keadilan masyarakat. ”Semua masyarakat harus mendapat layanan yang sama,” kata Herdensi.
Ia menambahkan, Ombudsman telah meminta pemerintah dan penyedia layanan publik, yakni PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan PDAM Tirtanadi, untuk segera mengatasi krisis tersebut. Ia mengingatkan bahwa pelayanan publik diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, Wahyu Ario Pratomo, mengatakan, pemerintah harus mengambil langkah cepat untuk mengatasi kelangkaan solar bersubsidi di Sumatera Utara.
Menurut Wahyu, pemerintah sebaiknya terlebih dahulu mengakui adanya persoalan pasokan solar. "Jangan bilang pasokan solar aman, tetapi di lapangan stok sangat langka. Di hampir semua SPBU kendaraan mengantre untuk mengisi solar bersubsidi," kata Wahyu.
Wahyu menilai krisis layanan publik yang terjadi saat ini merupakan gambaran nyata dari tekanan fiskal yang dihadapi pemerintah akibat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Persoalan itu semakin pelik karena terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga minyak dunia sejak konflik di Timur Tengah pecah pada Februari lalu. Akibatnya, beban subsidi energi meningkat tajam.
Sebelumnya, Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, stok dan penyaluran BBM, khususnya Biosolar di Medan dan sekitarnya, dalam kondisi aman.
”Pertamina mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan melakukan pembelian BBM sesuai kebutuhan,” kata Fahrougi dalam keterangan tertulis.
Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirtanadi Ardian Surbakti mengatakan gangguan layanan air minum terjadi karena perbaikan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Deli Tua.
”Mesin di IPAM Deli Tua rusak akibat pemadaman listrik yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir,” kata Ardian.
Ardian menyebut perbaikan akan berlangsung selama dua hari. Pasokan air secara bertahap akan kembali mengalir ke rumah-rumah pelanggan mulai Kamis.





