MAKASSAR, FAJAR – Perebutan kursi Golkar Sulsel mengerucut. Dua sosok menguat, meski tak menutup munculnya figur lain.
KEDUANYA adalah Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Munafri Arifuddin (Appi). IAS sendiri punya kans besar menyalip para kandidat lain dalam perebutan kursi nomor satu Beringin Sulsel pada Musda mendatang.
IAS yanng juga mantan Wali Kota Makassar dua periode kabarnya menjadi kandidat terkuat saat ini. Bahkan dia disebut-sebut mampu merebut kepercayaan DPP untuk memimpin Golkar Sulsel.
Sumber FAJAR menyampaikan, diskresi segera diturunkan pada Jumat, 12 Juni 2026, hari ini. Setelah itu, Musda XI DPD I Golkar Sulsel akan segera dilaksanakan.
“Berdasarkan informasi, Pak IAS sudah dapat restu dan diskresi akan turun hari Jumat sepertinya,” ujar sumber itu kepada FAJAR, kemarin.
Salah satu kader Golkar lainnya juga menyampaikan, berat bagi Munafri untuk mendapat amanah dari DPP. Hanya saja, dia tidak menyebutkan alasannya. “Intinya, berubah mata angin,” tegasnya.
Beda Sikap
DPP Golkar disebut-sebut telah merestui dua nama kandidat calon ketua dan salah satunya akan mendapatkan diskresi. IAS berpeluang menyalip Appi pada detik-detilk akhir menjelang musda.
Ketua DPD II Golkar Gowa Ambas Syam menuturkan Golkar adalah partai terbuka dan sangat mengedepankan prinsip demokrasi. Prinsip demokrasi beringin melalui sistem pengambilan keputusan yang mengutamakan musyawarah untuk mufakat dan pergantian kepemimpinan yang kompetitif.
“Kami percaya bahwa kejayaan Partai Golkar hanya dapat dipertahankan apabila kehidupan demokrasi benar-benar tumbuh dan berjalan dengan baik,” jelasnya.
Saat ditanya terkait isu DPP Golkar merestui dua calon dan salah satunya akan mendapatkan diskresi, Ambas Syam merespons dengan santai.
“Itulah Golkar yang selalu memberikan ruang demokrasi. Bahkan yang tidak memenuhi syarat bisa berkompetisi maju di musda dengan cara mendapatkan diskresi dari DPP,” ucap Ambas Syam.
Diskresi itu merupakan hak dari DPP Golkar. Orang yang mendapatkan diskresi itu adalah orang yang pernah di Golkar kemudian pindah ke partai lain dan ingin kembali masuk ke Golkar. Kemudian orang yang pernah bermasalah dengan hukum.
“Memang ada banyak persyaratan yang diatur di konstitusi Golkar bagi yang ingin maju menjadi calon ketua Golkar. Kalau persyaratan-persyaratan itu tidak terpenuhi maka sang calon harus dapat diskresi dari DPP,” beber Ambas Syam.
Diskresi DPP disebut tidak memengaruhi proses perebutan kursi ketua DPD I Golkar Sulsel pada Musda XI nanti.
“Bukan berarti yang mendapatkan diskresi itu wajib DPD II berikan surat dukungan, kami punya hak untuk memilih calon yang kami inginkan dan DPD II tidak wajib memilih yang mendapatkan diskresi,” tegasnya.
“Diskresi itu tidak mempengaruhi proses musda. Proses musda tetap berjalan sesuai mekanisme dan aturan. Kami di Golkar itu, proses yang demokratis dan sesuai konstitusi partai selalu kami kedepankan dan wajib dilaksanakan bagi siapapun kader dan pengurus Golkar,” tambah Ambas.
Kandidat yang mendapatkan diskresi itu merupakan figur yang tidak memenuhi syarat utama yakni, prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela (PDLT). “Diskresi itu untuk menggugurkan persyaratan calon ketua, yakni PDLT,” lanjutnya.
Menurutnya, sosok Appi telah memenuhi persyaratan PDLT untuk maju di Musda Golkar Sulsel. Makanya, 21 DPD II se-Sulsel mendukung Appi karena dia layak memimpin Golkar Sulsel untuk merebut kembali kejayaan beringin.
DNA kepemimpinan Golkar selama ini adalah yang dekat dengan kekuasaan dan memiliki finansial. Keduanya dimiliki Appi. Ambas Syam menegaskan bahwa 21 DPD II Golkar se-Sulsel saat ini makin solid mendukung Munafri.
“Tetap solid. Kami ini bahkan tambah solid. Sudah ada yang menelpon untuk kami pindah pilihan tapi kami tetap mendukung penuh Pak Appi,” tegasnya. (wid-ams/zuk)





