Edward AS
Kabupaten Pangkep
Pagi baru saja menyapa Desa Tompobulu. Kabut tipis menggantung di antara perbukitan, sementara udara dingin khas pegunungan menyelimuti rumah-rumah warga yang berdiri di lereng Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Di desa yang berada sekitar 800 meter di atas permukaan laut itu, kehidupan berjalan sederhana. Sebagian warga berangkat ke kebun sejak matahari belum sepenuhnya muncul. Ada yang menanam sayuran, mengurus tanaman perkebunan, hingga merawat lahan yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan keluarga mereka.
Namun beberapa tahun terakhir, Tompobulu tak lagi hanya dikenal sebagai desa pertanian. Di balik hamparan hijau yang membentang, masyarakat mulai menemukan peluang baru.
Alam yang selama ini mereka lihat setiap hari ternyata menyimpan nilai ekonomi yang besar. Budaya lokal yang diwariskan turun-temurun pun perlahan berubah menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan roda perekonomian desa.
Salah satu contohnya adalah saraba daun kelor. Minuman tradisional berbahan dasar jahe dan daun kelor itu dulunya hanya disajikan saat berkumpul bersama keluarga atau tamu yang datang berkunjung. Kini, saraba daun kelor menjadi salah satu produk khas yang mulai dikenal wisatawan.
Bagi masyarakat Tompobulu, saraba bukan sekadar minuman penghangat tubuh. Di balik secangkir saraba tersimpan cerita tentang tradisi, tentang tanaman kelor yang tumbuh subur di desa, dan tentang upaya warga mengubah kearifan lokal menjadi peluang usaha.
Perjalanan Tompobulu menuju desa yang lebih maju memang tidak terjadi dalam waktu singkat. Masyarakat bersama pemerintah desa perlahan membangun fondasi. Mereka menata potensi wisata, memperkenalkan produk lokal, dan membangun kesadaran bahwa desa memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan kepada dunia luar.
Usaha tersebut mulai membuahkan hasil. Nama Tompobulu semakin dikenal setelah meraih berbagai penghargaan bergengsi. Desa ini berhasil menjadi juara nasional dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia, meraih penghargaan pada Lomba Desa Pariwisata Kementerian Desa, hingga masuk nominasi desa terbaik dalam program Desa BRILiaN.
Bagi Kepala Desa Tompobulu, Abdul Kadir Hakim, capaian tersebut bukanlah garis akhir. Sebaliknya, penghargaan itu menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk terus bergerak maju.
“Capaian ini menjadi kebanggaan bagi kami sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan potensi desa,” ujarnya.
Di tengah upaya itu, dukungan dari berbagai pihak mulai mengalir. Salah satunya melalui program Desa BRILiaN yang dijalankan oleh BRI.
Program tersebut hadir ketika sebagian besar warga Tompobulu tengah berupaya mengembangkan usaha mereka. Banyak warga merupakan pelaku UMKM dan penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang membutuhkan pendampingan untuk memperkuat usaha maupun pengelolaan ekonomi desa.
Melalui program itu, masyarakat mendapatkan pembinaan mengenai penguatan kelembagaan desa, digitalisasi layanan keuangan, pengembangan ekonomi berkelanjutan, hingga inovasi dalam mengelola potensi lokal.
Perubahan pun mulai terlihat. Warga tidak lagi hanya memandang desa sebagai tempat tinggal. Mereka mulai melihat desa sebagai ruang yang menyimpan peluang. Setiap potensi yang ada, mulai dari hasil pertanian, produk olahan, hingga objek wisata, perlahan dipetakan dan dikembangkan agar memberi manfaat ekonomi yang lebih luas.
Salah satu potensi terbesar yang kini menjadi andalan adalah pariwisata. Bentang alam Tompobulu menawarkan pemandangan yang sulit ditemukan di banyak tempat. Perbukitan hijau, udara sejuk, serta lanskap pegunungan yang masih alami menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Di antara berbagai destinasi yang ada, Puncak Pendagang Bulu Sarang menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. erada di Dusun Bulu-Bulu dengan ketinggian mencapai 1.353 meter di atas permukaan laut, lokasi ini menawarkan panorama yang memanjakan mata. Dari puncaknya, hamparan pegunungan terlihat membentang tanpa batas, menghadirkan pengalaman yang membuat banyak pengunjung ingin kembali lagi.
Pengalaman itulah yang dirasakan Rahmat Hidayat, wisatawan asal Makassar yang datang bersama sejumlah rekannya untuk menikmati suasana alam Tompobulu.
“Begitu sampai di puncak, rasa lelah selama perjalanan langsung terbayar. Pemandangannya luar biasa, udaranya sejuk, dan yang paling saya suka suasananya masih alami. Tempat seperti ini punya potensi besar untuk terus berkembang,” tuturnya.
Sementara itu, Nur Aisyah, pengunjung asal Maros, mengaku bukan hanya panorama alam yang membuatnya terkesan. Ia juga menikmati pengalaman berinteraksi dengan warga serta mencicipi kuliner khas desa.
“Selain alamnya indah, saya juga senang karena bisa mencicipi saraba daun kelor. Rasanya unik dan menjadi pengalaman yang berbeda. Warganya juga ramah sehingga membuat kami merasa nyaman selama berkunjung,” katanya.
Kehadiran wisatawan membawa berkah tersendiri bagi warga. Warung-warung kecil mulai tumbuh. Produk kuliner lokal semakin laris. Sebagian warga menyediakan jasa pemandu wisata, sementara yang lain menjual hasil kerajinan dan produk khas desa.
Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, mengatakan Desa BRILiaN memang dirancang untuk membantu desa mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki.
“Desa BRILiaN dirancang sebagai program pemberdayaan desa berbasis empat pilar utama, yakni penguatan kelembagaan desa seperti BUMDes dan koperasi, digitalisasi layanan keuangan, pengembangan ekonomi berkelanjutan, serta inovasi desa. Melalui program ini, BRI mendorong masyarakat desa untuk terus berinovasi dan menciptakan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi,” jelasnya.
Menurut Akhmad, saat ini lebih dari 5.200 desa di Indonesia telah bergabung dalam program tersebut dan terus mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan.
“BRI akan terus memperkuat peran sebagai mitra strategis dalam pembangunan desa, sehingga potensi lokal dapat berkembang secara optimal dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Bagi Tompobulu, angka itu mungkin hanya statistik. Namun bagi masyarakat desa, yang terpenting adalah bagaimana pendampingan tersebut membantu mereka membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Hari ini, Tompobulu bukan lagi sekadar desa pegunungan yang tenang di kawasan Balocci. Desa ini menjelma menjadi ruang tempat alam, budaya, dan semangat gotong royong bertemu dalam satu tujuan yang sama: menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat.
Di tengah kabut yang turun setiap pagi dan hamparan hijau yang mengelilingi perkampungan, Tompobulu terus menulis kisahnya sendiri. Sebuah kisah tentang desa yang tidak menunggu perubahan datang, melainkan memilih menciptakan perubahan itu dengan kekuatan yang dimilikinya sendiri. (*)





