CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Gaya hidup masyarakat modern yang serba cepat sering kali menuntut pria untuk terus bergerak produktif, namun ironisnya, membuat mereka minim aktivitas fisik.
Ditambah dengan tekanan stres yang tinggi serta faktor genetik, kesehatan saluran kemih kini menjadi ancaman nyata bagi para pria di usia produktif. Sayangnya, kesadaran untuk memeriksakan diri masih tergolong rendah.
"Banyak pria sering kali mengabaikan gejala gangguan saluran kemih dan baru ke dokter saat gejalanya memburuk. Meski dianggap penyakit orang tua, faktanya saat ini gangguan saluran kemih bisa dialami pria di usia berapa saja," ungkap dr. Dyandra Parikesit, Spesialis Urologi dari Eka Hospital MT Haryono.
Dikutip dari ANTARA, Jumat (12/6), sebagai langkah antisipasi, dr. Dyandra menyarankan agar para pria melakukan skrining kesehatan urologi berkala yang disesuaikan dengan kelompok usia mereka.
Bagi pria yang menginjak usia 30 tahun, fokus utama skrining terletak pada program kehamilan dan kesehatan reproduksi.
Berada di puncak karier sering kali membawa efek samping berupa stres tinggi, kebiasaan merokok, dan gaya hidup yang terlalu banyak duduk. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang memicu gangguan urologi di usia muda.
Untuk mereka yang sedang merencanakan keturunan, analisis sperma melalui laboratorium menjadi hal yang wajib dilakukan demi mengevaluasi kuantitas, pergerakan, dan bentuk sperma. Selain itu, ada satu ancaman tersembunyi yang perlu diwaspadai, varikokel.
"Ada juga deteksi dini varikokel untuk mendeteksi varikokel yaitu pembengkakan pembuluh darah vena di dalam kantung testis. Varikokel merupakan salah satu penyebab utama infertilitas pria yang paling sering ditemukan pada usia produktif, namun sering kali tidak disadari," jelas dr. Dyandra.
Memasuki usia 45 tahun, tubuh pria mulai mengalami penurunan produksi hormon testosteron secara perlahan, dibarengi dengan berkurangnya elastisitas jaringan saluran kemih. Pada fase ini, evaluasi fungsi seksual dan deteksi awal gejala prostat menjadi sangat krusial.
Evaluasi terhadap disfungsi ereksi, misalnya, bukan sekadar masalah ranjang, melainkan bisa menjadi penanda awal adanya kerusakan atau penyumbatan pembuluh darah yang berkaitan erat dengan penyakit jantung koroner, hipertensi, atau diabetes mellitus.
Pria di usia ini juga disarankan melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala (kadar Ureum dan Kreatinin) untuk mendeteksi tanda-tanda gagal ginjal sejak dini.
"Pemantauan gejala berkemih meliputi aliran urin yang melemah, harus mengejan saat berkemih, urin menetes di akhir BAB, atau sering terbangun di malam hari hanya untuk buang air kecil," tambah dr. Dyandra mengenai gejala yang harus diwaspadai.
Ketika menginjak usia setengah abad, pemeriksaan saluran kemih tahunan hukumnya menjadi wajib. Di fase ini, kelenjar prostat pria mengalami pertumbuhan sekunder yang rentan memicu keganasan.
Salah satu cara mendeteksinya adalah lewat pemeriksaan darah sederhana untuk mengukur kadar protein PSA (Prostate-Specific Antigen).
Kenaikan kadar PSA bisa menjadi indikator awal adanya gangguan, termasuk risiko kanker prostat, bahkan sebelum gejala fisik sempat muncul.
Selain itu, dokter biasanya akan menggunakan uroflowmetry—sebuah prosedur noninvasif untuk mengukur volume, kecepatan, dan durasi pancaran urin.
Grafik dari alat ini sangat membantu dokter menilai tingkat keparahan sumbatan saluran kemih yang biasanya disebabkan oleh Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan urologi adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh ditawar.
"Jangan menunda pemeriksaan urologi hanya karena merasa belum ada keluhan yang menyakitkan. Melakukan skrining sejak dini dapat membantu mempertahankan fungsi reproduksi, seksual, dan sistem ekskresi urin yang optimal hingga usia lanjut," tutup dr. Dyandra.




