BI Sebut 'Kejutan' Kenaikan BI Rate 5,50% Dorong Penguatan Rupiah

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat adanya respons positif dari investor asing pasca-keputusan bank sentral yang menempuh langkah di luar kebiasaan dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate).

Manuver BI tersebut diklaim sukses membawa nilai tukar rupiah kembali menguat di bawah level Rp18.000 per dolar AS.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, kurs rupiah mulai menunjukkan penguatan dari level Rp18.171 per dolar AS pada Senin (8/6/2026) menjadi Rp17.981 per dolar AS pada Kamis (11/6/2026). Posisi tersebut menunjukkan rupiah telah terapresiasi sekitar 1,05 dalam kurun waktu tiga hari.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa penguatan nilai tukar tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya aliran masuk modal asing (capital inflow) ke instrumen keuangan domestik.

"Pasca kenaikan BI-Rate menjadi 5,50%, serta penguatan imbal hasil SRBI [Sekuritas Rupiah Bank Indonesia] dan SBN [Surat Berharga Negara], investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan tersebut," ujar Denny dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).

Dia menjelaskan, antusiasme asing tersebut tecermin dari meningkatnya aliran masuk modal ke instrumen SRBI setelah lelang yang digelar pada 10 Juni 2026. Tak hanya itu, inflow juga mulai kembali membanjiri pasar SBN, khususnya instrumen bertenor pendek dan menengah.

Baca Juga

  • Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Jumat 12 Juni 2026
  • Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.935, Investor Pantau Demo Jakarta & Arah Timur Tengah
  • Rupiah Loyo & Bunga Tinggi, SMRA Lirik Opsi Refinancing Utang

Sejalan dengan derasnya modal asing yang kembali masuk ke instrumen investasi portofolio domestik, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tren penguatan dan kembali bertengger di bawah level Rp18.000 per dolar AS.

Ke depan, Denny memastikan otoritas moneter akan terus mencermati dinamika pasar keuangan global dan domestik secara ketat.

Bank Sentral juga berkomitmen untuk menjaga daya tarik imbal hasil instrumen keuangan dalam negeri guna mendukung keberlanjutan aliran masuk modal asing.

"Bank Indonesia juga akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi non-deliverable forward [NDF] di pasar offshore serta transaksi spot dan Domestic NDF [DNDF] di pasar domestik secara konsisten dan terukur," katanya.

Sebagai pengingat, bank sentral sebelumnya mengerek BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% usai rupiah terus mengalami tekanan. Keputusan tersebut diambil di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan, yakni melalui RDG Mingguan yang diselenggarakan pada Selasa (9/6/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Sebut Pihak Pemkab Muara Enim Siapkan Uang dari Rekanan untuk Suap BPK
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
Latihan Kerja Akpol di Polres Malang Fokus Perkuat Pengalaman Lapangan Taruna
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Idrus Golkar Anggap Fokus Bahlil Buat Prabowo-Gibran, Bukan Maju Capres
• 17 jam lalujpnn.com
thumb
Masalah Tunawisma di Australia Meningkat, Terungkap dengan Kematian Pria Ini
• 4 jam laludetik.com
thumb
Titik Balik Gerakan Buruh: Dari Jalanan ke Lingkar Kekuasaan
• 5 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.