Bisnis.com, CIREBON - Warga Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, mengharapkan pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa segera dilakukan.
Saat ini, sebagian warga telah lebih dulu kehilangan rumah dan ruang hidup akibat terjangan air laut yang hampir setiap hari memasuki permukiman.
Kepala Desa Ambulu Sunaji mengatakan kondisi wilayahnya kini telah memasuki fase darurat. Banjir rob tidak lagi datang pada musim tertentu, melainkan menjadi ancaman rutin yang mengubah wajah desa pesisir tersebut.
"Banjir rob menerjang hampir setiap hari. Dampaknya bukan hanya kerusakan rumah dan ekonomi warga, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis masyarakat karena mereka hidup dalam kecemasan terus-menerus," kata Sunaji, Jumat (12/6/2026).
Berdasarkan data pemerintah desa, sekira 60 persen kawasan permukiman Desa Ambulu kini terancam tenggelam akibat kombinasi abrasi dan banjir rob.
Ribuan warga terdampak oleh masuknya air laut yang terus berulang. Sejumlah rumah mengalami kerusakan berat hingga akhirnya ditinggalkan pemiliknya karena tidak lagi layak dihuni.
Baca Juga
- Cerita Ujang, Korban Scam Kamboja Dipulangkan ke Sumedang Setelah 10 Bulan Hilang Kontak
- Penumpang Kereta Api Cirebon Turun Tiga Kali Lebih Dalam dari Bandung
- Dedi Mulyadi Siapkan Aturan Khusus bagi Ibu Berbalita Calon Pekerja Migran
Fenomena rumah kosong mulai menjadi pemandangan yang lazim di beberapa titik desa. Bangunan yang dahulu dihuni keluarga nelayan dan petambak kini berdiri tanpa penghuni setelah pemiliknya memilih mencari tempat tinggal lebih aman.
Sunaji mengatakan, Pemerintah Desa Ambulu sebenarnya telah berupaya mencari solusi sejak beberapa tahun terakhir. Salah satu langkah yang sempat dilakukan adalah melaporkan kondisi abrasi dan rob kepada pemerintah pusat.
Respons tersebut berbuah pembangunan tanggul permanen oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung pada Juli 2024.
Namun keterbatasan anggaran membuat pembangunan baru mampu menjangkau sekitar 70 meter dari total kebutuhan tanggul sepanjang 1,5 kilometer di sisi timur permukiman.
"Pembangunan sudah dimulai, tetapi belum bisa menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan perlindungan," ujar Sunaji.
Ketika rob semakin sering menerjang, pemerintah desa kemudian mengambil langkah mandiri. Pada Januari 2025, pembangunan tanggul darurat dilanjutkan sepanjang 1,43 kilometer menggunakan pancang bambu dan waring.
Upaya tersebut sempat menahan laju air laut dan memberikan perlindungan sementara bagi warga.
Namun konstruksi sederhana itu tidak mampu bertahan lama menghadapi gelombang pasang yang terus berulang. Tanggul kembali jebol dan air laut kembali masuk ke kawasan permukiman.
Tidak berhenti di tingkat daerah, pemerintah desa juga berupaya mencari dukungan langsung ke pemerintah pusat.
Pada Oktober 2025, Sunaji mendatangi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengajukan bantuan penanganan banjir rob.
Permohonan tersebut kemudian diarahkan kepada Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPUJ) yang berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur.
Pada Desember 2025, tim gabungan dari sejumlah kementerian dan lembaga bersama BOPPUJ turun langsung ke Desa Ambulu untuk melihat kondisi lapangan.
Dalam kunjungan tersebut, Ambulu disebut masuk dalam pembahasan Program Strategis Nasional pembangunan Giant Sea Wall.
Menurut Sunaji, informasi tersebut menjadi harapan baru bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan ancaman abrasi dan rob.
"Kami mendapat informasi bahwa Ambulu masuk dalam pembahasan program Giant Sea Wall. Ini menjadi harapan besar bagi masyarakat," katanya.





