TANGERANG, KOMPAS.com - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax memicu gelombang migrasi pengendara motor ke Pertalite.
Lonjakan permintaan ini membuat stok BBM subsidi di sejumlah SPBU wilayah Kota Tangerang ludes lebih cepat dari biasanya.
Salah satunya adalah SPBU 34.151.16 Raden Saleh, Karang Mulya, Kota Tangerang.
Terpasang pelat pengumuman bertuliskan "Pertalite Habis" pada Jumat (12/6/2026) pukul 11.00 WIB.
Baca juga: Warga Ogah Beralih ke Pertalite meski Harga Pertamax Naik: Sayang Mesinnya
Nurohman, shift leader di SPBU 34.151.16 mengungkapkan bahwa sejak kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter, terjadi penurunan penjualan Pertamax.
"Sesudah kenaikan kemarin, anjlok turun lagi Pertamax, sekitar 20 persen. Akhirnya ramainya pindah ke Pertalite," ujar Nurohman saat ditemui Kompas.com, Jumat (12/6/2026).
Pada awal pengumuman kenaikan, antrean sepeda motor di jalur Pertalite seolah tidak ada habisnya hingga pintu gerbang SPBU harus ditutup pada pukul 22.00 WIB.
Tingginya permintaan ini diperparah dengan kendala pengiriman pasokan.
"Seharusnya permintaan kami 16 kiloliter (KL) datang sekaligus, tapi di sana dipecah jadi dua rute, masing-masing 8 KL. Akibatnya yang 8 KL cepat habis, sementara sisa kirimannya telat hampir setengah hari. Tadi jam 10 pagi stok sudah kosong," jelasnya.
Kekosongan stok yang terjadi berulang kali ini membawa kerugian besar bagi pengelola, baik dari sisi pendapatan maupun biaya perawatan alat.
Nurohman menyebut, membiarkan tangki bensin benar-benar kering berisiko merusak mesin.
"Kami harus sisakan sedikit stok agar mesin tidak 'menggantung'. Kalau sampai kehabisan total, mesin di bawah bisa jebol dan biaya maintenance-nya bisa puluhan juta rupiah," kata dia.
Baca juga: Pertamax Naik Bikin Pusing Warga Jakarta
Warga dan pengelola SPBU berharap pemerintah serta Pertamina lebih responsif terhadap kendala distribusi di lapangan.
Mereka meminta agar stok BBM bersubsidi tetap terjaga ketersediaannya di tengah beban ekonomi masyarakat yang kian berat.
"Seharusnya stok itu harus tetap berjalan ke masyarakat, biar konsumen pun nggak menjerit lah. Kami juga kasihan yang sudah antre tiba-tiba kehabisan kayak tadi. Sedangkan kita di sini sudah kesulitan juga capek komplain sana-sini, udah ngirim stok foto, udah segala macem lah kami biar cepat diantar gitu tapi nyatanya ya seperti ini," ujar Nurohman.





