Pernahkah mendengar jingle atau melodi di sebuah toko atau swalayan, lalu alunan musiknya terus terngiang-ngiang di kepala selama beberapa hari berikutnya? Atau, pernahkah mendengar lagu yang menjadi latar suara di TikTok yang kemudian terus berputar berulang-ulang di pikiran, seperti ”My Little Bolu Ketan” yang belakangan viral?
Hal tersebut ternyata lumrah dan dialami banyak orang. Para ahli bahkan telah memberikan istilah pada kondisi tersebut sebagai earworm. Kondisi saat sebuah lagu atau musik terus terngiang-ngiang di dalam pikiran. Tidak jarang seseorang sampai tidak sadar tiba-tiba menyanyikan lagu tersebut.
Seorang ahli saraf dari Inggris, Oliver Sacks dikutip dari laman Psychology Today menyampaikan, earworm atau yang lebih tepat disebut sebagai brainworm merupakan segala bentuk pikiran yang berulang-ulang. Itu tidak hanya berbentuk musik. Earworm hanya salah satu bentuk brainworm.
Secara neurologis, earworm terjadi karena adanya proses yang disebut long-term potential (LTP). Proses tersebut merupakan mekanisme alami saat koneksi antar-sel saraf semakin kuat setiap kali diaktifkan. Semakin sering seseorang mendengar atau memikirkan sebuah melodi, semakin kuat jalur saraf tersebut terbentuk dan semakin sulit pula koneksi tersebut dihentikan.
Karena itu, kondisi earworm bisa terasa seperti lagu yang diputar-putar terus di pikiran. Earworm ini semakin mudah terjadi di era digital. Orang semakin mudah mendengar lagu di Youtube atau Spotify. Ditambah lagi, media sosial seperti TikTok atau Instagram juga membentuk algoritma tersendiri yang menyodorkan suara yang sama di setiap unggahan sampai lagu tersebut seperti tersangkut di pikiran.
Psikolog musik dari Goldsmith’s College London, Vicky Williamson dalam artikel di BBC, mengatakan, kondisi earworm dipicu oleh dua hal utama, yakni paparan terhadap musik atau lagu baru, serta paparan pada lagu yang diulang secara terus-menerus. Itu yang menjelaskan mengapa jingle iklan atau lagu yang diputar berkali-kali di media sosial sulit untuk dilupakan.
Lantas, mengapa otak melakukan hal tersebut? Daniel Levitin, pakar neurosains musik dari McGill University, Montreal, Kanada, menuturkan, manusia pada dasarnya perlu mengingat banyak hal di dalam hidup. Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia telah menggunakan lagu untuk mengingat hal-hal penting tersebut.
Kombinasi antara ritme, rima, dan melodi membuat informasi jauh lebih mudah diingat dibandingkan kata-kata biasa. Sejumlah orang mungkin juga pernah menggunakan melodi sebuah lagu untuk mengingat suatu hafalan saat ujian.
Psikiater RS Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo Kembaren, akhir Mei 2026 lalu, menyampaikan, musik atau lagu yang biasanya mudah membuat terngiang-ngiang biasanya memiliki karakteristik, seperti terbentuk dari melodi sederhana. Selain itu, liriknya juga pendek dan repetitif, ritme yang mudah diikuti, terkait dengan humor, serta sering muncul di media sosial.
Ketika lagu diputar berulang kali, jalur saraf tertentu akan menjadi kuat. Hal ini yang disebut sebagai long-term potential (LTP). Pada kondisi tersebut, otak seperti memutar ulang suatu lagu, meskipun musik sudah berhenti.
“Ketika suatu lagu terus-menerus terpapar melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, Reels, atau platform lain, otak akan menganggap lagu tersebut sebagai informasi yang penting sehingga lebih mudah tersimpan dalam memori jangka pendek,” tuturnya.
Lahargo menjelaskan, saat mendengarkan musik, beberapa area di otak menjadi aktif secara bersamaan. Itu termasuk bagian korteks auditori yang berfungsi untuk memproses suara, hippocampus terkait memori, amygdala terkait emosi, dan sistem reward dopamin yang terkait dengan rasa senang dan penasaran.
Ketika lagu diputar berulang kali, jalur saraf tertentu akan menjadi kuat. Hal ini yang disebut sebagai long-term potential (LTP). Pada kondisi tersebut, otak seperti memutar ulang suatu lagu, meskipun musik sudah berhenti.
Menurut Lahargo, kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang kecanduan terhadap suatu lagu. Sebagian besar kondisi earworm normal terjadi pada banyak orang. Meski begitu, mekanisme dari earworm mirip dengan kondisi kecanduan ringan. Itu seperti paparan berulang, aktivasi sistem dopamin, dan muncul dorongan untuk mendengarkan kembali.
“Bedanya, earworm umumnya tidak sampai menyebabkan gangguan fungsi berat seperti kecanduan zat atau judi,” ucapnya.
Umumnya, lagu-lagu yang memunculkan earworm cenderung unik, lucu, mengejutkan, dan mudah diprediksi. Secara psikologis, itu disebut efek more exposure, yaitu kondisi ketika otak akan lebih menyukai suatu hal karena sering terpapar dan semakin akrab dengan hal tersebut. Hal itu pula yang menjelaskan mengapa terkadang otak tidak menyimpan suatu hal yang paling penting yang sulit diingat.
Yang lebih berbahaya justru pada pola konsumsi media sosial yang berlebihan. Itu dapat meningkatkan distraksi, menurunkan rentang perhatian
Saat terjadi earworm, sejumlah orang mungkin sampai merasa terganggu. Apalagi jika lagu tersebut tidak penting dan tidak bermakna. Meski sulit, kondisi earworm bisa dihentikan.
Lahargo menuturkan, cara pertama yang bisa dilakukan dengan mendengar lagu sampai selesai. Terkadang, kondisi earworm muncul karena otak merasa sebuah lagu belum tuntas. Mendengar sebuah lagu versi lengkap bisa membantu memberi rasa selesai pada otak.
Selain itu, coba alihkan dengan aktivitas yang melibatkan konsentrasi, seperti membaca, berhitung, bermain teka-teki, atau melakukan percakapan yang fokus. Cara-cara itu bisa mengurangi ruang bagi lagu tersebut.
Meski begitu, Lahargo menyampaikan, kondisi earworm jangan dilawan terlalu keras. Semakin otak dipaksa untuk tidak memikirkan sesuatu, itu semakin membuat otak terus mengingat-ingat hal tersebut.
“Seperti kata psikologi, ketika jangan diminta memikirkan gajah merah yang muncul di pikiran justru gajah merah,” ucap Lahargo.
Kondisi earworm umumnya tidak berbahaya. Dampak earworm bisa membangun seseorang pada kondisi tertentu. Lagu-lagu tertentu bisa meningkatkan suasana hati seseorang. Saat mendengarkan lagu viral di media sosial juga bisa memunculkan rasa kebersamaan karena mengikuti tren yang sama dengan orang lain.
Namun, jika sebuah lagu terus terngiang-ngiang, itu bisa memicu terjadi stres, cemas, dan sulit berkonsentrasi pada sebagian orang. Belum ada bukti bahwa kondisi earworm menyebabkan gangguan kesehatan mental jangka panjang.
“Yang lebih berbahaya justru pada pola konsumsi media sosial yang berlebihan. Itu dapat meningkatkan distraksi, menurunkan rentang perhatian (attention span), dan membuat otak terbiasa mencari stimulasi cepat,” kata Lahargo.





