Rupiah Tertekan, XLSmart Ubah Strategi Layanan untuk Pelanggan

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum mendorong XLSmart untuk mengubah strategi penawaran layanan kepada pelanggan. Perusahaan memastikan tetap berfokus menghadirkan paket data dengan harga yang kompetitif di tengah gejolak nilai tukar.

Group Head Corporate Communications & Sustainability XLSmart, Reza Mirza mengatakan perseroan menyadari kondisi pelemahan rupiah yang sedang berlangsung. Meski demikian, perusahaan tetap menjalankan strategi jangka panjang yang berpusat pada peningkatan kualitas basis pelanggan kami.

“Saat ini kami juga masih fokus dengan penawaran berbagai layanan data yang ada dengan berbagai pilihan harga yang kompetitif sesuai dengan kebutuhan pelanggan," kata Reza kepada Katadata.co.id, Jumat (12/6).

Selain menjaga daya saing produk, XLSmart juga menegaskan kondisi fundamental keuangannya tetap terjaga. Reza menyebut seluruh utang perusahaan menggunakan denominasi rupiah sehingga tidak mempengaruhi kemampuan pembayaran.

"XLSmart senantiasa menjaga ketahanan finansial kami secara bertanggung jawab. 100% nilai utang kami dalam rupiah,” ujarnya.

Dari sisi investasi, perusahaan juga memastikan belanja modal atau capital expenditure (capex) tetap diarahkan untuk memperkuat kualitas layanan. Selain itu juga memperluas pengembangan teknologi peningkatan kualitas jaringan 5G.

Penyebab Rupiah Tertekan

Pergerakan nilai tukar rupiah beberapa hari lalu sempat menyentuh Rp 18.000 per dolar AS. Namun pada hari ini rupiah sudah mulai menguat, ditutup di level Rp 17.860 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang domestik ini bukan hanya dipicu oleh gejolak global, tetapi juga dipengaruhi persoalan struktural dan kebijakan di dalam negeri. Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia dalam riset terbarunya menyebutkan pelemahan rupiah saat ini setidaknya dipicu oleh empat faktor besar mulai dari lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik, memburuknya persepsi fiskal Indonesia, ketidakpastian kebijakan pemerintah, hingga persoalan struktural dalam neraca pembayaran Indonesia.

Faktor pertama yang menyebabkan rupiah melemah adalah tekanan eksternal, terutama meningkatnya tensi geopolitik global setelah operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dalam operasi bernama Operation Epic Fury, yang dimulai 28 Februari 2026. Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia secara drastis.

Pada periode 27 Februari hingga 29 Mei 2026, harga minyak Brent melonjak sekitar 27% menjadi US$ 91,8 per barel. Bahkan pada puncaknya, 31 Maret 2026, harga Brent sempat menyentuh US$ 118,35 per barel. Kenaikan itu jauh melampaui asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang hanya dipatok sebesar US$ 70 per barel.

Menurut perhitungan CORE pada Maret 2026, selisih harga minyak tersebut berpotensi meningkatkan defisit anggaran negara sekitar Rp 23 triliun hingga Rp 446 triliun, tergantung skenario subsidi dan kebijakan fiskal pemerintah.

Faktor kedua berasal dari dalam negeri dan berkaitan langsung dengan kepercayaan pasar terhadap pengelolaan fiskal Indonesia. Dalam waktu yang relatif berdekatan, tiga lembaga pemeringkat internasional utama, Moody’s, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings mengeluarkan peringatan terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Moody’s Ratings pada 5 Februari 2026 menurunkan outlook kredit Indonesia dari “stabil” menjadi “negatif”. Menurut Moody’s, keputusan tersebut dipicu oleh menurunnya prediktabilitas dan koherensi kebijakan pemerintah.

Faktor keempat, saat ini pasar melihat pola kebijakan yang dianggap mendadak, minim sosialisasi, dan sulit diprediksi. Kondisi ini menciptakan persepsi bahwa aturan bisnis di Indonesia dapat berubah sewaktu-waktu.

Salah satu kasus yang paling disorot adalah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI). Perusahaan tersebut didirikan pada 18 Mei 2026 sebagai anak usaha Danantara yang ditunjuk menjalankan sistem ekspor satu pintu untuk komoditas strategis seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy.

Kebijakan ini diumumkan Presiden Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR hanya dua hari setelah perusahaan resmi berdiri.

Lalu faktor keempat, CORE menilai tekanan terhadap rupiah sebenarnya tidak hanya muncul akibat sentimen jangka pendek, tetapi juga berasal dari struktur ekonomi Indonesia. Selama satu dekade terakhir, neraca transaksi berjalan Indonesia hampir selalu mengalami defisit.

Pada kuartal I 2026 misalnya, defisit transaksi berjalan mencapai US$ 4 miliar atau Rp 71,88 triliun (kurs Rp 17.971 per dolar AS. Angka ini melampaui total defisit transaksi berjalan sepanjang tahun 2025. Jika dibedah lebih dalam, sumber utama defisit berasal dari sektor jasa dan pendapatan primer.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Periksa Petinggi Indonesian Audit Watch di Kasus Korupsi Bea Cukai
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Kemenhaj: 69.388 Jamaah Haji Telah Tiba di Indonesia, Jangan Bawa Zamzam di Koper
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Kasus Pesta Gay di Karawang Viral di Medsos, Dedi Mulyadi Siapkan Solusi dengan Opsi Masuk Barak Militer
• 15 jam lalugrid.id
thumb
Mandiri Tembus CIPS, Transaksi RI–China Kini Lebih Cepat dan Efisien
• 7 jam laludisway.id
thumb
Rupiah Menguat 129 Poin pada Penutupan Perdagangan, Sentimen Fiskal dan Kebijakan BI Jadi Penopang
• 1 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.