Bisnis.com, JAKARTA – Harga Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran US$61.000, terpangkas 52% dari cycle high-nya di US$126.296 yang dicapai pada Oktober 2025. Berdasarkan siklusnya, rebound harga Bitcoin diperkirakan akan terjadi pada 2027.
Secara historis, Bitcoin sering bergerak mengikuti siklus halving. Halving Bitcoin adalah mekanisme dalam jaringan Bitcoin yang secara otomatis mengurangi imbalan (reward) yang diterima penambang sebesar 50% setiap sekitar empat tahun sekali. Tujuan utama halving adalah memperlambat laju penciptaan Bitcoin baru sehingga pasokannya menjadi semakin terbatas seiring waktu.
Biasanya, harga Bitcoin cenderung mengalami kenaikan dalam 12–18 bulan setelah halving. Pasca halving periode April 2024, tren bullish Bitcoin mencapai puncaknya pada Oktober 2025, dan mulai terkoreksi hingga saat ini.
Analis Reku Andri Fauzan menjelaskan bahwa saat ini pasar sedang berada di fase markdown siklus pasca-halving 2024, dan pola historis ini dia nilai masih cukup kuat meski ada dinamika baru dari institusi.
Menurutnya, 2026 ini menjadi tahun reset yang penuh tekanan, di mana harga kemungkinan besar akan sideways atau tes ulang support di level US$55.000 sampai US$60.000 sebelum benar-benar membentuk bottom.
"Rebound siklus besar baru saya perkirakan akan datang pada 2027, dengan target realistis US$100.000 sampai US$170.000, bahkan bisa lebih tinggi jika sentimen makro berbalik positif menjelang halving 2028," kata Andri kepada Bisnis, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga
- IPO SpaceX hingga OpenAI Berisiko Sedot Likuiditas Pasar Kripto
- Bandara Cari Sumber Pertumbuhan Baru Lewat Kolaborasi Digital Kripto
- Investor Kripto RI Tembus 21,7 Juta, OJK Tekankan Pentingnya Trust
Di sisi lain, Andri melihat bahwa faktor yang membedakan siklus tahun ini adalah ledakan perusahaan treasury digital asset yang kini memegang lebih dari 1,2 juta BTC di balance sheet mereka.
Di satu sisi, ini memang menjadi katalis jangka panjang karena menciptakan demand struktural dan mengurangi supply di pasar terbuka. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa jika banyak perusahaan menghadapi tekanan likuiditas, margin call, atau kebutuhan dividen, maka bisa timbul supply shock baru yang memperpanjang bear market 2026.
"Ditambah sikap Fed yang masih hawkish dan inflasi yang lengket, aset berisiko seperti Bitcoin masih tertekan," jelasnya.
Sementara itu, Financial Expert Ajaib, Panji Yudha menjelaskan bahwa siklus empat tahunan klasik Bitcoin (Bitcoin Four-Year Cycle) secara resmi telah patah (left-translated cycle), terkonfirmasi oleh penutupan akhir 2025 di zona negatif sebesar -6,34%.
Menilik gerak harganya, Bitcoin mencapai puncak siklusnya lebih awal pada Oktober 2025 di level US$126.296, dan saat ini per Juni 2026 diperdagangkan di kisaran US$63.000. Angka ini mencerminkan koreksi sebesar 50% dari harga tertinggi sepanjang masa (ATH) serta penurunan tahunan berjalan (YTD) sebesar -28,00%.
Meskipun struktur waktu berubah, sambungnya, kedalaman bear market kali ini jauh lebih terukur jika dibandingkan dengan siklus historis dua tahun pasca-halving, yakni pada 2014 sebesar -58%, pada 2018 sebesar -73%, dan 2022 sebesar -64%. Bila dirata-rata, drawdown tahunan mencapai -65
Menurutnya, masuknya likuiditas institusional di pasar Bitcoin menjadi bantalan yang menahan kejatuhan ekstrem. Panji memproyeksi sisa 2026 ini akan berjalan sebagai fase markdown dan konsolidasi, dengan potensi bottoming area yang realistis di rentang US$55.000 hingga US$58.000
"Siklus pemulihan (rebound) struktural memiliki probabilitas yang sangat kuat untuk terjadi pada tahun 2027. Secara teknikal, konfirmasi bahwa Bitcoin telah keluar dari momentum bearish (reversal) baru akan valid jika harga mampu kembali menembus dan bertahan di atas level US$85.000," kata Panji.
Untuk benar-benar menuju ekspektasi tersebut, sejumlah katalis positif pendorong harga Bitcoin antara lain adalah berakhirnya konflik geopolitik, penurunan harga minyak global, serta inflasi yang mulai terkendali. Ini akan mengalirkan kembali likuiditas global ke pasar kripto.
Sebaliknya, sentimen negatif yang menahan harga Bitcoin antara lain adalah adanya supply shock korporasi, ketika banyak perusahaan treasury digital asset terpaksa melikuidasi aset Bitcoin mereka karena tekanan internal atau kewajiban dividen. Selain itu, kebijakan moneter higher-for-longer The Fed juga bisa mengganjal forecast rebound 2027. Terakhir, ada risiko di balik ketergantungan pada arus modal ETF, di mana spot ETF kini memegang kendali penuh atas harga spot Bitcoin.
Panji mencatat, dalam lima minggu terakhir akumulasi net outflow dari emiten ETF spot Bitcoin telah mencapai hampir US$5,8 miliar, menandakan nasabah institusi sedang agresif mengurangi risiko. Menurutnya, sinyal reversal Bitcoin baru muncul jika arus modal mingguan ETF berbalik mencatat net inflow yang konsisten. Strategi InvestasiSeiring dengan harapan rebound Bitcoin pada 2027, Andri melihat koreksi tajam tahun ini justru sebagai peluang akumulasi terbaik. Dia menyarankan investor menggunakan strategi Dollar Cost Averaging secara disiplin di bawah US$65.000.
"Alokasikan hanya 5%-10% portofolio agar tetap nyaman, dan fokus hodling melewati 2026 menuju 2027. Pantau terus on-chain metric seperti supply in loss yang sudah mulai mendominasi, sinyal historis bottom semakin dekat," kata Andri.
Andri memperingatkan bahwa risiko memang tetap tinggi, namun jika pola siklus lama bertahan, momentum 2027 bisa sangat menguntungkan bagi yang sabar mengakumulasi sekarang.
Sementara itu, Panji menambahkan bahwa koreksi tajam yang membawa Bitcoin ke kisaran US$63.000 telah memberikan ruang margin keamanan (margin of safety) yang jauh lebih aman bagi investor jangka panjang
Menurutnya, 2026 harus dilihat sebagai momentum akumulasi yang ideal sebelum siklus pemulihan berjalan di 2027. Menghadapi sisa 2026 yang penuh konsolidasi, Panji merekomendasikan strategi alokasi portofolio taktis bertajuk "Swing Alts, DCA BTC".
Strategi tersebut adalah mengalokasikan 50% pada cash/stablecoin. Dia menjelaskan, porsi likuiditas terbesar wajib dijaga untuk mengantisipasi volatilitas, salah satunya dengan diversifikasi ke dolar AS melalui stablecoin seperti USDT dan USDC.
"Langkah ini terbukti efektif setelah nilai tukar kedua stablecoin tersebut berhasil menguat hampir 8% YTD terhadap rupiah, jauh mengungguli performa Bitcoin yang saat ini masih terkoreksi 28% YTD," jelasnya.
Berikutnya, mengalokasikan 30% pada Bitcoin yang menjadi core asset. Menjadikan Bitcoin sebagai aset inti portofolio dengan melakukan akumulasi bertahap menggunakan metode Dollar-Cost Averaging secara disiplin sepanjang tahun ini menurutnya dapat mengoptimalkan potensi keuntungan di tahun depan.
Ketiga, alokasi 20% untuk altcoins yang memiliki aggressive narratives. Menurutnya, alokasi minoritas dapat ditempatkan pada altcoin yang memiliki narasi fundamental kuat dan volume likuiditas tinggi yang sedang tren, seperti sektor Decentralized Exchange (Perp DEX), Real World Assets (RWA), dan Artificial Intelligence (AI).
"Strategi yang digunakan adalah swing trading jangka pendek, di mana keuntungan harus segera dikonversi kembali ke bentuk stablecoin," tandasnya.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual aset investasi. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





