Inflasi AS 4,2% Picu Potensi The Fed Naikkan Suku Bunga, Gimana Nasib Indonesia?

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) mencatatkan inflasi hingga 4,2% (YoY) pada Mei 2026 dibandingkan Mei 2025. Inflasi ini dikhawatirkan mendorong Bank Sentral AS alias Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan dan berpengaruh ke pasar keuangan negara-negara emerging markets

Berdasarkan laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dirilis Biro Statistik Ketenagakerjaan AS, inflasi tahunan Mei lalu lebih tinggi dari April sebesar 3,8% (YoY). Sementara itu, inflasi bulanan juga tercatat 0,5% pada Mei 2026 meski lebih rendah dari April yaitu 0,6% (MoM). 

Secara tahunan, inflasi 4,2% (YoY) ini didorong oleh seluruh indeks harga. Adapun inflasi inti yang mengecualikan harga makanan dan energi mencapai 2,9% (YoY) pada bulan lalu setelah inflasi 2,8% (yoy) pada April. 

Indeks harga energi merupakan yang tertinggi, yaitu tembus 23,5% (YoY) pada Mei. Sementara itu, inflasi harga makanan mencapai 3,1% (YoY). 

Untuk harga energi, inflasi sebesar 23,5% dibandingkan dengan Mei 2025 ini didorong oleh indeks harga BBM sebesar 40,5% (YoY). Sementara itu, harga listrik mengalami inflasi 5,9% (YoY) dan gas alam 3% (YoY). 

Secara bulanan, indeks harga energi naik 3,9% (MoM) pada Mei 2026. Meski inflasi bulanan secara umum sedikit lebih rendah dari April, indeks harga energi pada Mei meningkat dari bulan sebelumnya yang tercatat 3,8% (MoM). 

Baca Juga

  • Inflasi AS Melonjak, Trump Malah Senang
  • Wall Street Berguguran, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga The Fed
  • Jalan Terjal Pasar Saham dan Kripto Saat The Fed Tahan Suku Bunga

Kenaikan harga energi secara bulanan tercatat mengalami inflasi jauh lebih tinggi, 10,9% (MoM) pada Maret 2026. 

Secara umum, indeks harga di luar energi dan makanan pada Mei 2026 mengalami inflasi bulanan 0,2% (MoM). Harga-harga pendorongnya adalah komunikasi, tiket pesawat, perawat pribadi, dan rekreasi. 

Sebaliknya, harga asuransi kendaraan bermotor, perabotan rumah dan operasinya, serta kendaraan baru turun alias deflasi. 

Era suku bunga tinggi di AS bisa semakin memberikan tekanan ke pasar keuangan negara-negara emerging markets seperti Indonesia. Investor berpeluang mencari aset yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. 

Aliran modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia bisa mendorong pengetatan lebih lanjut oleh Bank Indonesia (BI). Pada Selasa (9/6/2026) saja, BI telah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan. 

Langkah BI untuk kembali menaikkan suku bunga acuan bukanlah hal yang tidak mungkin. Apalagi, fokus bank sentral saat ini adalah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah

"Sementara itu dengan sudah naiknya harga BBM Pertamax dan juga potensi dampak rambatan dari depresiasi nilai tukar terhadap imported goods, maka tepat jika BI melakukan penyesuaian suku bunga acuan untuk meredam potensi kenaikan inflasi yang melebihi target," terang ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Hosianna Evalita Situmorang kepada Bisnis, Jumat (12/6/2026).

Proyeksi yang sama turut disampaikan oleh Head of Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Permata Tbk. Faisal Rachman. Dia menilai BI masih memiliki ruang untuk menaikkan lagi suku bunga acuan sampai dengan penghujung 2026. 

Proyeksi ini didasari oleh tantangan global dan domestik yang terus berlanjut ke depannya. Faisal memprakirakan BI bisa mengerek lagi suku bunga ke 5,75% pada kuartal III/2026

"Kami memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 bps lagi menjadi 5,75% pada kuartal III/2026 sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan pasar keuangan di tengah ketidakpastian yang terus meningkat," ujarnya melalui keterangan tertulis.

Faisal turut melihat semakin tingginya sinyal hawkish The Fed untuk menaikkan kebijakan suku bunga acuan pada Desember 2026. Dampaknya, BI juga akan mempertahankan sikap pro-stabilitas guna menjaga perbedaan suku bunga Indonesia dan AS agar aset keuangan domestik tetap menarik bagi investor global. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bupati Puncak Temui Kemenhub, Pengembangan Bandara Sinak Jadi Prioritas Konektivitas Papua
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Membaca Arah IHSG Melonjak 10,28% 2 Hari, Adakah Potensi Jebakan Investor Ritel?
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Paula Verhoeven Menegaskan Tidak Terlibat Langsung dalam Kasus Dugaan Penipuan Hanania Travel saat Diperiksa Polda Metro Jaya
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Penyebab Drama dalam Hidup Seolah Tak Pernah Habis
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Delapan Warga Negara China Dideportasi dari Medan Setelah Terbukti Menyalahgunakan Izin Tinggal
• 21 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.