Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan bahwa perang dengan Iran telah berakhir setelah tercapainya sebuah kesepakatan besar antara Washington, Teheran, dan pihak-pihak terkait lainnya. Namun, pernyataan sepihak ini segera direspons dengan bantahan oleh pemerintah Iran yang menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada naskah resmi yang disepakati.
Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menyatakan bahwa diskusi mengenai poin-poin akhir kesepakatan telah disetujui oleh semua pihak yang terlibat, termasuk sekutu AS, Zionis Israel. Kesepakatan ini diklaim Trump sebagai langkah final untuk memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
"Kita akan segera melakukan finalisasi dokumen dalam beberapa hari ke depan. Kemungkinan penandatanganan akan dilakukan di Eropa, dan ini merupakan hal yang luar biasa" ujar Trump dalam pernyataannya, seraya menambahkan bahwa nota kesepahaman tersebut menandai berakhirnya agresi militer yang sempat memanas sejak Februari lalu.
Baca juga: IRGC Soroti Tindakan Agresif dan Provokatif AS di WIlayah Maritim
Berseberangan dengan klaim Trump, kantor berita pemerintah Iran melaporkan bahwa sumber dari tim negosiasi Teheran menegaskan bahwa sejauh ini belum ada teks yang disetujui untuk nota kesepahaman (MoU) pendahuluan dengan Amerika Serikat. Pihak Iran mengimbau publik agar tidak langsung memercayai klaim Presiden AS tersebut.
Selain itu, Kantor Berita Tasnim mencatat bahwa dalam dua bulan terakhir, Trump telah 39 kali mengumumkan klaim serupa mengenai kesepakatan yang antara keduanya sudah di depan mata tanpa bukti konkret. Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat Meskipun ada klaim perdamaian, situasi di lapangan menunjukkan dinamika yang berbeda. Dilaporkan terjadi rangkaian serangan udara AS di wilayah Iran Selatan, khususnya di sekitar Selat Hormuz, Provinsi Hormozgan, dan Pulau Qeshm.
Dua ledakan besar terdengar pada Jumat pagi, 12 Juni 2026, di lepas pantai Kabupaten Sirik dan Kota Pelabuhan Bandar Abbas. Ledakan tersebut diduga terkait dengan respons angkatan bersenjata Iran terhadap pelanggaran wilayah di Selat Hormuz.
Sebagai langkah antisipasi militer, Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi seluruh jenis kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial.




