Ketegangan kembali memuncak di jalur Gaza setelah militer Zionis Israel dilaporkan melakukan serangan udara yang menyasar pemukiman warga di wilayah Gaza Tengah. Serangan ini menjadi sorotan tajam lantaran terjadi di tengah status gencatan senjata yang secara teknis masih berjalan.
Gempuran udara tersebut menyasar kawasan Deir Al-Balah dan kamp pengungsian Al-Maghazi. Ironisnya, kedua wilayah ini sebelumnya merupakan lokasi yang digunakan warga Palestina sebagai tempat mengungsi sementara untuk mencari perlindungan.
Menurut laporan warga setempat, serangan yang terjadi pada Kamis, 11 Juni 2026 tersebut menyebabkan kerusakan masif. Sedikitnya 10 rumah warga rusak total dan dinyatakan tidak layak lagi untuk dihuni.
Baca juga: PBB: Gaza Masih Hadapi Penderitaan Besar Meski Gencatan Senjata Berlaku
Pada Jumat pagi waktu setempat, warga yang kembali ke lokasi ledakan terpaksa mengais puing-puing bangunan untuk menyelamatkan barang berharga milik mereka. Dengan menggunakan alat seadanya seperti sekop, para pengungsi berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan apa saja yang tersisa demi menyambung hidup.
Meski kesepakatan gencatan senjata secara resmi belum berakhir, situasi di lapangan menunjukkan realitas yang sangat berbeda. Pelanggaran gencatan senjata yang terus berulang ini memberikan dampak psikologis dan fisik yang berat bagi warga sipil. Keluarga-keluarga di Gaza terpaksa menghadapi siklus pengungsian yang tidak kunjung usai akibat tempat tinggal mereka yang hancur menjadi puing.




