IHSG Pekan Ini Diproyeksi Variatif, Pasar Cermati Data China hingga Suku Bunga Jepang

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pelaku pasar juga akan mencermati arah pergerakan teknikal IHSG yang masih berada dalam fase penentuan tren.

IHSG Pekan Ini Diproyeksi Variatif, Pasar Cermati Data China hingga Suku Bunga Jepang (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global mulai dari data produksi industri China hingga keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ). 

Di tengah periode perdagangan yang lebih singkat karena libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, pelaku pasar juga akan mencermati arah pergerakan teknikal IHSG yang masih berada dalam fase penentuan tren.

Baca Juga:
IHSG Awal Pekan Berpotensi Menguat, HMSP-UNVR Bisa Dicermati

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, investor perlu memperhatikan rilis data Industrial Production China yang akan menjadi indikator penting untuk mengukur kekuatan pemulihan ekonomi dan aktivitas manufaktur negara tersebut.

Data tersebut dinilai sangat relevan bagi Indonesia mengingat China merupakan mitra dagang utama sekaligus tujuan ekspor nonmigas terbesar nasional.

Baca Juga:
Momentum Bullish Berlanjut, IHSG Berpotensi Sentuh 6.100 Pekan Depan

Perbaikan aktivitas ekonomi China berpotensi memberikan sentimen positif terhadap emiten-emiten berbasis komoditas dan sektor yang memiliki eksposur ekspor ke Negeri Tirai Bambu.

Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada rapat kebijakan moneter Bank of Japan. BoJ diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,00 persen dari sebelumnya 0,75 persen.

Baca Juga:
Valuasi Murah dan Risiko Berkurang, IHSG Diproyeksi Masuk Tren Pemulihan

Tidak hanya keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati perkembangan inflasi Jepang sebagai petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.

Menurut Imam, ekspektasi sikap hawkish BoJ didorong oleh meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi global yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Jika bank sentral Jepang kembali menaikkan suku bunga atau memberikan sinyal pengetatan yang lebih agresif, kondisi tersebut berpotensi memicu penutupan posisi carry trade oleh investor global.

"Jika BoJ kembali menaikkan suku bunga atau memberi sinyal pengetatan moneter yang agresif, investor berpotensi menutup posisi carry trade mereka, yang dapat memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan global, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia," ujar Imam dalam risetnya, Senin (15/6/2026).

Lebih lanjut, IHSG masih berada dalam tren turun jika dilihat dari pergerakan sejak mencapai titik tertingginya. Hal tersebut tercermin dari struktur pergerakan indeks yang masih membentuk pola lower low dan lower high.

Meski demikian, tekanan bearish dinilai mulai berkurang. Penurunan IHSG dari puncaknya hingga pekan lalu diperkirakan telah membentuk lima gelombang penurunan (impulsive wave), yang umumnya menjadi sinyal bahwa fase koreksi mulai mendekati akhir.

"Dalam time horizon yang lebih pendek, atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang. Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resistance di 6.286," kata Imam.

Namun, sinyal teknikal jangka pendek masih menunjukkan adanya keraguan di kalangan investor.

Dua candlestick terakhir memperlihatkan momentum penguatan yang mulai melemah. Candle pertama membentuk pola spinning top, yang mengindikasikan keseimbangan antara tekanan beli dan jual.

Sementara pada perdagangan berikutnya, IHSG sempat menembus area spinning top dan memunculkan optimisme pasar. Akan tetapi, indeks akhirnya ditutup membentuk pola shooting star dan gagal menembus area resistance sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menunggu katalis yang lebih kuat sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.

Adapun level resistance penting yang perlu diperhatikan investor berada di area 6.286, sementara level support berada di 5.695.

Berikut rekomendasi saham pekan ini:

1. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) 

Buy on Pullback TPIA (Entry:  Rp1.715- Rp1.790, Target Price (TP): Rp2.070 dan Stop Loss (SL): < Rp1.680)

2. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN)

Buy MNCN (Entry: Rp214, Target Price (TP): Rp230 dan Stop Loss (SL):


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dasco Puji BI yang Bikin Kuat Rupiah dan RI Tak Bergantung Dolar AS
• 19 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Aksi Aktivis Lingkungan Soroti Polusi Udara di Bekasi
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Pengusaha Angkutan Darat Jatim Dilematis Menaikan Tarif di Tengah Himpitan Ekonomi
• 12 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Komisi XIII DPR dorong replikasi program literasi di Rutan Surabaya
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Pendapatan Bisnis Memecahkan Rekor Seiring Dimulainya Piala Dunia FIFA 2026 AS-Kanada-Meksiko
• 18 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.