Volatilitas Komoditas Tak Redam Transaksi Bursa Berjangka

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Aktivitas perdagangan yang tercatat di Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) tidak pudar meskipun volatilitas harga komoditas global menghantui belakangan. Investor dinilai masih semarak melakukan aktivitas jual beli, kendati perubahan harga terjadi secara signifikan.

Harga emas berjangka, misalnya, yang dalam kondisi penuh ketidakpastian, secara teoritis mengalami penguatan, tetapi justru terkoreksi dalam enam bulan perdagangan.

Data Investing.com, menunjukkan harga emas berjangka selama enam bulan belakangan telah terkoreksi 1,52%, selama tiga bulan terakhir terkoreksi 17,13%, dan selama satu bulan terakhir melemah 9,37%. Hanya secara tahunan harga emas berjangka menguat 24,84%.

Sementara itu, harga timah berjangka justru menguat sepanjang 6 bulan terakhir sebesar 24,83%, sebesar 4,36% tiga bulan terakhir, dan tergerus 5,77% satu bulan terakhir. Secara tahunan, harga timah berjangka telah melesat 58,46%.

Jakarta Futures Exchange (JFX), dalam keterangan resminya, mencatat selama awal Juni periode 1—6 Juni 2026, transaksi dari instrumen Penyalur Amanat Luar Negeri (PALN) justru bertumbuh, dengan volume transaksi mencapai 2,31 juta atau naik 37,22% dari pekan sebelumnya.

Begitu juga dengan nilai transaksi yang melambung 190,32% menjadi Rp58,52 triliun, dengan harga rata-rata PALN turut melonjak menjadi Rp25,38 juta.

Baca Juga

  • 'Kuda Hitam' Penantang Arus Bursa RI: Prospek EMAS, ADRO hingga MAPI
  • Bursa CFX Luncurkan Indeks CFX10, Rangkum 10 Aset Kripto Terbesar
  • JFX Perluas Akses Investasi Derivatif, Fasilitasi Perdagangan Emas hingga Minyak

Selain itu, rata-rata transaksi olein juga tercatat senilai Rp220,63 juta atau melambung 110,33% dibandingkan periode yang sama pekan sebelumnya. Pelaku pasar dinilai merespons perkembangan kebijakan B50 di Indonesia.

Meskipun dibayangi volatilitas, pasar komoditas RI masih cenderung semarak. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong, menerangkan volatilitas pasar justru menarik bagi trader yang cenderung spekulatif.

Menurutnya, pergerakan harga yang tajam di kedua arah dengan cepat, memungkinkan para trader untuk mengeksekusi harga dan keluar dengan cepat.

”Industri berjangka sangat bergairah, terutama oleh harga emas yang terus mencetak harga rekor dan terkoreksi tajam akhir-akhir ini. Indeks saham AS, Jepang dan Korea juga sangat menarik karena rally yang sangat kuat tahun ini,” katanya kepada Bisnis, Jumat (12/6/2026).

Lukman menerangkan, mayoritas klien di Doo Financial melakukan transaksi emas, sehingga volatilitas belakangan ini cocok bagi trader dengan kecenderungan spekulatif. Sedangkan penurunan harga emas di satu sisi, menarik minat investor jangka panjang untuk mengakumulasi harga yang lebih murah.

Bahkan, sepanjang 2026, Doo Financial Futures Indonesia telah mencatat pertumbuhan jumlah klien sebesar 200% dibandingkan periode yang sama pada 2025. Trader komoditas, dinilai memiliki kecenderungan pada pasar yang volatil.

Senada, Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo turut menilai, minat investor komoditas di industri berjangka masih cenderung besar walaupun volatilitas menghantui. Pasalnya, industri berjangka dapat ditransaksikan dua arah, sehingga sama-sama memiliki potensi keuntungan.

Bahkan, HFX International Berjangka menargetkan pertumbuhan investor dan transaksi mencapai 20–30% pada tahun ini.

”Minat investor atau trader di industri berjangka, jika market semakin volatil, trader akan semakin suka karena industri berjangka bisa transaksi dua arah, yaitu long dan short,” katanya, Jumat (11/6/2026).

Secara jangka panjang, Sutopo menilai prospek industri berjangka RI masih solid dan cenderung tidak memiliki sentimen negatif. Pasalnya, industri berjangka dinilai tidak mengenal kata krisis lantaran memiliki dua arah peluang, baik saat harga naik maupun saat harga turun.

Upaya Menggairahkan Pasar

Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) Yazid Kanca Surya, cukup optimistis perkembangan industri berjangka RI pada tahun ini akan tetap solid di tengah fluktuasi harga komoditas. Dia berharap torehan kinerja finansial JFX bakal melebihi tahun lalu.

Kepada Bisnis, Kanca menerangkan bahwa optimisme itu didapat melalui aksi pemerintah yang kian mendorong hilirisasi di beberapa sektor strategis.

”Itu otomatis, kalau hilirisasinya semakin berkembang, kita sebagai bursa lebih gampang bikin kontraknya karena pasti membutuhkan yang jauh lebih banyak,” katanya kepada Bisnis, Jumat (11/6/2026).

Dengan banyaknya hilirisasi yang digencarkan pemerintah, Kanca menilai bahwa pihaknya bakal lebih leluasa untuk berinovasi menerbitkan kontrak-kontrak anyar, untuk mendorong kinerja fundamental Bursa Berjangka.

Adapun Bursa Berjangka Jakarta memiliki sedikitnya empat kontrak yang ditransaksikan, antara lain kontrak multilateral, over-the-counter market, kontrak fisik, hingga Penyaluran Amanat Luar Negeri (PALN).

Keberadaan kontrak ini, juga berupaya mengakomodasi kebutuhan masyarakat dengan sifat investasi yang terbatas. Pada PALN, misalnya, JFX secara konsep memberikan ruang bagi investor dalam negeri untuk mentransaksikan saham-saham luar negeri dengan harga yang terjangkau.

”Selain itu, kami juga sekarang udah banyak melaunching kontrak-kontrak baru dalam size yang relatif kecil. Size kami ini ada regular, mini, mikro, bahkan nano. Jadi kenapa kami perkecil kontraknya, supaya masyarakat yang menengah ke bawah pun masih bisa menikmati dengan hanya uang Rp100.000-Rp200.000 itu udah bisa transaksi di kami,” katanya.

Ke depan, JFX berencana semakin mengembangkan produk derivatif, meskipun sejauh ini pihaknya belum menentukan jenis produk derivatif yang akan diluncurkan pada periode ini.

”Ada beberapa alternatif derivatif yang akan kami luncurkan supaya stakeholder di industri timah bisa pakai instrumen kami untuk melakukan hedging, spread, ataupun arbitrase. Jadi itu yang lagi kami mau kembangkan ke depan,” katanya.

Sementara itu, Direktur JFX Syarifah Nuly Nazlia, menilai di tengah volatilitas harga komoditas, pihaknya tidak merasakan fenomena menurunnya aktivitas transaksi. Justru, di tengah kondisi ini JFX berupaya memperbesar cakupannya dengan memperluas anggota bursa.

Adapun sepanjang 2025, anggota bursa yang tercatat di JFX bertumbuh menjadi 83 perusahaan dari 74 perusahaan pada 2020.

Sementara itu, volume transaksi multilateral di JFX telah bertumbuh 5% YoY pada periode Januari—Maret 2026 menjadi 512.607 lot, dari 488.361 lot pada periode yang sama 2025. Begitu juga dengan transaksi share purchase agreement (SPA) tumbuh 29% YoY pada periode yang sama.

“Sebenarnya di mana ada fluktuasi, di situ sebenarnya kami bisa berdagang. Kami kemarin sering ngobrol bersama member. Mereka merasa kondisinya oke saja, sepanjang apabila ada margin call, kami jaga jangan sampai ada default,” katanya pada kesempatan yang sama.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diego Gomez Kehabisan Kata-kata, Mimpi Paraguay ke Piala Dunia Akhirnya Jadi Kenyataan
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Bukan di DPR, Bukan di Depan Istana, Mengapa Mahasiswa Mau Demo di Bundaran HI?
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Mitra Pinasthika (MPMX) Dorong Kemandirian Ekonomi
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Aksi Demo di Jakarta, Operasional Bus TransJakarta Terdampak! | SAPA MALAM
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
BRI Siapkan Buyback Saham Rp500 Miliar di Tengah Gejolak Pasar
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.