JAKARTA, KOMPAS.com - Di bawah terik siang Jakarta, seorang pria tua berjalan pelan menyusuri trotoar sambil memanggul tas berisi tang, obeng, kawat, dan potongan besi kecil.
Langkahnya tak lagi tegap. Punggungnya sedikit membungkuk. Namun, setiap kali melihat payung rusak di tangan seseorang, matanya masih sigap.
Pria itu adalah Yus, tukang servis payung keliling berusia 78 tahun. Usia senja tak membuatnya berhenti bekerja.
Di saat banyak orang seusianya menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, Yus justru masih meniti jalan demi satu hal sederhana, memastikan dapur tetap mengebul.
Baca juga: Dulu Saya Bayangkan Panti Jompo Tempat Menyeramkan, Tempat Lansia Dibuang...
Baginya, pensiun adalah kemewahan yang tak pernah benar-benar ia kenal. Ia tak punya dana pensiun, tabungan hari tua, atau penghasilan tetap yang bisa menjamin hidupnya di masa tua.
Yang ia miliki hanya tubuh yang kian menua dan tekad untuk terus berjalan selama kaki masih mampu melangkah.
Suara Yus sempat bergetar ketika berbicara tentang keluarganya. Matanya memerah. Tangannya menggenggam erat gagang kotak peralatannya.
“Kalau saya sudah enggak ada. Cucu saya siapa yang ngasih makan? Anak saya sih ada, tapi saya tetap bantu cucu. Cucu saya ada dua,” kata Yus saat ditemui Kompas.com, Kamis (11/6/2026).
Selama hampir satu dekade terakhir, Yus menjalani hidup sebagai tukang servis payung keliling.
Sebelum itu, Yus adalah buruh bangunan. Pekerjaan kasar telah akrab dengan hidupnya sejak muda.
Ia bahkan pernah merantau ke Sulawesi selama sekitar tiga tahun demi mencari nafkah.
Saat itu fisiknya masih kuat. Masih sanggup mengangkat beban berat dan bekerja dari pagi sampai malam. Kini, kondisi tubuhnya tak lagi sama.
Pekerjaan di sektor konstruksi tak lagi mampu ia jalani di usia sekarang. Tenaganya menurun. Otot tak lagi sekuat dulu. Namun berhenti bekerja bukan pilihan.
Karena itu ia beralih ke pekerjaan yang masih bisa dilakukan, memperbaiki payung. Setiap hari, Yus berkeliling membawa peralatan servis.
Kadang ia berjalan menyusuri jalanan. Kadang mangkal di titik tertentu.
“Kalau ada yang manggil, saya datangi,” kata Yus.
Servis satu payung biasanya dihargai sekitar Rp 25.000, tergantung tingkat kerusakan. Namun pelanggan tidak datang setiap hari. Ada hari ketika ia membawa pulang uang.
Ada pula hari ketika tidak ada pemasukan sama sekali.
Baca juga: Kerja Sampai Tua, Kala Pensiun Hanya Mimpi bagi Sebagian Lansia
Pendapatan yang tak menentu membuat hidupnya jauh dari kata aman. Uang yang ia dapat kebanyakan habis untuk kebutuhan sehari-hari.
“Buat makan saja. Yang penting ada,” kata dia.
Meski anaknya sudah dewasa, Yus belum bisa sepenuhnya melepaskan tanggung jawab sebagai orangtua dan kakek.
Ia masih membantu kebutuhan dua cucunya.
Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, bantuan sekecil apa pun tetap berarti.
Karena itulah ia terus bekerja.
“Namanya kerja lapangan, enggak ada pensiun. Selama masih kuat ya jalan terus. Kalau enggak usaha, enggak ada uang,” tutur dia.
Yus mengaku dulu pernah menerima bantuan sosial. Namun bantuan itu kini tak lagi ia dapatkan. Ia sendiri tak memahami alasannya.
“Pernah. Tapi sekarang hilang. Saya juga enggak ngerti kenapa,” ucap dia.
Meski demikian, ia tak ingin terlalu menggantungkan harapan pada bantuan.
Baginya, rezeki tetap harus dicari.
Kisah serupa dialami Adi (74). Jika Yus mengandalkan keterampilan memperbaiki payung, Adi menggantungkan hidup dari memulung barang bekas.
Karung besar menjadi teman sehari-harinya.
Dari satu gang ke gang lain, dari satu sudut ke sudut lain, ia mencari botol plastik, kardus, dan barang bekas yang masih bisa dijual.
Baca juga: Dititipkan ke Hunian Lansia, Oma Roslina Patahkan Stigma Dibuang Anak
Pekerjaan itu telah dijalani sekitar 15 tahun.
“Dulu saya penjahit. Karena sudah enggak kuat duduk lama, jadi pindah kerja begini,” kata Adi.





