jpnn.com - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyebut Pertamax merupakan jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang harus dijual Pertamina dengan harga yang mengikuti pergerakan harga minyak dunia.
Menurut Teddy, sejak Pertamina menaikkan harga Pertamax dan varian BBM nonsubsidi lainnya, harga per liter BBM nonsubsidi di Indonesia masih lebih murah dibandingkan dengan BBM RON 92/95 di beberapa negara Asia Tenggara, misalnya Filipina, Laos, Thailand, Myanmar, dan Singapura.
BACA JUGA: Klaim Investasi Rp 2.430 Triliun Hasil Diplomasi Prabowo Disemprot PDIP: Informasi Teddy Menyesatkan!
"Pertamax adalah BBM nonsubsidi. Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia. Apa saja BBM bersubsidi? Pertalite dan Solar. Harga BBM subsidi tidak naik," kata Teddy saat dihubungi di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Sejak harga minyak dunia naik imbas perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel, harga BBM bersubsidi tidak naik alias tetap pada harga Rp 10.000 per liter untuk varian Pertalite dan Rp 6.800 per liter untuk Solar.
BACA JUGA: Kritik Omongan Purbaya, Ichsanuddin Noorsy: Kenaikan Pertamax Bikin Ekonomi Tersendat, Rakyat Melarat
Sementara itu, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax baru naik per 10 Juni 2026 dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.
"Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan. Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain," ujar Teddy.
BACA JUGA: Ini Info Bu Misni soal Pencairan Gaji ke-13 ASN Termasuk PPPK
Sekretariat Kabinet dalam unggahan resminya kemudian memaparkan harga BBM RON 92/95 di beberapa negara Asia Tenggara, misalnya Filipina Rp 22.158 per liter, Laos Rp 31.945 per liter, Thailand Rp 28.910 per liter, Myanmar Rp 25.085 per liter, dan Singapura Rp 42.971 per liter.
Setkab juga mengunggah penjelasan dari Teddy mengenai alasan Pertamina menyesuaikan harga Pertamax pada Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIB, di tengah aksi unjuk rasa mahasiswa dari beberapa kampus di wilayah Bundaran HI, Jakarta, yang berlangsung sejak siang hari.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, sebagai salah satu kelompok massa aksi, membawa lima tuntutan dalam unjuk rasa hari ini, salah satunya menurunkan harga BBM.
Walaupun demikian, saat ini, harga BBM yang naik hanya BBM nonsubsidi. Sementara harga BBM yang bersubsidi masih tetap alias tidak naik.(ant/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




