Setelah Dugaan Korupsi Diungkap, MBG Mau Dibawa ke Mana?

kompas.id
19 jam lalu
Cover Berita
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:
  1. Bagaimana korupsi memengaruhi tata kelola MBG?
  2. Apa yang akan dilakukan pemerintah terhadap program MBG?
  3. Berapa target sasaran MBG tahun 2026 ini?
  4. Bagaimana supaya pelaksanaan MBG tepat sasaran?
  5. Pendekatan apa yang perlu diterapkan pada program MBG?
Bagaimana korupsi memengaruhi tata kelola MBG?

Penyidik Kejaksaan Agung menetapkan dan menahan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana serta dua mantan wakilnya, Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya, sebagai tersangka dugaan korupsi dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) periode 2025–2026. Kasus ini mencakup penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa serta penentuan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ketiganya ditahan setelah penyidikan yang dimulai sejak 29 Mei 2026 dan ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan dua alat bukti yang cukup.

Penyidik menduga pengadaan di lingkungan BGN tidak sesuai kebutuhan lapangan dan mengandung praktik mark up harga. Sejumlah pengadaan bernilai besar dipersoalkan, antara lain motor listrik, sepatu, tablet, dan televisi, dengan total anggaran mencapai triliunan rupiah. Kerugian negara masih dalam proses penghitungan. Selain itu, para tersangka diduga melanggar aturan dalam penunjukan mitra SPPG yang tidak memenuhi syarat dan terafiliasi dengan mereka, sehingga disebut menghasilkan keuntungan miliaran rupiah per hari.

Kejaksaan Agung juga telah melakukan penggeledahan di kantor BGN dan rumah para tersangka, serta menyita dokumen dan barang bukti elektronik. Penyidikan masih terus dikembangkan, termasuk pendataan mitra SPPG yang diduga tidak berhak. Pihak kejaksaan menegaskan akan menindaklanjuti setiap temuan bukti baru guna mengungkap keseluruhan jaringan dan praktik korupsi dalam program MBG.

Sementara itu, DPR menilai kasus ini sebagai momentum untuk membenahi tata kelola MBG agar lebih transparan dan akuntabel. Sebelum penetapan tersangka, Presiden telah mencopot ketiga pimpinan BGN dan menunjuk pimpinan baru. Pemerintah menyatakan pergantian tersebut didasarkan pada hasil evaluasi kinerja dan berbagai catatan kepatuhan, dengan harapan tata kelola, disiplin SOP, serta kualitas pelaksanaan program MBG dapat segera diperbaiki.

Baca JugaAlasan Kejagung Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana dan Dua Bekas Pimpinan Lainnya
Apa yang akan dilakukan pemerintah terhadap program MBG?

Pemerintah melakukan refocusing Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memprioritaskan kelompok 3B—ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita—serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Isyana Bagoes Oka menyampaikan bahwa fokus baru ini telah disepakati bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang tata kelola MBG.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga ditugasi mendukung distribusi dan edukasi MBG bagi kelompok 3B. BGN telah menginstruksikan setiap satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk mengalokasikan porsi khusus MBG bagi kelompok ini. Isyana menekankan pentingnya kelompok 3B karena pencegahan stunting paling efektif dilakukan pada 1.000 hari pertama kehidupan, sehingga refocusing ini diharapkan dapat menurunkan angka stunting secara berkelanjutan.

Untuk memastikan program tepat sasaran, hampir 600.000 tim pendamping keluarga dikerahkan guna membantu distribusi dan edukasi gizi. Di sisi lain, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bertugas mengawasi kualitas dan keamanan MBG, mulai dari bahan baku hingga distribusi. BPOM menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh program MBG dengan mengerahkan puluhan ribu kader di seluruh Indonesia.

Sementara itu, BGN menyiapkan empat langkah penataan ulang MBG, yakni refocusing penerima manfaat, moratorium pembangunan dapur baru, pembenahan dapur yang ada, serta penyusunan skema baru untuk wilayah 3T. Kementerian Kesehatan turut mendorong penambahan tenaga ahli gizi agar pelayanan MBG semakin optimal. Meski fokus diperkuat pada kelompok 3B di wilayah 3T, program MBG bagi anak sekolah tetap berjalan, dengan tujuan memastikan pemenuhan gizi sejak pranikah hingga anak usia sembilan tahun demi perkembangan optimal, terutama di daerah terpencil.

Baca JugaIsyana Bagoes Oka: Fokus MBG untuk Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita di Wilayah 3T
Berapa target sasaran MBG tahun 2026 ini?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun 2026 diarahkan untuk memperluas cakupan penerima manfaat sekaligus meningkatkan kualitas layanan. Prioritas utama diberikan pada kelompok periode 1.000 hari pertama kehidupan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia di bawah dua tahun. Pemerintah menilai periode ini sebagai fase krusial untuk mencegah stunting dan mendorong tumbuh kembang anak secara optimal.

Dadan Hindayana semasa menjabat sebagai Kepala BGN menegaskan bahwa pada 2026 MBG difokuskan pada penyediaan makanan bergizi seimbang dan berkualitas. Pemerintah menargetkan seluruh ibu hamil dan balita di Indonesia dapat terjangkau program ini, dengan harapan angka stunting dapat menurun drastis. Saat ini penerima manfaat telah mencapai 55,1 juta orang dan ditargetkan meningkat menjadi 82,9 juta pada 2026, didukung oleh 19.188 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang telah beroperasi.

Selain perluasan sasaran, peningkatan kualitas layanan menjadi perhatian utama. Seluruh SPPG ditargetkan menjalani sertifikasi dan akreditasi guna menjamin keamanan dan mutu pangan. Namun, hingga kini baru sekitar 20 persen SPPG yang memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS). Kementerian Kesehatan berperan mengawasi standar keamanan pangan melalui proses evaluasi yang ketat, mulai dari kebersihan dapur hingga pemeriksaan laboratorium makanan.

Pemerintah juga menargetkan tercapainya kondisi zero defect pada 2026, termasuk tidak adanya kasus keracunan pangan dalam program MBG. Jumlah kejadian keracunan tercatat menurun signifikan sepanjang akhir 2025. Menteri PPN/Kepala Bappenas menegaskan bahwa MBG merupakan program strategis nasional yang menuntut jaminan kualitas, mulai dari rantai pasok bahan baku lokal, proses pengolahan, hingga distribusi makanan agar standar gizi tetap terjaga saat dikonsumsi anak-anak.

Baca JugaMBG Sasar 82,9 Juta Penerima pada 2026, Prioritas pada Ibu Hamil dan Anak Balita
Bagaimana supaya pelaksanaan MBG tepat sasaran?

Pemerintah menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan difokuskan pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) sebagai strategi utama penurunan stunting. Para ahli menilai fokus ini sudah tepat karena intervensi gizi paling efektif dilakukan pada 1.000 hari pertama kehidupan. Namun, mereka menekankan bahwa fokus tersebut harus benar-benar diwujudkan dalam desain program dan penargetan yang presisi agar berdampak nyata.

Berbagai kajian juga menyoroti lemahnya tata kelola MBG pada fase awal pelaksanaan. Kritik muncul akibat ketidaktepatan sasaran, kasus keracunan makanan, serta dugaan korupsi yang melibatkan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Para pakar kebijakan publik menilai peristiwa ini menunjukkan perlunya penguatan pengawasan, standar operasional, dan transparansi. Pemerintah pun berkomitmen melakukan pembenahan dapur MBG, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penegakan standar keamanan pangan, terutama di wilayah 3T.

Dari sisi pendekatan program, para ahli gizi dan pendidikan menekankan pentingnya pelaksanaan MBG berbasis komunitas, bukan semata berbasis sekolah. Kajian menunjukkan intervensi gizi pada usia sekolah relatif terlambat untuk menurunkan stunting. Karena itu, MBG disarankan memanfaatkan posyandu, komunitas keagamaan, dan kelompok lokal untuk menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, lalu dilanjutkan secara bertahap ke anak usia dini (PAUD) sebagai bagian dari pembentukan kebiasaan makan sehat.

Kajian ekonomi dan kebijakan sosial menunjukkan MBG masih belum tepat sasaran karena manfaatnya lebih banyak dinikmati kelompok masyarakat mampu, sementara kelompok miskin menerima porsi yang kecil. Selain itu, distribusi dapur MBG dinilai timpang karena terkonsentrasi di Pulau Jawa, sementara wilayah luar Jawa menghadapi keterbatasan layanan dan beban operasional tinggi. Para peneliti merekomendasikan perbaikan sistem targeting berbasis data sosial ekonomi, refocusing ke wilayah rawan gizi, serta penambahan dapur di luar Jawa agar MBG lebih efisien, adil, dan efektif dalam menurunkan stunting.

Baca JugaKembalikan MBG untuk Atasi ”Stunting”
Pendekatan apa yang perlu diterapkan pada program MBG?

Reformasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengemuka setelah skandal korupsi yang menyeret pimpinan Badan Gizi Nasional, tetapi kebutuhan pembenahan sebenarnya sudah muncul lebih awal seiring gejolak ekonomi global dan melemahnya rupiah. Kondisi fiskal tersebut menuntut efisiensi anggaran, sehingga pendekatan MBG yang bersifat menyeluruh (blanket approach) dinilai perlu diubah agar lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Sejumlah kajian mendorong MBG beralih ke pendekatan pro-poor, yakni memprioritaskan penerima dari kelompok miskin. Perubahan ini diperkirakan dapat memangkas jumlah sasaran dan menghemat anggaran puluhan triliun rupiah yang bisa dialihkan ke kebutuhan mendesak lain, seperti peningkatan kesejahteraan guru. Namun, tantangan utamanya adalah mendefinisikan kemiskinan secara lebih akurat, karena banyak rumah tangga berada sedikit di atas garis kemiskinan resmi tetapi tetap rentan dan kekurangan akses layanan dasar.

Data menunjukkan garis kemiskinan yang rendah berisiko menimbulkan “kemiskinan tak terlihat”, ketika kelompok rentan—seperti pekerja informal dan buruh harian—tidak tercakup bantuan. Perbedaan antara angka kemiskinan resmi dan jumlah penerima bantuan sosial memperkuat argumen perlunya penajaman kriteria sasaran. Dalam konteks pendidikan, instrumen seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dinilai dapat menjadi rujukan awal untuk menentukan siswa miskin penerima MBG, meski cakupannya masih jauh di bawah total sasaran program.

Para ahli juga menekankan perlunya memusatkan MBG pada wilayah tertinggal dan kelompok prioritas, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita, karena masa ini menentukan pencegahan stunting. Penargetan berbasis posyandu dan penguatan program gizi spesifik dinilai memberi dampak lebih besar dibanding penyebaran luas ke siswa yang tidak membutuhkan. Dengan sasaran lebih sempit, fokus pada kelompok paling rentan, dan pembenahan tata kelola, MBG diyakini bisa lebih efektif, hemat biaya, dan mendapat dukungan publik yang lebih kuat.

Baca JugaReformasi MBG

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fithrat Irfan: Persatuan Bangsa Penting di Tengah Tantangan Global
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
Respons Eks Kapuspenkum Kejagung soal Sony Sonjaya Mau Jadi Justice Collaborator
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Terancam Denda Rp60 Miliar, Begini Nasib Dua Terdakwa Kasus Pembelian Pertalite 25 Liter
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bantuan UKT hingga Rp18 Juta, BSI Buka Pendaftaran Beasiswa 2026
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BMKG: Sleman Berpotensi Hujan Petir Hari Ini 13 Juni 2026, Cek Prakiraan Cuaca DI Yogyakarta
• 17 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.