JAKARTA, DISWAY.ID -- Bank Indonesia (BI) menyambut positif penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi pada Jumat, 12 Juni 2026.
Mata uang Indonesia tercatat menguat sekitar 0,84 persen dan berada di level Rp18.010-Rp18.020 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini dinilai sebagai respons positif pasar terhadap berbagai kebijakan moneter yang diterapkan Bank Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
BACA JUGA:Kejagung Dalami 26 Nama Diduga Terseret Korupsi MBG, Sony Sanjaya Segera Diperiksa Pekan Depan
Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia, yang meliputi kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, penguatan struktur suku bunga SRBI, serta pemberian insentif hedging swap bagi investor asing.
"Pasca kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik. Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah," ucap Destry dalam pesan singkat yang diberikan kepada Disway dan awak media lainnya, pada Jumat, 12 Juni 2026.
Lebih lanjut, Destry juga menambahkan bahwa daya tarik instrumen keuangan domestik.
Tingginya minat investor global tecermin dari peningkatan inflows transaksi SRBI nonresiden dan SBN yang pada tanggal 10 dan 11 Juni 2026 masing-masing tercatat sebesar Rp 15,11 triliun dan Rp 3,91 triliun.
BACA JUGA:Program Bedah Rumah Dipercepat, Kementerian PKP Sasar 375 Ribu Hunian
Dalam hal ini, aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp 26,9 triliun.
"Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," ujar Destry.
Di sisi lain, ketahanan eksternal semakin diperkuat melalui kerja sama keuangan antara Bank Indonesia, People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA), dimana terdapat 3 kesepakatan yang dihasilkan.
3 kesepakatan tersebut diantaranya adalah sinergi memperkuat tidak hanya ketahanan keuangan masing-masing negara melainkan stabilitas keuangan yang regional yang lebih luas, penguatan Bilateral Currency Swap Agrrement (BCSA), serta penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT).
BACA JUGA:Diiringi Lagu Halo-Halo Bandung, Mahasiswa di Depan Gedung UOB Sudirman Teriak Revolusi
"Dengan berbagai perkembangan diatas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap USD menuju ke level fundamentalnya," tutup Destry.
- 1
- 2
- »




