Ledakan Populasi Lansia, Siapkah Sistem Kesehatan Menghadapinya?

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia tengah mengalami berbagai tantangan besar, salah satunya adalah membeludaknya populasi lansia.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sejak tahun 2021 Indonesia telah memasuki fase struktur penduduk tua atau disebut aging population.

Di mana sekitar satu dari 10 penduduk merupakan lansia.

Baca juga: Lansia Masih Bekerja, Kalau Saya Sudah Enggak Ada, Cucu Saya Siapa yang Kasih Makan?

Fenomena ini dapat menjadi bonus demografi kedua apabila para lansia masih banyak yang produktif dan memberikan kontribusi bagi perekonomian negara.

Namun di sisi lain, populasi lansia sendiri dapat menjadi tantangan pembangunan negara apabila tak lagi produktif dan menjadi bagian dari penduduk rentan.

Berdasarkan aspek demografi, sebesar 11,93 persen penduduk Indonesia pada tahun 2025 adalah lansia dengan rasio ketergantungan sebesar 11,00 pesen.

Dari jumlah lansia yang ada, lebih banyak berjenis kelamin perempuan dan tergolong dalam kelompok lansia muda atau berusia 60 hingga 69 tahun.

Data BPS pada tahun 2024 juga menunjukkan kondisi kesehatan para lansia dia Indonesia memburuk sejak tahun 2024.

Di mana sekitar 44,02 persen mengalami keluhan kesehatan, 21,21 persen sudah terdiagnosis memiliki penyakit, dan 21,09 persen masih menjalani kebiasaan buruk seperti merokok.

Dari data itu, hanya sekitar 31 pesen lansia yang melakukan rawat jalan dengan rutin ke rumah sakit, lima persen rawat inap, dan 52 persen memilih untik mengobati diri sendiri entah membeli obat di warung atau apotek tanpa anjuran dari dokter.

Sementara sisa 12 persennya lagi, memilih cara berbeda.

Baca juga: Kerja Sampai Tua, Kala Pensiun Hanya Mimpi bagi Sebagian Lansia

Lansia mengobati diri sendiri

Dokter Geriatri dari Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur, Ika Fitriana, mengatakan sekitar 50 persen lansia lebih memilih untuk mengobati diri sendiri, sebelum pergi berobat ke dokter.

"Berdasarkan BPS 2023, angkanya konsisten sesuai dengan pengeluaran rumah tangga, yaitu makin kecil pengeluaran rumah tangga, makin cenderung lansia mengobati dirinya sendiri," ucap Ika ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (11/6/2026).

Namun, pada kelompok dengan pengeluaran rumah tangga teratas pun angka lansia mengobati diri sendiri tetap cukup besar.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Bagi Ika, temuan tersebut sangat menarik, karena artinya apapun tingkat ekonominya, lansia di Indonesia memang lebih senang mengobati diri sendiri, sehingga tidak murni karena terhambat biaya saja.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Pembacokan Pelajar di Palmerah, Pelaku Nangis saat Digiring ke Kantor Polisi
• 17 jam lalugrid.id
thumb
Pria di Banyumas Bunuh Wanita Selingkuhan dan Neneknya, Jasad Dibuang ke Sumur
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Berulang Pejabat Negara Terjerat Dugaan Korupsi,  Wabup Indramayu jadi Tersangka
• 18 jam lalukompas.id
thumb
Tahun Ke-43 Radio Suara Surabaya dan Johan Silas
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Gandeng Blibli, Bank Jakarta Hadirkan Engagement Store di Jakarta Fair 2026
• 4 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.