(Oleh: Igor Dirgantara, Dosen Fisip Universitas Jayabaya)
ANEH, justru ketika Presiden Prabowo Subianto lebih memperhatikan dan memprioritaskan rakyat kecil, serangan negatif justru datang bertubi-tubi ke arah mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) ini. Seolah cibiran dan kritik selalu akrab dengannya.
Prabowo pernah kalah pemilihan presiden (Pilpres) 3 kali (2009, 2014, 2019), tetapi tetap setia di jalur demokrasi konstitusional lewat Pemilu. Kemenangan Prabowo di Pilpres kemarin adalah buah dari perjuangan dan kegigihannya, bukan karena bantuan dan pengaruh bapaknya.
Salah satu program utamanya sebagai Presiden adalah mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi mandiri, terhindar dari bangsa kacung. Terpilih sebagai Presiden pada Pemilu 2024 lalu, menjadikannya leluasa fokus kepada program untuk kepentingan rakyat miskin.
Salah satunya adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah menjangkau 62 juta penerima manfaat guna meminimalisir stunting dan mal nutrisi anak-anak dan ibu hamil di lapisan bawah. Program MBG juga berhasil menciptakan lapangan kerja yang menyerap 1,3 juta tenaga kerja di berbagai daerah di Indonesia.
Tak hanya itu, korupsinya pun diberantas lewat Kejaksaan Agung (Kejagung). Saat ini, presiden Prabowo justru berupaya memperkuat ketahanan pangan, mencegah kebocoran, menjaga aset strategis nasional, dan mendorong Indonesia bisa lebih mandiri.
Lalu kenapa Prabowo justru menuai banyak tekanan?




