Sedikitnya Rp 30 Triliun "Hot Money" di Lantai Bursa Berisiko Geser ke Meja Judi Piala Dunia 2026

kompas.id
15 jam lalu
Cover Berita

Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Utara tidak sekadar menghadirkan hiburan. Di balik gol dan gemuruh sorak-sorai penonton, ada dinamika likuiditas yang sedang dipertaruhkan.

Bagi pasar saham domestik yang sedang berjuang untuk pulih, Piala Dunia diprediksi memberikan dinamika bagi performa dan arus dana.

Di satu sisi, ada risiko kebocoran dana di dalam negeri serta magnet kuat dari megatren teknologi di panggung global. Di sisi lain, antusiasme masyarakat menikmati perhelatan empat tahunan ini bisa memberi berkah bagi pelaku usaha yang melantai di bursa.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam laporannya, Jumat (12/6/2026), menilai, pergelaran Piala Dunia kali ini membawa risiko kebocoran likuiditas domestik yang berpindah ke jalur nonproduktif.

Kiwoom Sekuritas Indonesia, memperkirakan, secara global, Piala Dunia 2026 memicu pertaruhan uang secara legal senilai 60 miliar dolar AS. Nilai ini meroket 71 persen dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar. Angka fantastis ini bahkan belum menghitung perputaran uang di pasar ilegal.

Demam judi bola juga diperkirakan terjadi di Indonesia, berkaca paca besarnya nilai transaksi judi online atau judi daring di Tanah Air. Menurut data 2025, nilai transaksi judi daring bisa menembus angka Rp 286,8 triliun.

Dari indikator tersebut, Liza memperkirakan, potensi dana domestik yang "terbang" ke judi bola selama turnamen berlangsung bisa mencapai Rp 30 triliun hingga Rp 60 triliun.

"Jika disandingkan, nilai tersebut setara dengan 40 persen hingga 70 persen dari total penjualan bersih investor asing (foreign net sell) di pasar saham kita sepanjang tahun berjalan," ujar Liza.

Baca JugaPiala Dunia dan Ledakan Ekonomi Global

Dana raksasa yang seharusnya bisa mengalir ke sektor konsumsi riil atau investasi produktif di pasar modal kini justru rawan menguap di meja taruhan.

Namun, seperti halnya sepak bola, selalu ada dua sisi dalam satu pertandingan. Jika Liza mengkhawatirkan kebocoran dana di tingkat makro, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, melihat adanya peluang gurih di tingkat mikro dan sektoral.

Menurutnya, perhelatan ini tetap membawa stimulus positif yang terukur bagi ekonomi domestik. "Aktivitas kumpul bersama atau nonton bareng (nobar) menjadi motor penggerak utama," kata David, kepada Kompas, Jumat (12/6/2026).

Ketika layar lebar dibentangkan, di situlah berkah mengalir bagi sektor barang konsumen (FMCG) dan ritel modern. Volume penjualan produk siap saji, camilan, dan minuman olahan atau Food and Beverages (F&B) dipastikan melonjak.

Di panggung Bursa Efek Indonesia (BEI), emiten dengan jaringan ritel menggurita seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dengan gerai swalayan Alfamart serta produsen makanan dengan kekuatan merek yang kuat seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) biasanya menjadi pemain paling agresif.

"Mereka umumnya memiliki strategi agresif melalui program promosi tematik untuk menangkap momentum ini," ujarnya.

Tak hanya urusan perut, Piala Dunia era digital ini juga mengalirkan berkah ke penyedia jaringan internet. Lonjakan pemirsa yang menyaksikan pertandingan lewat gawai masing-masing otomatis menggenjot lalu lintas data secara masif.

David menilai, dinamika ini memberikan dampak positif bagi emiten penyedia menara dan infrastruktur telekomunikasi seperti PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) karena tingginya kebutuhan peningkatan kapasitas jaringan.

BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya belum lama ini juga menilai dimulainya Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi sentimen positif bagi emiten yang memiliki eksposur pada layanan internet broadband dan platform streaming (OTT), seperti PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX).

TVRI menjadi pemegang hak siar Free to Air (FTA), sementara FolaPlay milik IRSX ditunjuk sebagai partner OTT resmi untuk layanan streaming digital.

Emiten IRSX berpeluang menikmati kenaikan jumlah pengguna, trafik streaming, dan engagement selama turnamen berlangsung. Adapun, emiten WIFI memanfaatkan peluang ini dengan menyediakan program bundling dengan FolaPlay.

Sektor lain yang berpotensi terdampak positif antara lain media dan penyiaran yang dapat menikmati kenaikan belanja iklan. Kemudian, emiten sektor FMCG dan F&B akan mengalami kenaikan permintaan makanan, minuman, dan layanan delivery saat ramai kegiatan nonton bersama.

Strategi cuan

Tim analis BRI Danareksa Sekuritas mengingatkan agar investor tetap perlu mencermati potensi aksi ambil untung dari berkah sentimen Piala Dunia yang berlangsung sementara.

"Beberapa saham terkait telah mengalami kenaikan sebelum turnamen dimulai," kata mereka.

David juga menyarankan agar momentum ini disikapi secara taktis karena dampaknya bersifat musiman dan jangka pendek.

"Strategi trading jangka pendek memanfaatkan emiten ritel atau media penyiaran adalah pilihan yang bijak," katanya.

Pasar pun biasanya sudah mulai mengantisipasi dan memperhitungkan sentimen ini sejak dua hingga tiga bulan sebelum pembukaan Piala Dunia 2026.

Namun, investor tetap harus waspada saat turnamen sudah berjalan karena harga saham cenderung memasuki fase konsolidasi atau rentan aksi ambil untung (sell on news). "Kecuali, jika data penjualan emiten di lapangan mampu melampaui ekspektasi," ujar David.

Faktor lain

Di luar riuhnya Piala Dunia, pasar saham Indonesia masih akan dihadapkan tantangan yang tidak kalah besar. Hal ini menurut para pengamat tetap harus diperhitungkan investor.

Di pekan kedua Juni 2026, IHSG telah membalik ke level 6.000 dari titik terendah tahun ini di 5.317. Namun demikian, arus dana asing keluar di pasar reguler telah menyentuh Rp 78 triliun sejak awal 2026.

Baca JugaSentimen Suku Bunga dan ”Buyback” Bawa Pasar Keuangan ke Zona Hijau

Liza menilai, ini berarti bahwa pemulihan pasar sejauh ini masih lebih banyak ditopang investor domestik dibanding kembalinya dana asing.

Dana asing kini terbelah. Selain karena pertaruhan di Piala Dunia, pasar saham lain juga masih jauh lebih menarik. Di bursa saham Amerika Serikat, New York Stock Exchange (NYSE), pada Jumat malam ini waktu Indonesia, perhatian para manajer investasi dunia tersedot ke aksi penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) perusahaan raksasa kedirgantaraan milik Elon Musk, SpaceX.

Debut perdananya berhasil menghimpun dana raksasa senilai 75 miliar dolar AS. Langkah ini menjadi IPO terbesar dalam sejarah dengan proyeksi valuasi mencapai 1,77 triliun dolar AS.

Investor dunia juga ikut mengantre untuk menyambut IPO perusahaan pelopor kecerdasan buatan (AI) seperti OpenAI dan Anthropic yang valuasinya diperkirakan mendekati 1 triliun dolar AS tahun ini.

Liza mengatakan, fenomena ini memperlebar jarak antara pasar teknologi global yang bergerak cepat dengan pasar modal Indonesia yang narasinya masih didominasi sektor konvensional seperti perbankan, komoditas, dan hilirisasi.

Magnet investasi baru di AS ini membuat likuiditas global cenderung bertahan di negara maju daripada mengalir ke pasar berkembang (emerging markets).

Di tengah kepungan sentimen global, ada dinamika domestik, termasuk aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta dan beberapa kota besar lain, Jumat (12/6/2026). Peristiwa ini, menurut Kiwoom Sekuritas, membuat pasar saham Indonesia tidak menghadapi ancaman yang mematikan.

Secercah harapan mulai terbit, meski akar persoalan utama Indonesia sejatinya masih berada pada tingginya premium risiko akibat pelemahan rupiah, ketidakpastian kebijakan, dan kekhawatiran tata kelola.

Langkah agresif Bank Indonesia (BI) dengam menaikkan suku bunga acuan BI hingga ke level 5,50 persen mulai berhasil menjinakkan rupiah kembali ke bawah level Rp 18.000 per dolar AS. Koordinasi antarregulator pun tampak semakin solid.

Kabar baiknya lagi, di saat kepercayaan investor jangka pendek belum sepenuhnya pulih, valuasi pasar saham Indonesia justru kembali ke area yang sangat murah secara historis, yakni pada kisaran price to earnings (PE) 13 hingga 14 kali.

Secara struktural, Indonesia bersama Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam tetap bertahan dalam kelompok "Fabulous Five" ASEAN yang diproyeksikan menjadi tujuan utama modal global dalam dua dekade ke depan.

Kini, perhatian pelaku pasar tertuju pada dua pekan ke depan. Pengumuman lembaga penyedia indeks saham global MSCI Market Accessibility Review pada 19 Juni dan FTSE Russell Rebalancing pada 22 Juni diharapkan bisa menjadi peluit pertanda dimulainya arus balik dana asing ke Tanah Air.

"Fase 'Sell Indonesia' berpotensi perlahan berubah menjadi fase akumulasi. Sebab dalam investasi, peluang terbesar sering kali muncul bukan ketika semua orang sudah yakin, melainkan ketika fundamental jangka panjang masih utuh tetapi kepercayaan jangka pendek belum sepenuhnya pulih," ujar Liza.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini Cara Live TikTok di Laptop, Panduan Menggunakan TikTok Live Studio dan OBS Studio
• 9 jam lalumedcom.id
thumb
Kejagung Sita 9 Bidang Tanah Milik Bos Smelter Terpidana Korupsi Timah
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Berkedok Arena Timezone, 2 Lokasi Judi di Jakarta Barat dan Jakarta Utara Digerebek Polisi
• 10 jam laludisway.id
thumb
Polisi Dalami Dugaan Ada Aktor Lain di Balik Pembawa Molotov ke Demo Mahasiswa
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Keren! 75 Persen Lulusan Sekolah Cendekia BAZNAS 2026 Lolos PTN Unggulan, Ini Kuncinya
• 13 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.