Dari Laut untuk Kehidupan: Tim Peneliti Universitas Ciputra Makassar Belajar Green Sustainability dari Kearifan Suku Bajo Wakatobi

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, WAKATOBI – Di tengah pesatnya diskursus global mengenai ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan, masyarakat adat Suku Bajo di Wakatobi telah lama mempraktikkan nilai-nilai keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai tersebut menjadi perhatian Tim Peneliti Universitas Ciputra Makassar saat melakukan kunjungan lapangan ke komunitas Suku Bajo pada 13 Juni 2026 sebagai bagian dari pelaksanaan penelitian “Green Sustainability UMKM: Transformasi Green Accountability, Green Economy Capability, dan Green Financial Innovation melalui Kolaborasi Quadruple Helix” yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui skema Penelitian Fundamental Reguler (PFR).

Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi agenda pengumpulan data penelitian, tetapi juga menjadi pengalaman langsung bagi tim peneliti untuk memahami bagaimana masyarakat Bajo membangun hubungan yang harmonis dengan laut sebagai sumber kehidupan utama mereka.

Sepanjang kunjungan, tim peneliti menyaksikan kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada laut, mulai dari aktivitas menangkap ikan, memelihara ikan di bawah kolong rumah panggung, hingga menjaga kawasan perairan agar tetap lestari. Bagi masyarakat Bajo, laut bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu pengalaman yang menarik perhatian tim peneliti adalah ketika masyarakat Bajo mengajak rombongan menikmati hasil tangkapan laut yang baru diperoleh. Ikan hasil pancingan yang masih hidup dan segar langsung dibersihkan kemudian diolah secara sederhana di atas perahu maupun di kawasan permukiman pesisir.

Suasana kebersamaan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Bajo menghargai hasil laut yang mereka peroleh sekaligus menunjukkan kedekatan emosional yang kuat dengan lingkungan tempat mereka hidup.

Ketua Tim Peneliti Universitas Ciputra Makassar, Dr. St. Salmah Sharon, SE., M.Si., Ak., CA., CSRS., CSRA, menjelaskan bahwa pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai makna keberlanjutan yang sesungguhnya.

“Kami tidak hanya melihat praktik ekonomi masyarakat, tetapi juga menyaksikan bagaimana mereka menghormati laut sebagai sumber kehidupan. Ketika hasil tangkapan yang masih hidup langsung diolah dan dinikmati bersama, terdapat nilai kesederhanaan, rasa syukur, dan tanggung jawab terhadap alam yang sangat kuat. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan konsep Green Accountability yang menjadi fokus penelitian kami,” ungkap Dr. Salmah Sharon.

Menurutnya, masyarakat Bajo telah menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu lahir dari konsep-konsep modern, melainkan dapat tumbuh dari budaya dan kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun.

“Kami menemukan bahwa masyarakat Bajo memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga laut karena mereka memahami bahwa keberlangsungan kehidupan mereka bergantung pada kesehatan ekosistem laut. Inilah bentuk nyata akuntabilitas lingkungan yang hidup dalam praktik keseharian masyarakat,” tambahnya.

Dalam kunjungan tersebut, tim peneliti juga mengamati keberadaan ikan-ikan yang dipelihara di bawah kolong rumah masyarakat Bajo. Praktik tersebut tidak hanya menjadi cadangan sumber pangan dan ekonomi keluarga, tetapi juga mencerminkan cara masyarakat memelihara hubungan yang berkelanjutan dengan sumber daya laut.

Tokoh Masyarakat Suku Bajo, Bapak Haji Udhin, menjelaskan bahwa laut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bajo.

“Laut adalah rumah kami. Dari laut kami hidup, membesarkan keluarga, dan mendidik anak-anak kami. Karena itu kami diajarkan sejak kecil untuk menjaga laut sebagaimana kami menjaga rumah kami sendiri. Jika laut rusak, maka kehidupan kami juga akan ikut rusak,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Bajo memiliki berbagai nilai adat yang mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan tidak mengambil sumber daya secara berlebihan.

“Kami mengambil hasil laut sesuai kebutuhan. Kami percaya bahwa apa yang diberikan oleh laut harus dijaga agar tetap ada untuk generasi berikutnya. Karena itu masyarakat Bajo selalu berusaha menjaga terumbu karang, tidak menggunakan cara-cara yang merusak, dan menghormati alam yang telah memberi kehidupan kepada kami,” tambahnya.

Sementara itu, anggota tim peneliti sekaligus pakar pengembangan sumber daya manusia dan peneliti Green Leadership, Dr. Mustika Kusuma Basir, S.Psi., M.M., CPS., CHCM., CODP, menilai bahwa praktik kehidupan masyarakat Bajo merupakan contoh nyata bagaimana kepemimpinan berbasis nilai dapat membentuk budaya keberlanjutan dalam sebuah komunitas.

“Apa yang kami lihat di komunitas Bajo menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu dibangun melalui regulasi formal. Nilai-nilai yang diwariskan oleh para tetua dan tokoh masyarakat telah membentuk kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan. Dalam perspektif Green Leadership, ini merupakan bentuk kepemimpinan sosial yang sangat kuat karena mampu menggerakkan masyarakat untuk bertindak demi kepentingan generasi masa depan,” jelas Dr. Mustika.

Menurutnya, keberhasilan Wakatobi dalam menjaga reputasinya sebagai salah satu kawasan konservasi laut dunia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi masyarakat lokal yang selama ini hidup berdampingan dengan alam.

“Keberlanjutan yang kami temukan di Wakatobi bukan hanya terlihat pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada praktik kehidupan masyarakatnya. Suku Bajo memberikan pelajaran berharga bahwa pembangunan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan dapat berjalan secara harmonis apabila didukung oleh nilai budaya yang kuat,” ungkapnya.

Bagi Tim Peneliti Universitas Ciputra Makassar, kunjungan ke komunitas Suku Bajo menjadi salah satu bukti bahwa kearifan lokal memiliki kontribusi besar dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. Nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Bajo dinilai sangat relevan untuk memperkaya model Green Sustainability UMKM yang sedang dikembangkan, khususnya dalam membangun konsep akuntabilitas lingkungan, kapabilitas ekonomi hijau berbasis komunitas, dan inovasi keberlanjutan yang berakar pada budaya lokal.

Melalui penelitian ini, tim peneliti berharap praktik-praktik baik yang ditemukan di Wakatobi dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan UMKM berkelanjutan di berbagai daerah Indonesia. Di tengah berbagai tantangan lingkungan global, masyarakat Suku Bajo menunjukkan bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari cara hidup yang diwariskan dan dijaga bersama. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Dalami Laporan Kasus Kucing Noci, Penyidik Klarifikasi Sejumlah Saksi
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Video: Perluas Pasar di Indonesia, Motor Premium Incar Pembeli Royal
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Malaysia Lirik Rusia dan Turki untuk Diversifikasi Pasokan Minyak
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
HUT Ke-499 Jakarta, Warga Ber-KTP DKI Gratis Masuk Ancol Selama Tiga Hari
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Kemenhaj: 69.388 Jamaah Haji Tiba di Tanah Air
• 23 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.