JAKARTA, KOMPAS — Ancaman kekeringan mulai meluas di beberapa wilayah Indonesia seiring musim kemarau 2026 yang beriringan dengan El Nino. Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB melaporkan sedikitnya tiga kabupaten di Pulau Jawa mengalami krisis air bersih, sementara kebakaran hutan dan lahan kian meluas.
Dalam laporan perkembangan bencana yang dikeluarkan pada Sabtu (13/6/2026), BNPB mencatat kekeringan terjadi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, serta Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bogor di Jawa Barat. Total lebih dari 1.600 warga terdampak akibat berkurangnya ketersediaan air bersih.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, di Kabupaten Cilacap, sebanyak 518 jiwa terdampak kekeringan terjadi di Desa Kedungbenda dan Desa Karangkemiri. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah menyalurkan 10.000 liter air bersih kepada warga.
Sementara di Kabupaten Karawang, sebanyak 372 jiwa di Desa Kutalanggeng, Kecamatan Tegalwaru, mengalami kesulitan memperoleh air bersih. BPBD Karawang mengerahkan dua mobil tangki berkapasitas total 10.000 liter untuk memenuhi kebutuhan warga.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Bogor. Sebanyak 734 jiwa di Desa Gunung Sari dan Desa Parakan Muncang terdampak kekeringan. BPBD Kabupaten Bogor menyalurkan 5.000 liter air bersih dan mengisi toren serta penampungan air milik warga.
Selain kekeringan, Muhari juga melaporkan kebakaran lahan perkebunan seluas 2 hektar di Desa Alur Cincin, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Jumat (12/6/2026) sore. Api berhasil dipadamkan dalam waktu sekitar satu jam menggunakan dua unit armada pemadam kebakaran. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
Sebanyak 734 jiwa di Desa Gunung Sari dan Desa Parakan Muncang terdampak kekeringan.
Peringatan terhadap ancaman musim kemarau juga datang dari Aceh. Pantau Gambut melaporkan lonjakan drastis titik panas di kawasan gambut Rawa Tripa, bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, tercatat 2.715 titik panas di seluruh Provinsi Aceh. Kabupaten Aceh Selatan mencatat jumlah tertinggi dengan 918 titik panas, disusul Aceh Barat sebanyak 740 titik dan Nagan Raya sebanyak 528 titik.
Yang paling mengkhawatirkan adalah Kabupaten Nagan Raya. Jumlah titik panas di wilayah ini meningkat 43 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencatat 12 titik panas.
Pantau Gambut menilai lonjakan tersebut berkaitan dengan terus berlangsungnya pembukaan lahan ilegal dan pengeringan gambut melalui pembangunan kanal. Pada Maret 2026, aparat kepolisian menemukan dua ekskavator yang digunakan untuk aktivitas perambahan di kawasan Rawa Tripa.
Manajer Legal dan Advokasi Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) Muhammad Fahmi menyebut, kebakaran hutan dan lahan kronis di Rawa Tripa sebagai bukti kegagalan pencegahan yang berlangsung bertahun-tahun. ”Jika siklus kebakaran ini terus dibiarkan, yang hilang bukan hanya lahan, melainkan fungsi ekosistem yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat Aceh,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Penegakan Hukum Auriga Nusantara Roni Saputra menilai, pemerintah perlu beralih dari pendekatan pemadaman menjadi penindakan terhadap aktor utama perusakan lingkungan.
Meningkatnya kejadian kekeringan dan karhutla berlangsung ketika berbagai lembaga iklim regional memperingatkan kemungkinan berkembangnya El Nino dalam beberapa bulan ke depan. Dalam buletin ASEAN Climate Outlook yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 10 Juni 2026, para ahli iklim ASEAN menyatakan pemanasan yang terus berlangsung di kawasan Nino dan sejumlah indikator atmosfer menunjukkan perkembangan kondisi mirip El Nino.
Mayoritas model iklim internasional memprediksi El Nino moderat akan berkembang pada periode Juni-Agustus 2026 dan berpotensi menguat menjadi El Nino kuat hingga sangat kuat pada akhir tahun. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah Maritim Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. BMKG meminta pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak El Nino yang terjadi bersamaan dengan kemarau.
Selain penurunan curah hujan, suhu udara di sebagian besar Asia Tenggara juga diprediksi berada di atas normal selama musim kemarau tahun ini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. BMKG meminta pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak El Nino yang terjadi bersamaan dengan kemarau.
Menghadapi kombinasi ancaman kekeringan, karhutla, dan cuaca ekstrem, BNPB meminta pemerintah daerah meningkatkan pemantauan sumber air, kondisi tanggul, aliran sungai, serta patroli di wilayah rawan kebakaran.
Muhari meminta masyarakat menghemat penggunaan air selama musim kemarau dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan. Di daerah rawan banjir, warga diimbau terus memantau prakiraan cuaca dan segera melakukan evakuasi apabila terjadi hujan lebat berkepanjangan.
Perkembangan kekeringan yang mulai muncul di Jawa, lonjakan titik panas di Aceh, serta prediksi menguatnya El Nino menjadi sinyal bahwa Indonesia memasuki periode kritis yang memerlukan kesiapsiagaan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Jika langkah pencegahan tidak diperkuat sejak awal musim kemarau, ancaman krisis air dan kebakaran hutan berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.





